3. TUJUAN HIDUP SANTA FAUSTINA

  1. Kalau seseorang bertanya: Apa tujuan hidupmu? Seorang mahasiswa akan menjawab: aku bisa lulus dengan nilai sangat baik, terus bekerja, punya banyak uang, punya rumah dan mobil mewah. Seorang pemulung akan menjawab: aku mendapatkan banyak rongsok, aku jual, bisa makan. Seorang biarawan/wati, imam punya jawaban yang berbeda dan cenderung “religius” tergantung tokoh yang mereka ikuti. Siapa pun mempunyai jawaban yang berbeda-beda, tanpa kecuali kita.
  2. Apa tujuan hidup Santa Faustina? Sangat sederhana. Sejak umur 7 tahun, hatinya sudah tergerak untuk masuk biara, berarti “suatu undangan untuk menempuh kehidupan yang lebih sempurna” (BHF 7). Sehubungan dengan kehidupan rohaninya yang semakin matang dan perjumpaannya terus menerus dengan Yesus, ia sampai pada kematangan hidup rohani. Yesus berkata: “Aku akan menjadi tujuan akhirmu … Jangan mengandalkan ciptaan-ciptaan, bahkan dalam hal-hal yang paling kecil sebab hal ini tidak berkenan di Hati-Ku” (295).
  3. Yesus sebagai tujuan akhir hidupnya, berarti Faustina selalu mengusahakan jiwa yang erat bersatu dengan Allah. “Tujuanku adalah bersatu erat dengan Allah lewat kasih, dan misiku adalah memuji serta memuliakan kerahiman Ilahi” (729). “Tujuanku adalah Allah dan kebahagiaanku adalah memenuhi kehendak-Nya” (775). “Aku tahu bahwa Allah adalah tujuan akhir hidupku dan dengan demikian, dalam apa pun yang aku kerjakan, aku selalu memperhitungkan Allah” (1329).
  4. Bagi Faustina, kesatuan dengan Allah berarti kesempurnaan. Maka semua perkataan dan kegiatannya harus ada kaitannya dengan kehidupan kekal dan menyenangkan Allah (1549).
  5. Bagaimana dengan Anda?

 

 

MS – Green Lake City, 16-11-2017