PESTA KERAHIMAN ILAHI

Gereja penuh dengan suka cita. Itulah sebabnya ada banyak perayaan pesta dalam kalender Liturgi Gereja Katolik. Salah satunya adalah Pesta Kerahiman Ilahi. Mengapa perlu Pesta Kerahiman Ilahi? Bukankah Ekaristi sudah merupakan puncak perayaan umat beriman? Apakah itu Pesta Kerahiman Ilahi?

Pesta Kerahiman Ilahi adalah perayaan dari kegenapan cinta Allah yang maha rahim. Pesta ini merupakan kulminasi tertinggi atau puncak dari rencana Tuhan untuk memberi belas kasih untuk semua orang. Supaya Ia dapat menunjukkan kemurahanNya atas mereka semua). Bahkan semua elemen unsur dari devosi kepada kerahiman Illahi ini berfokus pada pesta Kerahiman Ilahi. Setelah ada pengulangan janji Baptis pada hari raya Paskah , maka kita bisa menerima rahmat yg besar yaitu pembebasan dari dosa dan hukuman setelah kita menerima sakramen tobat dan menerima komuni pada Pesta Kerahiman Ilahi.

Pada saat Pesta Kerahiman Ilahi, gambar Kerahiman Ilahi juga diberkati dan dihormati secara meriah untuk mengingatkan kita untuk percaya penuh pada Yesus dan memampukan kita untuk berbuat belas kasih. Pesta ini dipersiapkan dengan sebuah novena (9 hari berturut-turut sejak hari Jumat Agung) yang intinya adalah mendaraskan Koronka kepada Kerahiman Ilahi.

Mari kita mulai dengan apa itu Pesta Kerahiman Ilahi berdasarkan pengalaman-pengalaman Suster Faustina yang dituangkan dalam buku hariannya.

5 November 1934. Pada Suatu pagi, sesudah membuka gerbang untuk membiarkan masuk orang-orang kami yang mengantar makanan, aku masuk ke kapel kecil untuk mengunjungi Yesus sejenak dan untuk membarui niat-niatku hari ini. “Ya Yesus, hari ini aku mempersembahkan kepadaMu semua penderitaan, mati raga dan doa-doaku untuk Bapa Suci supaya ia dapat mengesahkan Pesta Kerahiman. Tetapi, ya Yesus, aku mempunyai satu kata lagi untuk kusampaikan kepada-Mu :” aku sangat heran bahwa Engkau meminta aku berbicara tentang Pesta Kerahiman ini karena orang berkata bahwa pesta seperti itu sudah ada, karena itu, mengapa aku harus berbicara mengenai hal ini ?” Dan Yesus berkata kepadaku, “Tetapi, siapa yang tahu itu? Tidak seorang pun! Bahkan mereka yang seharusnya memaklumkan kerahiman-Ku dan mengajar umat mengenai kerahiman-Ku sering kali tidak mengetahui hal ini. Itulah sebabnya Aku menghendaki gambar itu diberkati secara meriah pada Hari Minggu Pertama sesudah Paskah, dan Aku menghendaki gambar itu dihormati secara publik supaya setiap jiwa dapat mengenalnya.” “Lakukanlah novena untuk ujud-ujud Bapa Suci. Novena ini hendaknya mencakup tiga puluh tiga doa; yakni pengulangan sebanyak itu doa singkat kepada Kerahiman Ilahi – yang telah Kuajarkan kepadamu “ (BHF 341).

Minggu, 28 April 1938. Minggu Putih, yakni Pesta Kerahiman Ilahi, penutupan Yubileum Penebusan. Ketika kami pergi untuk ambil bagian dalam perayaan, hatiku melompat kegirangan karena dua perayaan dipadukan begitu erat. Aku memohon kepada Allah kerahiman bagi jiwa orang-orang berdosa. Menjelang akhir ibadat ketika imam mengambil Sakramen Mahakudus untuk memberkati umat, aku melihat Tuhan Yesus seperti tampak dalam gambar itu. Tuhan memberikan berkatNya, dan kedua sinar itu menyinari seluruh dunia. TIba-tiba, aku melihat suatu cahaya cemerlang yang tak tertembus dalam bentuk suatu tempat tinggal kristal, yang dirajut dari gelombang cahaya yang tak terhampiri (175 ) baik oleh ciptaan apapun maupun oleh roh. Ada tiga pintu menuju cahaya itu. Pada saat itu, Yesus, sebagaimana terlukis dalam gambar, memasuki cahaya itu melalui pintu kedua menuju Sang Esa yang ada di dalam. Itulah Sang Esa yang Tritunggal, yang tak dapat dipahami – yang tak terbatas. Tiba-tiba aku mendengar suatu suara, “Pesta ini muncul dari lubuk kerahiman-Ku sendiri, dan dikukuhkan dalam lubuk kerahiman-Ku yang besar. Setiap jiwa yang percaya dan berharap pada kerahiman-Ku akan menerimanya.” Sukacitaku meluap-luap karena kebaikan dan keagungan Allahku yang luar biasa itu. (BHF 420)

Yesus, memberitahukan kepadaku bahwa kalau aku ragu-ragu mengenai Pesta Kerahiman dan pendirian Kongregasi itu – “Atau mengenai semua hal lain yang sudah Aku katakan dalam lubuk jiwamu, maka akan segera Kujawab lewat mulut imam ini. “ (BHF 463)

Seluruh kehampaanku terbenam dalam Samudra kerahiman-Mu. Dengan kepercayaan seorang anak, aku menghempaskan diriku ke dalam pelukan-Mu, ya Bapa Kerahiman, untuk menjadi kurban penyilihan atas begitu banyak jiwa yang tidak percaya, yang takut untuk mempercayai Engkau. Oh, betapa sedikitnya jiwa yang sungguh mengenal Engkau! Betapa bernyala-nyala keinginanku agar Pesta Kerahiman dikenal oleh jiwa-jiwa! Kerahiman adalah mahkota karya-Mu; Engkau memperlengkapi semua orang dengan kasih seorang ibu yang sangat mesra (BHF 505).

Pada suatu kesempatan, aku melihat Yesus dalam pakaian yang cemerlang; ini terjadi di rumah kaca ( Ia berkata kepadaku ) “Tuliskanlah apa yang Ku-katakan kepadamu. KesukaanKu adalah bersatu denganmu. Dengan kerinduan yang amat besar, Aku menantikan dan mendambakan saat ketika Aku akan membangun tempat tinggalKu secara sakramental di dalam biaramu. Rohku akan beristirahat dalam biara itu dan Aku akan memberkati lingkungan sekitarnya secara istimewa. Demi cintaKu kepada engkau semua, Aku akan mencegah setiap hukuman yang dengan adil dijatuhkan oleh keadilan BapaKu. PutriKu, Aku telah menundukkan HatiKu untuk menerima permohonan-permohonanmu. Misi dan tugasmu di bumi ini adalah memohon kerahiman bagi ( 40 ) seluruh dunia. Tidak satu jiwa pun akan dibenarkan sebelum ia berpaling kepada kerahiman-Ku dengan penuh kepercayaan. Inilah sebabnya Hari Minggu pertama sesudah paskah harus dirayakan sebagai Pesta Kerahiman. Pada hari itu, para imam harus memberitahukan kepada setiap orang kerahiman-Ku yang agung dan tak terselami. Aku menjadikan engkau pembagi KerahimanKu. Katakan kepada Bapak pengakuanmu bahwa Gambar ( Kerahiman Ilahi ) itu harus dipajang di gereja, bukan dalam klausura di biara itu. Melalui Gambar itu, Aku akan memberikan banyak rahmat kepada jiwa-jiwa; oleh karena itu biarlah setiap jiwa mendapat kesempatan untuk menghampirinya.” (BHF570)

“Katakanlah, PutriKu, bahwa Pesta kerahiman-Ku itu telah muncul dari lubuk hati-Ku sendiri untuk memberikan penghiburan kepada seluruh dunia. “ (BHF1517)

A. Pesta Kerahiman Ilahi Adalah Peristiwa Rahmat

Pesta Kerahiman ilahi adalah sebutan untuk Minggu kedua Paskah. Nama ini diberikan oleh Bp Paus Yohanes Paulus ke II pada waktu kanonisasi Suster Faustina pada tanggal 30 April 2000 di Vatikan Roma. Bapa Paus menjelaskan tentang Pesta Kerahiman Ilahi ini sebagai berikut: diadakan pada hari kedelapan dari Paskah yang membawa kita semua pada kepenuhan rahmat kebangkitan Tuhan Yesus. Pesta Kerahiman Ilahi juga menjadi puncak dari semua misteri dan rahmat di sepanjang Pekan Suci dan hari Paskah. Ini seperti tampilan beberapa peristiwa seperti Kamis Putih, Jumat Agung, hari Raya Paskah dan Minggu Pertama masa Paskah, Yesus yang sudah bangkit dan sinar kebangkitan Yesus . Atau bisa juga yang menyinari kita semua melalui dua lautan sinar sinar kerahiman, dan melambangkan kemenangan atas dosa dan kematian dan kuasa jahat.

Pesta Kerahiman Ilahi merupakan kulminasi tertinggi atau puncak dari rencana Tuhan untuk memberikan belas kasih kepada semua orang. Pesta Kerahiman Ilahi ini menduduki peringkat paling tinggi di antara semua unsur dalam Devosi Kerahiman Ilahi

Kenyataannya Tuhan menyatakan beberapa penyataan kepada Suster Faustina tentang belas kasih-Nya, termasuk adanya “banjir rahmat yang tersedia untuk mereka semua pada hari itu, terutama untuk para pendosa – “PutriKu, katakanlah kepada dunia tentang KerahimanKu yang tak terselami. Aku ingin agar Pesta Kerahiman ini menjadi tempat pengungsian dan pernaungan bagi semua jiwa, khususnya bagi para pendosa yang malang. Pada hari itu, terbukalah lubuk Kerahiman-Ku, dan Aku meluapkan seluruh samudra rahmat ke atas jiwa jiwa yang menghampiri sumber kerahiman-Ku. Jiwa yang mengaku dosa dan menyambut komuni kudus akan menerima pengampunan penuh atas dosa dosanya dan akan bebas dari hukuman. Pada hari itu, akan terbukalah semua pintu bendungan ilahi untuk mengalirkan rahmat. Janganlah ada jiwa yang takut menghampiri Aku meskipun dosa dosanya laksana kain yang merah padam. Kerahiman-Ku begitu besar sehingga sampai kekal tidak ada otak manusia atau malaikat yang dapat menyelaminya. Segala sesuatu yang ada muncul dari pangkuan kerahiman-Ku yang paling mesra. Setiap jiwa yang menjalin hubungan dengan Aku akan merenungkan kasih dan kerahiman-Ku sepanjang segala masa. Pesta Kerahiman Ilahi berasal dari kedalaman kemesraan-Ku sendiri. Aku ingin supaya pesta itu dirayakan secara meriah pada hari minggu pertama sesudah Paskah. Umat manusia tak mungkin merasa tentram sebelum berpaling kepada sumber kerahiman-Ku.”

Pemilihan Hari Minggu pertama sesudah Paskah untuk Pesta Kerahiman memiliki makna teologis yang sangat mendalam, yang menunjukkan hubungan erat antara Misteri Paskah Tuhan dengan Penebusan dan misteri Kerahiman Ilahi. Hubungan intetgral ini selanjutnya ditekankan dalam Novena Koronka kepada Kerahiman Ilahi yang dimulai pada Jumat Agung sebagai suatu persiapan untuk Pesta Kerahiman.

Mengingat Pesta Kerahiman Ilahi dilaksanakan dalam suasana Perayaan Paskah, apakah liturgi Pesta Kerahiman Ilahi ada kaitannya dengan liturgi paskah juga? Paskah adalah perayaan kebangkitan Tuhan. Pesta Kerahiman Ilahi juga selain tentang Yesus yang bangkit tetapi juga tentang mata air kerahiman yang mengalir dari hati-Nya yang maha kudus. Jadi, keduanya tentu saja saling terkait.

Apakah Pesta Kerahiman ilahi merubah liturgi yang ada yang sudah diatur untuk Minggu Paskah kedua? Tidak ada yang dirubah, baik bacaan liturginya juga sama; hanya saja sekarang lebih difokuskan pada Kerahiman Ilahi. Sekarang nama Minggu Paskah Kedua sudah resmi menjadi Pesta Kerahiman Ilahi. Kenyataannya minggu Kerahiman Ilahi ini membawa kepenuhan dari misteri Paskah yang kita rayakan pada hari raya Paskah. Liturgi hari itu menjadi puji-pujian bagi misteri kerahiman-Nya.

B. Mengapa Kita Perlu Merayakan Pesta Kerahiman Ilahi?

Karena saya dan Anda, kita semua adalah manusia berdosa. Kita semua tanpa terkecuali membawa dosa dalam kehidupan sehari-hari, entah dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan. Dosa itu pula yang kita akui setiap kali kita memulai perayaan Ekaristi. Itulah sebabnya kita perlu menghadiri Pesta Kerahiman Ilahi.

Pesta Kerahiman Ilahi membawa kita semua pada janji Tuhan bahwa akan ada lautan kerahiman untuk jiwa-jiwa khususnya untuk para pendosa. Mengingat setiap dari kita adalah pendosa, maka sudah pasti membutuhkan rahmat dari kebangkitan Yesus – untuk memusnahkan segala dosa kita. Bahkan mereka yang ingin hidup suci pun tetap membutuhkan pengampunan dosa dan niat untuk hidup baru.

Dosa adalah memang masalah kita di dunia ini, tetapi Kerahiman Ilahi adalah jawaban. Dan sekarang kita mempunyai hari yang istimewa di mana kita akan menerima rahmat belas kasih yang tidak terbatas. Dengan menghadiri Pesta Kerahiman Ilahi, kita ingin menjawab undangan Tuhan yang telah menetapkan bahwa Minggu pertama sesudah Paskah perlu menjadi Pesta Kerahiman.

Pesta Kerahiman merupakan masa yang penuh rahmat bagi semua orang: “Aku ingin agar Pesta Kerahiman ini menjadi tempat pengungsian dan pernaungan bagi semua jiwa, khususnya bagi para pendosa yang malang” (BHF 699).

Dengan menghadiri Pesta Kerahiman kita berharap untuk memperoleh keselamatan: “Kepada mereka Aku memberikan harapan terakhir untuk selamat … Kalau mereka tidak mau memuliakan Kerahiman-Ku, mereka akan binasa untuk selama-lamanya” (BHF 965. 998).

Kita diberi janji untuk menerima pengampunan dosa: “Barangsiapa, pada hari ini, menghampiri Sumber Kehidupan ini, ia akan menerima pengampunan penuh atas dosa-dosanya dan dibebaskan dari hukuman” (BHF 300).

C. Kapan Kita Mengikuti Pesta Kerahiman?

Seperti diperintahkan oleh Tuhan Yesus kepada Suster Faustina, kita dapat mengikuti Pesta Kerahiman pada hari Minggu Kedua sesudah Paskah. “Ketika aku menyampaikan hal ini kepada bapak pengakuanku, aku mendapat jawaban ini. Hari itu dimaksudkan untuk jiwamu. Ia berkata kepadaku, ‘jelasnya, lukislah gambar Allah di di dalam jiwamu’. Ketika aku keluar dari kamar pengakuan, sekali lagi aku mendengar suara seperti ini, ‘GambarKu sudah ada di dalam jiwamu. Aku merindukan adanya Pesta Kerahiman. Aku menghendaki gambar yang akan engkau lukis dengan kuas itu diberkati secara meriah pada Minggu pertama sesudah Paskah; hari itu menjadi Pesta Kerahiman” (BHF 49). Dengan alasan apa pun, Pesta Kerahiman Ilahi tidak bisa diubah ke hari lain.

D. Siapa yang Perlu Menghadiri Pesta Kerahiman Ilahi?

Yang perlu menghadiri Pesta Kerahiman adalah semua Umat Allah, terutama umat yang merindukan kerahiman Tuhan dalam hidupnya, yang merindukan tempat pengungsian bagi jiwanya yang berdosa, yang menjadikan Allah sebagai harapan terakhir untuk keselamatan jiwanya, yang merindukan pengampunan penuh atas dosa-dosanya;

E. Untuk siapa kita menghadiri Pesta Kerahiman Ilahi?

Pertama-tama untuk jiwa-jiwa yang kita doakan selama Novena Kerahiman Ilahi (ingat kembali ujud-ujud yang kita sampaikan dalam 9 hari Novena kita), dan juga untuk keselamatan jiwa kita sendiri.
Hari 1 : Seluruh umat manusia, khususnya orang-orang berdosa.
Hari 2 : Para imam dan kaum religius.
Hari 3 : Jiwa-jiwa yang saleh dan setia.
Hari 4 : Orang-orang tidak beriman dan mereka yang belum mengenal Yesus.
Hari 5 : Jiwa orang-orang sesat dan memisahkan diri dari Gereja.
Hari 6 : Jiwa-jiwa yang lemah lembut dan rendah hati serta jiwa anak-anak.
Hari 7 : Jiwa-jiwa yang secara khusus menghormati dan memuliakan Kerahiman Ilahi.
Hari 8 : Jiwa-jiwa yang dipenjarakan di Purgatorium (Api Penyucian).
Hari 9 : Jiwa-jiwa yang suam-suam kuku.

F. Sikap yang benar dalam mengikuti Pesta Kerahiman Ilahi

Untuk memetik manfaat dari karunia-karunia agung itu perlu dipenuhi syarat-syarat devosi Kerahiman Ilahi, yaitu mengandalkan kebaikan Allah dan aktif mengasihi sesama, kita harus berada dalam keadaan rahmat pengudus, yaitu pergi ke pengakuan dosa, dan dengan demikian dipantaskan menerima komuni kudus.

“Pada hari itu, para imam perlu memberitahukan kepada setiap orang kerahiman-Ku yang agung dan tak terselami” (BHF 570). Dalam kondisi kudus itu kita dilayakkan untuk mengikuti perjamuan kudus dalam Pesta Kerahiman Ilahi. Sesungguhnya kondisi ini dilandasi oleh sikap penyesalan yang mendalam atas dosa-dosa kita sebagai manusia.

Sikap yang pantas untuk Pesta ini tentunya juga sikap penuh pengharapan dan kerinduan akan kerahiman Allah. Karena dalam Pesta ini, Allah mencurahkan kerahimanNya sebesar-besarnya kepada umat manusia.

Mengingat momen Pesta Kerahiman Ilahi adalah momen di mana umat menerima indulgensi penuh yang dikuasakan kepada Gereja, kita harus serius mengikuti tahapan Pesta Kerahiman Ilahi dari sejak persiapannya, mengikuti Novena dan Perayaan Pesta Kerahiman Ilahi itu sendiri.

 

M.Sriyanto