SABDA, Minggu, 13-8-2017, HARI RAYA St. MARIA DIANGKAT KE SURGA: SETIA DALAM IMAN DAN PERUTUSAN DARI AWAL SAMPAI AKHIR

BACAAN

Why 11:19a; 12:1-6.10ab – “Seorang perempuan berselubungkan matahari dengan bulan di bawah kakinya”
Luk 1:39-56 – “Yang mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan meninggikan orang-orang yang rendah”

 

RENUNGAN

  1. Hari ini kita merayakan St. Maria diangkat ke surga. Maria diangkat ke surga merupakan dogma yang diumumkan oleh Paus Pius XII pada tahun 1950: “St. Maria tidak bercela, Ibu Tuhan, setelah menyelesaikan hidupnya di dunia ini telah diangkat pada kemuliaan surgawi dengan jiwa dan tubuhnya.”
  2. Ay 39-40 – Maria mengunjungi Elisabeth. Penginjil Lukas menekankan kesigapan Maria dalam menanggapi Sabda Tuhan. Malaikat berbicara kepadanya tentang kehamilan Elisabeth, dan seketika itu Maria bergegas menuju rumah Elisabeth untuk menolongnya. Jarak dari Nasaret menuju pegunungan Yudea kira-kira 100 km. Tidak ada bus atau pun kereta api.
  3. Ay 41-44 – Salam dari Elisabeth. Elisabeth mewakili Perjanjian Lama yang segera berakhir. Maria mengawali Perjanjian Baru yang segera tiba. Perjanjian Lama menyambut dan menerima Perjanjian Baru dengan penuh syukur dan percaya. Dalam diri Maria, yang mewakili Perjanjian Baru, orang mengenal janji Allah yang dilaksanakan dan dipenuhi. Perjumpaan dua wanita, yang dipenuhi Roh Kudus, membuat bayi dalam kandungan Elisabeth melonjak gembira. Kabar Gembira Allah dinyatakan lewat dua wanita yang saling membantu. Dari peristiwa perjumpaan dua wanita ini, Lukas menghendaki agar Gereja mengerti dan menemukan kehadiran Kerajaan Allah. Kata-kata Elisabeth menjadi bagian doa Salam Maria yang diucapkan setiap hari oleh umat beriman.
  4. Ay 45 – “Berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” Kata-kata tersebut merupakan nasehat Lukas kepada Gereja, yaitu untuk percaya kepada Sabda Allah, karena apa yang disabdakan akan terlaksana. Sabda Allah menghasilkan kehidupan baru dalam rahim seorang perawan, dalam rahim orang-orang miskin dan orang-orang terlantar yang menerimanya dengan iman.
  5. Ay 46-56 – Kidung Maria. Kidung Maria ini merupakan gema dari nyanyian Hana (1Sam 2:1-10) yang mengungkapkan kemurahan Allah. Kidung Maria merupakan salah satu kidung Gereja awal yang mengungkapkan kesadaran dan kekokohan iman mereka. Maria mengalami belaskasih Tuhan, maka ia menyanyi: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku.” Ia juga mengidungkan tentang kesetiaan Tuhan: “Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya.” Tangan Tuhan merupakan kekuatan yang menyelamatkan dan membebaskan. Dengan daya Roh Kudus yang menjiwai Maria, ia menerima dan menjalani perutusannya dengan iman dan ketaatan tanpa kompromi. Ia bertindak dengan iman yang kokoh, karena ia percaya bahwa Allah akan memenuhi Sada-Nya. Maria setia dalam perutusannya dari awal sampai akhir.
  6. Berbicara tentang Maria berarti berbicara tentang iman, perutusan, dan kesetiaan dari awal sampai akhir. Apa yang harus Anda perbarui agar iman terus berkobar seperti iman Maria? Bila Anda sedang bosan berdoa, maka gantilah doa Anda dengan nyanyian! Kita bersyukur mempunyai seorang ibu, pelindung, penolong dan teladan iman yang bernama IBU MARIA. “Bunda Maria, doakanlah kami!”.

 

(MS)