NOVENA KERAHIMAN ILAHI

1. Apa itu Novena?

Banyak orang Katolik masih bertanya: “Apa itu doa novena?” Doa Novena adalah doa pribadi atau doa bersama selama sembilan hari berturut-turut yang dipanjatkan guna mendapatkan suatu rahmat khusus atau permohonan khusus. Novena berasal dari kata Latin “novem” yang artinya “sembilan.”

Sulit ditentukan dengan tepat, asal mula doa novena sebagai bagian dari harta rohani Gereja. Perjanjian Lama tidak mencatat adanya perayaan selama sembilan hari di kalangan bangsa Yahudi. Dalam Perjanjian Baru,pada peristiwa Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga, Tuhan memberikan perutusan agung kepada para rasul, dan kemudian menyuruh mereka untuk kembali ke Yerusalem dan menunggu datangnya Roh Kudus (Kis 1:12.14). Sembilan hari sesudahnya, Roh Kudus turun atas para rasul pada hari Pentakosta. Kemungkinan “periode doa sembilan hari” yang dilakukan oleh para rasul inilah yang menjadi dasar dari doa novena sekarang ini.

Apakah doa novena harus dilakukan sembilan kali berturut-turut dengan waktu yang sama? Untuk disebut doa novena kalau didoakan sembilan kali (hari) berturut-turut. Mengenai jam: tidak ada ketentuan. Perlu diketahui juga bahwa doa novena adalah satu devosi, bukan liturgi resmi, maka tidak ada peraturan resmi dan terinci dari Gereja.

2. Novena Kerahiman Ilahi

Ada banyak Novena, salah satunya adalah NOVENA KERAHIMAN ILAHI. Novena ini diperintahkan oleh Yesus kepada Suster Faustina. Inilah kata-kata Yesus kepada Suster Faustina: “Aku menghendaki agar selama sembilah hari ini engkau membawa jiwa-jiwa ke mata air kerahiman-Ku supaya mereka menimba dari sana kekuatan dan kesegaran serta rahmat apa pun yang mereka butuhkan dalam menghadapi kerasnya hidup dan, khususnya, pada saat kematian. Setiap hari, hendaknya engkau mengantar sekelompok jiwa yang berbeda kepada hati-Ku. Hendaknya engkau membenamkan mereka di dalam lautan kerahiman-Ku, dan Aku akan membawa semua jiwa ini masuk ke rumah Bapa-Ku. Engkau akan melakukan ini dalam kehidupan ini dan dalam kehidupan yang akan datang. Aku tidak akan menolak apa pun dari jiwa yang engkau bawa ke mata air kerahiman-Ku. Demi kekuatan Sengsara-Ku yag pedih, setiap hari hendaknya engkau minta kepada Bapa-Ku rahmat bagi jiwa-jiwa ini” (BHF 1209).
Yesus menyuruh Faustina melakukan novena ini menjelang Pesta Kerahiman Ilahi dan dimulai pada Hari Jumat Agung. Maka, Faustina memulai novena itu, seperti diperintahkan Tuhan, dengan ujud supaya seluruh dunia bertobat dan mengenal Kerahiman Ilahi “ … sehingga setiap jiwa akan memuji kebaikan-Ku. Aku menginginkan kepercayaan dari segala ciptaan-Ku.Doronglah jiwa-jiwa untuk menaruh kepercayaan yang besar kepada kerahiman-Ku yang tak terbatas. Biarlah jiwa yang lemah, yang berdosa tidak takut menghampiri Aku sebab kalau pun dosanya lebih banyak daripada butir pasir di seluruh bumi, semua itu akan tenggelam dalam lubuk kerahiman-Ku yang tak terhingga” (BHF 1059).

3. Jiwa yang harus dibawa kepada Tuhan Yesus

Karena Faustina tidak tahu bagaimana melaksanakan Novena tersebut dan jiwa-jiwa mana yang harus terlebih dulu dibawa kepada Hati Yesus, maka Yesus memberi jawaban. Jiwa-jiwa yang harus dibawa kepada Yesus:
Hari 1 : Seluruh umat manusia, khususnya orang-orang berdosa.
Hari 2 : Para imam dan kaum religius.
Hari 3 : Jiwa-jiwa yang saleh dan setia.
Hari 4 : Orang-orang tidak beriman dan mereka yang belum mengenal Yesus.
Hari 5 : Jiwa orang-orang sesat dan memisahkan diri dari Gereja.
Hari 6 : Jiwa-jiwa yang lemah lembut dan rendah hati serta jiwa anak-anak.
Hari 7 : Jiwa-jiwa yang secara khusus menghormati dan memuliakan Kerahiman Ilahi.
Hari 8 : Jiwa-jiwa yang dipenjarakan di Purgatorium (Api Penyucian).
Hari 9 : Jiwa-jiwa yang suam-suam kuku.

4. Mengapa harus membawa mereka kepada Tuhan Yesus?

Hari 1 : Suluruh umat manusia, khususnya orang-orang berdosa.

Yesus berkata kepada Suster Faustina:
“Hari ini, bawalah kepada-Ku seluruh umat manusia, khususnya orang-orang berdosa dan benamkanlah mereka ke dalam samudra kerahiman-Ku. Dengan cara ini, engkau akan menghibur Aku dalam jurang kepedihan yang disebabkan oleh hilangnya jiwa-jiwa” (BHF 1210).

Mengapa harus berdoa bagi semua manusia, khususnya orang-orang berdosa?
1) Dosa itu sungguh menjijikkan. Faustina merasakan hal tersebut dalam jiwanya. Hati manusia menjadi tempat beristirahatnya Tuhan, tetapi kalau hati manusia tercemari oleh dosa, maka Tuhan terhempas dari manusia yang berdosa tersebut (BHF 866).
2) Dosa itu sungguh keji dan mengerikan, walau pun dosa itu yang paling kecil sekalipun. Dan dosa sangat menyiksa jiwa Yesus. Karena hal tersebut, Faustina menuliskan: “Aku lebih senang menderita seribu neraka daripada melakukan dosa ringan yang paling ringan sekali pun” (BHF 1016).
3) Dosa membuat banyak luka pada hati Yesus, karena makhluk yang celaka itu tidak mau menerima kerahiman Allah (BHF 1274).

Namun sungguh luarbiasa Tuhan. Kerahiman-Nya tanpa batas. Ia meminta agar Faustina, dan kita, membawa jiwa-jiwa yang berdosa ini untuk dibenamkannya ke dalam samudra kerahiman Tuhan. Maka bagi orang-orang yang mau mengakui dosa-dosanya dan sungguh bertobat:
1) Tidak perlu takut menghampiri kerahiman Tuhan. Nyala kerahiman Tuhan akan dicurahkan kepada jiwa-jiwa itu (BHF 50.1396).
2) “Dan kalaupun dosa-dosa suatu jiwa tampak hitam seperti malam kelam, apabila pendosa itu berpaling kepada kerahiman-Ku, ia akan mempersembahkan pujian yang paling besar kepada-Ku, … (BHF 378).
3) Semakin berat kejahatan pendosa, semakin besar haknya untuk mendapatkan kerahiman Allah (BHF 423).
4) “Para pendosa yang paling jahat menaruh harapan mereka pada kerahiman-Ku. … mereka memiliki hak untuk mengharapkan samudra kerahiman-Ku” (BHF 1146).
5) Allah yang maharahim tidak menghukum manusia yang jatuh ke dalam dosa, malah mengampuni (BHF 1745).

Kerahiman Tuhan sungguh menjadi andalan bagi para pendosa, khususnya bagi kita sendiri. Dengan membenamkan jiwa-jiwa orang yang berdosa kepada kerahiman Tuhan, sebenarnya kita juga membenamkan diri dalam kerahiman-Nya. Kita mendapatkan tawaran pengampunan secara gratis. Maka merupakan kesempatan indah bagi kita untuk mengaku dosa kepada imam selama Novena ini.

Usaha konkret yang harus menyertai Novena hari pertama ini adalah pendekatan terhadap saudara-saudara kita yang merasa diri terasing, kurang pengharapan, merasa diri berdosa, dan acuh-tak-acuh terhadap Gereja dan Tuhan. Kita mereka dan kita perhatikan mereka dengan penuh kasih agar mereka mengalami kerahiman Tuhan yang tanpa batas.

Hari 2 : Para imam dan kaum religius

Tuhan Yesus berkata kepada Faustina:
“Hari ini, bawalah kepada-Ku jiwa-jiwa para imam dan kaum religius, dan benamkanlah mereka dalam kerahiman-Ku yang tak terhingga. Merekalah yang memberi-Ku kekuatan untuk menanggung Sengsara-Ku yang pahit. Lewat mereka, laksana lewat saluran-saluran, kerahiman-Ku mengalir kepada umat manusia” (BHF 1212).

Mengapa kita harus mendoakan mereka? Ada beberapa alasan:
1) Mereka adalah “dua permata” yang sangat berharga di hati Tuhan. Kita harus berdoa secara istimewa bagi mereka. Tidak hanya berdoa, tetapi harus disertai dengan puasa, dan matiraga. Kita doakan sedemikian, agar mereka memiliki kekuatan di hadapan Bapa (BHF 531).
2) Martabat mereka sungguh tinggi. Suster Faustina berkata: “O, betapa tingginya martabat imam, tetapi sekaligus, betapa berat tanggung jawabnya! Banyak sudah diberikan kepadamu, hai para imam, tetapi banyak juga yang akan dituntut darimu” (BHF 941).
3) Tuhan Yesus melindungi dan bersatu erat dengan mereka, bahkan Ia berbagi kekuasaan dengan para imam (BHF 1240).

Tugas-tugas para imam menurut Buku Harian Faustina:
1)Seorang imam bertindak sebagai Pembimbing Rohani. Dengan tugasnya itu, ia memiliki kuasa yang besar atas jiwa seseorang. Ia merupakan rahmat yang luar biasa dari Allah bagi Gereja (BHF 721). “Begitu mudah orang tersesat apabila tidak memiliki seorang pembimbing rohani” (BHF 61).
2) Seorang imam menjadi kepanjangan kerahiman Allah. Para imam diharapkan menyampaikan kerahiman Allah kepada orang-orang berdosa yang keras hati agar bertobat (BHF 1521), khususnya saat Pesta Kerahiman: “Pada hari itu, para imam harus memberitahukan kepada setiap orang kerahiman-Ku yang agung dan tak terselami” (BHF 570).
3) Seorang imam bertindak sebagai Bapa Pengakuan. Ia mendengarkan dosa-dosa dan mengarahkan jiwa untuk bertobat dan kembali pada Tuhan.
4) Imam sebagai penyambung lidah Allah untuk menyampaikan firmanNya. Yesus berpesan kepada Sr. Faustina: “Dengarkanlah sungguh-sungguh kata-kata imam ini dan renungkanlah dalam lubuk jiwamu”

Apakah hidup semua imam dan religius seperti dikehendaki Tuhan? “Tuhan Yesus mulai mengeluh tentang jiwa-jiwa para religius dan para imam, tentang kurangnya cinta dalam jiwa-jiwa terpilih. … Jiwa-jiwa itu tanpa cinta dan kesalehan, penuh egoisme dan cinta diri, penuh dengan kesombongan dan kecongkakan, penuh dengan tipu muslihat dan kemunafikan, suam-suam kuku (BHF 1702). Sekarang ini, para imam dan religius lebih asyik dengan hp-nya dari pada membaca buku-buku bermutu; mereka lebih menekuni hobinya daripada menyiapkan kotbah. Tidak banyak imam yang mampu menjadi Bapa Rohani, Pemberi Retret, dan Bapa Pengakuan yang berkualitas. Mereka menempatkan diri sebagai Pejabat Gereja, bukan sebagai pelayan umat. Karena tugas-tugas dan kelemahan-kelemahan mereka, maka sudah seharusnya kita berdoa bagi mereka, supaya mereka benar-benar menjadi imam atau religius seperti dikehendaki Tuhan: memberi kesaksian tentang kerahiman Tuhan kepada semua orang, khususnya orang-orang yang berdosa.

Alangkah indah dan mulianya jika seorang imam memiliki dan menghayati Devosi Kerahiman Ilahi. Dengan harapan: kerahiman Tuhan menjadi way-of-life, artinya: seluruh kata, tindakan, dan hidupnya merupakan cerminan Allah yang maharahim dan membaginya kepada seluruh umat yang dilayaninya

Di samping berdoa bagi para imam, kita juga harus berani memberi kesaksian tentang kerahiman Tuhan kepada para imam dan kaum religius, mengajak mereka untuk aktif sebagai rasul kerahiman Tuhan.

Hari 3 : Jiwa-jiwa yang saleh dan setia

Tuhan Yesus berkata kepada Suster Faustina: “Hari ini, bawalah kepada-Ku semua jiwa yang saleh dan setia, dan benamkan mereka dalam lautan kerahiman-Ku. Jiwa-jiwa ini memberikan penghiburan kepada-Ku di sepanjang Jalan Salib. Mereka adalah tetes penghiburan di tengah lautan kepahitan” (BHF 1214).

Sr. Faustina menyadari betapa berlimpahnya rahmat yang dicurahkan kepada semua orang. Demi kesetiaan kepada-Nya, Faustina mohon supaya selalu diperkenankan tinggal di dalam Hati-Nya dan tidak pernah lepas untuk selamanya. Tuhan menghendaki agar jiwa-jiwa yang saleh dan setia mengikuti langkah Faustina: “tinggal dalam Hati-Nya dan tidak pernah lepas untuk selamanya.”

Dari saat ke saat Faustina terus menerus berjuang untuk selalu setia kepada Tuhan. Tidak jarang ia berperang dengan sengit untuk melawan godaan-godaan yang datang silih berganti. Faustina sadar bahwa jalannya adalah jalan kesetiaan kepada kehendak Allah dalam apa saja dan kapan saja (BHF 1173). Janji kepada orang yang setia kepada kehendak Allah dikatakan oleh Bunda Maria kepada Faustina: “Setiap orang yang dengan teguh bertahan di dalam Kongregasiku sampai mati akan dibebaskan dari Purgatorium, … “ (BHF 1244).

Untuk jaman sekarang sungguh tidak mudah mempertahankan kesetiaan terhadap Tuhan dan kehendak-Nya. Yudas Iskariot mengkhianati Tuhan hanya dengan uang 30 keping perak. Petrus menyangkal Gurunya, para murid lain lari entah ke mana meninggalkan Yesus ketika Ia mengalami siksaan dan penyaliban. Jabatan, kekayaan, dan kesenangan-kesenangan sesaat membuat banyak orang meninggalkan Tuhan dan iman. Kita dihadapkan pada kenyataan hidup yang seringkali berat, rumit dan gelap: kegagalan demi kegagalan, sakit yang tak kunjung sembuh, doa-doa yang tak pernah terkabulkan, teror dari kelompok-kelompok tertentu. Di tengah-tengah situasi itu, setan datang dan membujuk dengan pintarnya. Ketika kita berada dalam saat lemah seperti itu, kita mudah kena bujuk rayu dan iming-iming kebahagiaan sesaat dan duniawi yang ditawarkan oleh orang-orang yang beragama lain. Adam jatuh ke dalam dosa karena bujukan setan. Banyak orang Katolik jatuh ke dalam pelukan setan. Dalam situasi seperti ini, Tuhan menghendaki iman yang lebih besar. Hal ini dikatakan kepada Faustina: “Aku menghendaki agar pada saat sekarang ini kalian semua memiliki iman yang lebih besar. Betapa besarnya sukacita-Ku atas kesetiaan mempelai-Ku dalam hal-hal yang paling kecil” (BHF 352). Kita doakan orang-orang yang saleh dan setia, agar mereka tidak tergoyahkan oleh segala macam godaan dan bujukan dunia yang ingin memisahkan mereka dari Tuhan.

Seharusnya kita berani bersaksi tentang iman kita, seperti dibuat oleh Rasul Paulus kepada komunitas di Roma: “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” (Rom 8:35). Paulus meneruskan suratnya: “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita (ay 38-39).

Kepada orang yang setia sampai akhir, Tuhan bersabda: “Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang” (Mat 24:46). “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, … Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Mat 25:21).

Hari 4 : Orang-orang tidak beriman dan mereka yang belum mengenal Yesus

Tuhan Yesus berkata kepada Suster Faustina: “Hari ini, bawalah kepada-Ku orang-orang yang tidak beriman dan mereka yang belum mengenal Aku. Dalam Sengsara-Ku yang pedih, Aku juga memikirkan mereka, dan semangat mereka di masa depan meneguhkan Hati-Ku. Benamkanlah mereka dalam lautan kerahiman-Ku” (BHF 1216).

Mereka belum beriman kepada Kristus karena berbagai hal, terutama karena tidak ada orang yang bersaksi kepada mereka tentang kerahiman Tuhan. “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Rom 10:17). Agar supaya orang mau mendengarkan Firman Tuhan diperlukan orang yang hidupnya sudah lulus dalam Firman. Kata dan tindakannya telah menampilkan kerahiman Tuhan.

Kedua, mereka tidak beriman kepada Kristus karena mereka terang-terangan menolak Kabar Gembira Kristus. Hal ini telah dibuat oleh bangsa Israel: “Sepanjang hari Aku telah mengulurkan tangan-Ku kepada bangsa yang tidak taat dan yang membantah” (Rom 10:21). Kesudahan mereka adalah kematian.

Ada sekelompok orang, yang mengatas-namakan Allah dan agama, yang telah bertindak sewenang-wenang, merasa diri paling benar, dan merasa satu-satunya penguasa sorga tetapi selalu melakukan teror, mengancam, membakar dan membunuh. Mereka puas dan bangga atas perbuatannya itu. Tindakan mereka sangat bertentangan dengan sifat Allah yang maharahim, yang mengasihi semua orang tanpa kecuali. Allah mana yang mereka wakili dan mereka bela? Apakah Allah perlu dibela dan diwakili? Sebenarnya mereka adalah “suatu bangsa yang tegar tengkuk” (Kel 32:9), sepertii bangsa Israel pada jamannya Yesus.

Belajar dari S. Faustina, kita tidak perlu membenci mereka namun harus mendoakan dan memohonkan pengampunan bagi mereka: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Pada perayaan Jumat Agung, dalam Doa Meriah, kita juga mendoakan mereka yang tidak percaya kepada Kristus. Sangat baik kalau kebiasaan ini kita buat setiap hari dengan membenamkan mereka dalam lautan kerahiman Tuhan, dengan harapan: mereka membuka hati dan mulai mengenal kebahagiaan sejati.

Yang dituntut dari kita adalah sikap rendah hati, mengampuni, dan berdoa bagi mereka. Apabila saatnya tepat, kita bersaksi bahwa Kristus telah bangkit mulia.

Hari 5 : Jiwa orang-orang sesat dan memisahkan diri dari Gereja

Tuhan Yesus minta kepada Suster Faustina: “Hari ini, bawalah kepada-Ku jiwa orang-orang yang sesat dan memisahkan diri dari Gereja, dan benamkanlah mereka dalam lautan kerahiman-Ku. Setiap kali mereka mencabik-cabik Tubuh dan Hati-Ku, yakni Gereja-Ku, Aku merasakan Sengsara yang pedih. Begitu mereka kembali menjadi sembuh, dan dengan cara ini mereka meringankaan Sengsara-Ku” (BHF 1218).

Siapa yang dimaksud orang-orang sesat dan memisahkan diri dari Gereja? Mereka adalah jiwa-jiwa yang mencabik-cabik Tubuh dan Hati Tuhan, yang tidak lain adalah Gereja-Nya, sehingga Tuhan mengalami sengsara yang teramat pedih. Faustina menyebut: mereka adalah jiwa-jiwa yang telah menyia-nyiakan berkat Allah (BHF 1219). Mereka adalah orang-orang yang melarikan diri dari medan pertempuran (BHF 287). Ketika Yesus bertanya kepada Faustina: “Anak-Ku, apakah engkau juga akan bersikap seperti itu?” Jawab Faustina: “Oh, tidak, Yesusku, aku tidak akan mundur dari medan pertempuran meskipun keringat ajal mengucur dari keningku” (BHF 287).

Dalam Injil, orang yang tersesat sama seperti seekor domba yang lepas dari kawanannya, berjalan menurut maunya sendiri dan tidak bisa menemukan jalan untuk kembali. Hidupnya berada dalam bahaya. Kemungkinan ia akan dimangsa binatang buas, atau mati kelaparan. Maka pemiliknya berusaha mencarinya sampai ketemu dengan meninggalkan domba-domba yang lain (Luk 15:3-7). Perumpamaan anak yang hilang juga menggambarkan secara tepat orang yang tersesat (Luk 15:11-32). Orang Israel, oleh Yesus, disebut sebagai angkatan yang sesat karena tidak percaya kepada-Nya (Mat 17:17).

Kita lebih mudah jatuh ke dalam kesesatan dan mengikuti bujukan setan, ketika seseorang berada dalam situasi hidup yang sangat sukar, mengalami kegagalan demi kegagalan, bahkan ketika ia lebih mengutamakan kepentingan duniawi. Iman kepada Kristus dalam Gereja Katolik dirasakan sebagai kehampaan, membosankan, dan membebani. Ia tidak lagi mendengarkan firman Tuhan, tidak lagi berdoa, tidak lagi beribadat bersama di gereja, tidak lagi ambil bagian dalam kegiatan komunitas beriman. Akhirnya ia memilih jalan lain yang menjanjikan kebahagiaan secara instan. Mereka ini, sebenarnya, adalah jiwa-jiwa merana yang membutuhkan doa-doa kita.

Apa yang harus kita buat agar kita selalu berada dalam kesatuan dengan Tuhan dan Gereja? Sebagai devosan, kita perlu mencontoh cara hidup Faustina: selalu berusaha untuk bersatu dengan Tuhan dan Gereja-Nya dalam situasi apapun. Bagi Faustina: “Kesempurnaan ialah kesatuan mesra dengan Allah” (BHF457).

Hari 6 : Jiwa-jiwa yang lemah lembut dan rendah hati serta jiwa anak-anak

Tuhan Yesus minta kepada Suster Faustina: “Hari ini, bawalah kepada-Ku jiwa-jiwa yang lemah lembut dan rendah hati serta jiwa anak-anak kecil, dan benamkanlah mereka dalam kerahiman-Ku. Jiwa-jiwa ini paling menyerupai Hati-Ku. Di saat Aku menjalani sakratulmaut yang pedih , mereka menguatkan Aku. Aku melihat mereka sebagai malaikat di bumi, yang akan berjaga di dekat semua altar-Ku. Ke atas mereka, Aku mencurahkan seluruh limpahan rahmat. Hanya jiwa-jiwa yang rendah hati yang dapat menerima rahmat-Ku. Dengan kerahiman-Ku, Aku mengasihi jiwa-jiwa yang rendah hati” (BHF 1220).

Jiwa-jiwa yang lemah lembut dan rendah hati menjadi penghiburan bagi Yesus di kala Ia berada dalam sakratulmaut. Di mata Yesus, mereka ini adalah malaikat di bumi. Kepada mereka Tuhan mencurahkan seluruh limpahan rahmat, dan mengasihi mereka.

Kerendahan hati seperti apa yang ditampakkan oleh Faustina kepada Tuhan?
1) Menyadari kelemahan dan kehinaannya di hadapan Tuhan dan memandang dalamnya kerahiman Tuhan (BHF 56).
2) Keinginan untuk menyembunyikan diri dari Tuhan bahwa dirinya sedang menderita, keinginan untuk tidak pernah mendapat penghargaan atas usaha-usahanya, dan ikut serta dalam penderitaan sesamanya (BHF 57).
3) Selalu siap melayani para suster, tidak membicarakan orang-orang yang tidak hadir, membela nama baik sesama, dan bersukacita atas keberhasilan orang lain (BHF 241).
4) Ia menyembunyikan diri dari pandangan manusia atas kebaikan apa pun yang ia lakukan sehingga hanya Allah yang boleh menjadi ganjarannya (BHF 255).
5) Bersikap seperti apa adanya (BHF 1503).
6) Tidak hanya tidak membela diri kalau dicela karena sesuatu, tetapi bersukacita karena direndahkan (BHF 270).
7) Membiarkan orang lain menghakimi sesuka hatinya (BHF 791).
8) Menanggung penderitaan dengan sukacita, khususnya penderitaan yang terjadi tanpa kesalahan pribadi (BHF 1152).

Jiwa-jiwa yang rendah hati di mata Tuhan:
a) Yesus menemukan kenikmatan dalam hati yang murni dan rendah (BHF 532).
b) Jiwa yang rendah hati sangat menyenangkan Allah (BHF 1083.1092).
c) Berhadapan dengan jiwa yang rendah hati, murka Tuhan lenyap seketika (BHF 1436).

Tuhan Yesus bersabda: “Susungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya” (Mrk 10:15). Jiwa yang rendah hati merupakan tuntutan mutlak bagi seseorang untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Mengapa kita harus membenamkan mereka dalam kerahiman Tuhan? Agar mereka tidak jatuh ke dalam penggodaan, dan tetap teguh berdiri sampai Tuhan memanggil mereka. Mereka adalah mutiara yang menampilkan kehidupan surgawi di dunia ini. Dengan teladan mereka, kita bisa bercermin dan melihat hidup kita secara lebih terang.

Rasul Paulus memberi nasehat agar kita berkenan di hati Tuhan: “Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada diri sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Flp 2:2-4).

Hari 7 : Jiwa-jiwa yang secara khusus menghormati dan memuliakan Kerahiman Ilahi

Permintaan Tuhan Yesus kepada Suster Faustina: “Hari ini, bawalah kepadaKu jiwa-jiwa yang secara khusus menghormati dan memuliakan kerahiman-Ku, dan benamkanlah mereka dalam kerahiman-Ku. Jiwa-jiwa ini paling menderita karena menyaksikan Sengsara-Ku, dan mereka masuk paling dalam ke dalam Roh-Ku. Mereka adalah gambar yang hidup dari Hati-Ku yang maharahim. Dalam kehidupan yang akan datang, jiwa-jiwa ini akan bersinar dengan kecemerlangan istimewa. Tidak seorang pun dari mereka akan terjerumus ke dalam api neraka. Secara istimewa, Aku akan membela setiap orang dari mereka pada saat kematiannya” (BHF 1224).

Siapa yang dimaksud Tuhan Yesus dengan “jiwa-jiwa yang secara khusus menghormati dan memuliakan kerahiman-Ku?” Pertama-tama adalah “Jiwa-jiwa yang menyebarkan penghormatan kepada kerahiman Ilahi … “ (BHF 1075). Mereka ini akan dilindungi seumur hidupnya. Pada saat kematiannya, Tuhan tidak akan tampil sebagai seorang Hakim bagi mereka, tetapi sebagai Juru Selamat yang maharahim. Kedua, “Jiwa-jiwa yang memperjuangkan kesempurnaan.” Dalam segala kekurangan dan dosa-dosanya, ia mengusahakan kesempurnaan, mengandalkan Tuhan, sesering mungkin minta pengampunan Tuhan, selalu bersandar pada Tuhan dan tidak perlu takut akan apa pun (BHF 1488). Ketiga, “jiwa-jiwa yang sempurna.” Jiwa yang sempurna: kata-katanya menyenangkan Hati Tuhan, selalu mengucap syukur, memiliki kasih yang murni dan menghayati cinta Tuhan, bertempur demi Kerajaan Tuhan guna menyelamatkan jiwa-jiwa, menerima Tuhan dalam Komuni Kudus setiap hari (BHF 1489).

Menurut Faustina, mereka ini adalah orang-orang yang selalu mengagungkan Tuhan, bersatu dengan Tuhan, memikul umat manusia pada bahu mereka, dan selalu berharap dan percaya kepada Tuhan. Mereka ini adalah Injil yang hidup di dunia ini.
Jiwa yang menghormati dan memuliakan kerahiman Tuhan tahu bahwa Yesus adalah tujuan akhir hidupnya (BHF 295). Tujuan hidupnya adalah Allah dan kebahagiannya adalah memenuhi kehendak-Nya (BHF 775).

Kita perlu berdoa bagi mereka, karena mereka adalah orang-orang yang sepanjang hidupnya menghormati dan memuliakan kerahiman Tuhan, mampu merasakan penderitaan Tuhan. Mereka adalah gambar yang hidup dari Hati Tuhan, yang telah mencerminkan kehidupan surgawi ketika mereka masih di dunia ini. Doa-doa kita menjadi sangat penting, agar dunia yang sudah rusak ini masih bisa melihat teladan kehidupan sejati seperti dikehendaki Tuhan.

Apakah kita, para devosan, sudah layak disebut sebagai jiwa-jiwa yang secara khusus menghormati dan memuliakan kerahiman Tuhan seperti dimaksudkan oleh Novena Hari Ketujuh ini? Berdevosi kepada Kerahiman Ilahi tidak cukup hanya berdoa koronka, berdoa pada jam kerahiman, melakukan perbuatan belas kasih, tetapi berani mengubah hidup secara total menjadi pribadi yang mengejawantahkan kerahiman Tuhan dalam kata, sikap, dan tindakan.

Hari 8 : Jiwa-jiwa yang dipenjarakan di Purgatorium (Api Penyucian).

Yesus minta kepada Suster Faustina: “Hari ini, bawalah kepada-Ku jiwa-jiwa yang dipenjarakan di Purgatorium, dan benamkanlah mereka dalam lubuk kerahiman-Ku. Biarlah banjir darah-Ku menyejukkan mereka yang kepanasan. Semua jiwa ini sangat Kukasihi. Mereka sedang melunasi hukuman-Ku yang adil. Engkau memiliki kekuatan untuk meringankan mereka. Ambillah segala indulgensi dari khazanah Gereja-Ku dan persembahkanlah semua itu demi mereka. Oh, kalau saja engkau tahu siksaan yang mereka derita, engkau akan terus-menerus mempersembahkan bagi mereka kemurahan hati dan melunasi hutang mereka kepada keadilan-Ku” (BHF 1226).

Dari kata-kata Tuhan tersebut, mereka yang berada di Purgatorium: kepanasan, berada dalam siksaan, sedang melunasi hukuman Tuhan yang adil. Hukuman mereka bisa diringankan dengan doa dan indulgensi. Sr. Faustina memberi kesaksian tentang api penyucian sebagai “tempat berkabut yang penuh api di mana ada himpunan besar jiwa yang sedang menderita” (BHF 20).

Suster Faustina memberi kesaksian tentang jiwa-jiwa yang berada di Purgatorium: “dia dalam keadaan mengerikan, seluruh tubuhnya terbakar dengan wajahnya dipenuhi luka yang menyakitkan” (BHF 58). Pada malam berikutnya, Sr. Faustina melihat kembali jiwa yang kemarin ia lihat: “Aku melihatnya dalam keadaan yang bahkan lebih mengerikan, di tengah-tengah nyala api yang lebih berkobar-kobar, dan rasa putus asa terlukis di seluruh wajahnya” (BHF 58).

Rasul Paulus mengingatkan kepada umatnya di Korintus tentang Api Penyucian ini: “Kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing masing orang akan diuji oleh api itu. Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api” (1Kor 3:11-15).

Jiwa-jiwa di api penyucian amat membutuhkan doa-doa kita yang masih hidup di dunia ini. Sudah sejak jaman dahulu, Gereja menghargai peringatan akan orang-orang mati dan membawakan doa dan terutama kurban Ekaristi untuk mereka, supaya mereka disucikan dan dapat memandang Allah dalam kebahagiaan. Hanya kerahiman Tuhan yang bisa menyejukkan mereka dari kepanasan.

Bagi jiwa-jiwa yang berada dalam Api Penyucian, Sr. Faustina “memohon indulgensi untuk jiwa-jiwa di Purgatorium” (BHF 346). Gereja menganjurkan agar kita memohon indulgensi bagi jiwa jiwa yang berada di api penyucian setiap tanggal 2 Nopember dan Pesta Kerahiman Ilahi. Yesus minta kepada Sr. Faustina: “Masuklah sering-sering ke Purgatorium sebab mereka membutuhkan engkau di sana” (BHF 1738).

Hari 9 : Jiwa-jiwa yang suam-suam kuku

Tuhan Yesus minta kepada Suster Faustina: “Hari ini, bawalah kepada-Ku jiwa-jiwa yang suam-suam kuku, dan benamkanlah mereka di dalam lubuk kerahiman-Ku. Jiwa-jiwa ini paling nyeri melukai Hati-Ku. Karena jiwa-jiwa yang suam-suam kuku ini, jiwa-Ku merasakan kejijikan yang paling mengerikan di taman Getsemani. Merekalah yang menyebabkan Aku berseru kepada Bapa, “Bapa, ambillah piala ini dari-Ku, kalau ini memang kehendak-Mu!” Bagi mereka, harapan terakhir untuk selamat adalah berlari kepada kerahiman-Ku” (BHF 1228).

Jiwa yang suam-suam kuku terungkap dalam Kitab Wahyu: “Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku” (3:15-16). Jiwa demikian hanya akan memperoleh penghukuman. Tuhan mengingatkan: “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah” (ay 19).

Jiwa yang suam-suam kuku membuat luka Hati Tuhan menjadi nyeri. Tuhan jijik terhadap jiwa seperti ini. Harapan terakhir bagi jiwa ini hanyalah berlari kepada kerahiman Tuhan.

Faustina mengungkapkan, siapa sebenarnya jiwa yang suam-suam kuku ini. Mereka adalah:
1) Jiwa-jiwa yang tidak percaya kepada Hati Yesus, terutama jiwa-jiwa yang telah Ia pilih. Jiwa ini adalah jiwa yang celaka (BHF 50).
2) Jiwa yang acuh-tak-acuh terhadap Tuhan (BHF 284).
3) Jiwa yang mengabdi Tuhan namun kurang percaya kepada-Nya. Bila ada tantangan, jiwa seperti itu lari dari pertempuran (BHF 287).
4) Jiwa yang tidak tahu terima kasih atas kasih Allah yang tidak terbatas. Ia seperti sebutir debu yang menjijikkan (BHF 698).
5) Jiwa yang tampak seperti batu, selalu dingin dan acuh-tak-acuh. Jiwa seperti ini tidak pernah melihat apa-apa, selain dirinya sendiri (BHF 1284).
6) Jiwa-jiwa yang meninggalkan Yesus dan menyibukkan diri dengan hal-hal lain (BHF 1385).

Mungkinkah kita termasuk salah satu dari jiwa yang suam-suam kuku ini? Kalau jawabnya YA maka saat ini merupakan kesempatan yang amat baik, di samping kita mendoakan mereka, kita juga berdoa bagi diri kita sendiri. Kita harus minta pertolongan Tuhan: “Jiwa-jiwa yang meminta pertolongan kepada kerahiman-Ku, dan yang memuliakan serta memaklumkan kerahiman-Ku yang besar, pada saat kematiannya mereka akan Kuperlakukan sesuai dengan kerahiman-Ku yang tak terbatas” (BHF 379).

Sudah seharusnya kita berdoa bagi jiwa-jiwa ini, dan berdoa untuk jiwa kita juga, karena kita, mungkin, masih termasuk golongan jiwa-jiwa yang suam-suam kuku ini. Namun, lebih dari itu, kita harus bertobat: “relakanlah hatimu dan bertobatlah.” Faustina mengatakan kepada Tuhan: “Engkau telah memalingkan tatapan kudus-Mu dari para malaikat yang memberontak dan mengarahkannya kepada manusia yang bertobat” (BHF 1339).

 

M. Sriyanto