MURAH HATI DAN TIDAK MENGHAKIMI

BACAAN

Dan 9:4b-10 – “Kami telah berbuat dosa dan salah”
Luk 6:36-38 – “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati”

 

RENUNGAN

  1. ”Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” Yesus ingin mengubah sistem yang berlaku pada waktu itu, di mana mengasihi hanya mereka yang sebangsa dan seagama, berlakunya hukum balas dendam dan Allah dimengerti sebagai Allah yang menghukum dengan kejam. Yesus mendasari gagasan pembaruan-Nya berdasarkan pengalaman-Nya terhadap Allah sebagai Bapa. Bapa yang penuh kelembutan, menerima semua orang yang baik maupun jahat, yang membuat matahari bersinar untuk orang baik maupun orang jahat; Allah mencintai semua orang tanpa kecuali. Demikianlah kita harus memancarkan cinta kasih Allah dalam hidup kita.
  2. ”Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi.” Menghakimi adalah hak Allah, kita tidak memiliki hak untuk itu. Jika kita tidak ingin diadili, maka janganlah mengadili. Jika kita ingin dimaafkan, maka terlebih dahulu maafkanlah. Jika kita ingin menerima tindakan yang baik, maka kita harus bertindak baik terhadap orang lain. Kita tidak perlu menunggu orang lain untuk mengambil inisiatip, kita harus mendahului.
  3. Dalam kenyataannya, kita suka menghakimi orang lain bahkan tanpa belaskasihan. Percakapan maupun gosip kita cenderung penuh penghakiman, tidak mentolerir kelemahan dan kesalahan orang lain, bahkan sangat sedikit dari antara kita ikut membantu memperbaiki jalan hidup mereka. Sebaliknya, kita lebih suka mencibir, mencemooh dan menjauhi mereka.
  4. Bagaimana dengan Anda?

 

Senin, 26.2.18 – MaxSRI

INILAH ANAK YANG KUKASIHI, DENGARKANLAH DIA!

BACAAN

Kej 22:1-2.9a.10-13.15-18 – “Kurban Bapa Abraham, leluhur kita”
Roh 8:31b-34 – “Allah tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri”
Mrk 9:2-10 – “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia!”

 

RENUNGAN

  1. Di atas gunung yang tinggi, bersama Petrus, Yakobus dan Yohanes, Yesus menampakkan kemuliaan-Nya. Hadirlah Musa dan Elia. Mereka adalah nabi-nabi besar. Musa mewakili Hukum, Elia mewakili para nabi.
  2. Ketika Yesus diliputi oleh kemuliaan, suara datang dari awan: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.” Kata-kata “Anak yang Kukasihi” mengingatkan kita bahwa Yesus adalah Hamba Tuhan, Hamba Sengsara seperti dimaklumkan nabi Yesaya (Yes 42:1). Kata-kata “dengarkanlah Dia!” mengingatkan kita akan janji kedatangan Musa Baru (Ul 18:15). Bagi para murid, senang luar biasa mengalami Mesias Mulia seperti yang mereka inginkan. Namun, sebenarnya, mereka tidak tahu bahwa Mesias harus menderita sengsara; kemuliaan harus dicapai melalui Salib (Yes 53:3-9). Musa dan Elia meneguhkan jalan Yesus, Allah Bapa sendiri menjamin dan Yesus menerima Jalan tersebut,yaitu Jalan Salib.
  3. Pesan bagi kita: a) Ketika Yesus menampakkan kemuliaan-Nya di atas gunung, Ia tahu betul apa yang menunggu di Yerusalem, yaitu pengkhianatan, penyiksaan, dan penyaliban. Sadarkah kita akan hal ini? b) Apabila segalanya sedang mudah dalam hidup kita, Tuhan terasa di samping kita, bersama kita dan merasa penuh berkat. Halleluia puji Tuhan. Tetapi saat kita menghadapi pencobaan dan salib berat terasa Allah meninggalkan kita. Maka dalam suasana seperti itu, kita harus ingat bahwa dengan peristiwa penampakan, Tuhan selalu mengasihi kita. c) Kita diajak untuk mendengarkan. Mendengarkan Allah yang ingin berbicara kepada kita, mendengarkan jeritan orang lain yang minta tolong.

 

Minggu Prapaskah II, 25.2.18 – Msri