SABDA, Jumat 29-12-2017, KIDUNG DAN NUBUAT SIMEON

BACAAN

1Yoh 2:3-11 – “Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada dalam terang”
Luk 2:22-35 – “Kristus cahaya para bangsa”

 

RENUNGAN

  1. Dalam Injil hari ini, sebuah keluarga miskin memasuki kenisah untuk dua tujuan: Pertama, penyucian diri setelah Maria melahirkan, dan kedua: mempersembahkan kanak-kanak Yesus guna menepati Hukum. Sebagai keluarga miskin, Yusup dan Maria mempersembahkan sepasang burung tekukur.
  2. Dalam hukum Yahudi, seorang perempuan yang baru melahirkan dianggap najis. Ia tidak boleh masuk ke dalam kenisah dan tidak boleh menyentuh benda-benda suci sebelum ia menyucikan diri. Dan anak laki-laki pertama harus dipersembahkan kepada Tuhan sebagai peringatan akan pembebasan dari perbudakan di Mesir. Kedua ritual tersebut dijalani oleh Maria dan kanak-kanak Yesus.
  3. Ketika kanak-kanak Yesus dibawa masuk ke dalam kenisah oleh orang tua-Nya, Simeon menatang kanak-kanak Yesus, dan harapan Simeon terpenuhi: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, … “ Maria “amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang kanak-kanak Yesus.
  4. Lebih jauh Simeon bernubuat bahwa kanak-kanak Yesus “ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan menjadi tanda yang menimbulkan perbantahan.” Dari dulu sampai sekarang, tidak semua orang ingin menerima keselamatan yang datang dari Allah. Tidak setiap orang ingin melihat cahaya. Tidak setiap orang ingin mengenal dan melihat Allah dalam diri Yesus. Bahkan mereka menolak Yesus dan memperlakukan-Nya dengan semena-mena, bahkan menyalibkan Dia. Dan Maria mengalami nubuat Simeon: “suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.” Maria mengalami duka cita dan kepedihan mendalam karena ikut ambil bagian dalam salib puteranya; ia berdiri di bawah salib Yesus.
  5. Yesus datang tidak untuk membuat kita nyaman, tetapi menantang kita untuk melalui jalan yang Ia lalui, yaitu jalan sempit, sulit dan terjal; jalan Salib. Seringkali terasa sulit dan berat karena cara hidup kita yang sudah sangat nyaman harus kita tinggalkan untuk bisa mengikuti Yesus. Siapkah kita mengikuti jalan Yesus secara total?

 

(MS)