SIKAP KETIKA DITOLAK

BACAAN

2Sam 24:2.9-17 – “Akulah yang berdosa karena menghitung rakyat”
Mrk 6:1-6 – “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri”

 

RENUNGAN

  1. 1.Yesus kembali ke Nasaret, tempat asalnya, dan para murid mengikuti-Nya. Karena hari Sabat, Ia mengajar di rumah ibadat.
  2. Ketika di Kaparnaum, tempat orang-orang kafir, orang-orang menerima pengajaran Yesus. Sebaliknya, ketika di Nasaret, kota orang-orang Yahudi, umat pilihan Allah, mereka menolak pengajaran Yesus. Mengapa mereka menolak? Karena mereka mengenal Yesus sejak kecil, orang biasa yang sekarang menjadi orang yang berbeda. Keluarga-Nya sendiri menolak Yesus. Orang-orang Israel tidak bisa menerima bahwa Allah hadir dalam diri Yesus, seorang manusia biasa. Maka mereka pun menolak Yesus. Lagi pula Ia hanyalah anak seorang tukang kayu. Mereka bertanya-tanya: “Dari mana diperolehnya semuanya itu?”
  3. Yesus tahu dan sadar betul bahwa tak seorang pun menjadi nabi di daerahnya sendiri, maka Ia berkata: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.” Tidak ada penerimaan terhadap Yesus, apalagi percaya kepada-Nya. Karena hal tersebut, maka Yesus tidak membuat mukjijat bagi mereka, dan Yesus “merasa heran atas ketidakpercayaan mereka.”
  4. Pernahkah kita mengalami penolakan? Penolakan bisa datang dari mana saja, bahkan bisa dari kalangan intern Gereja, malah bisa dari salah satu anggota keluarga kita sendiri. Bagaimana kita harus bersikap?
  5. Menanggapi dengan emosional dan marah, justru akan membuat suasana makin gelap dan runyam. Dan hal ini yang sering kita buat bukan? Kalau ya, maka kita harus mengubah cara pandang dan pola pikir ke arah yang positip, melihat permasalahan dengan tenang dan jernih. Pengalaman ditolak tidak perlu membuat kita putus asa dan mutung, tetapi harus berani belajar rendah hati dan semakin berserah diri kepada Tuhan; berani memperbaiki diri. Rasul Paulus bersaksi: “Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat” (2Kor 12:10).

 

Rabu, 31 Januari 2018 – MS