SABDA, Senin, 17-7-2017, MENJADI SAMA SEPERTI YESUS DAN SEPERTI ALLAH

BACAAN

Kel 1:8-14.22 – “Marilah kita bertindak terhadap orang Israel dengan bijaksana, agar mereka jangan semakin bertambah banyak”
Mat 10:34-11:1 – “Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang”

 

RENUNGAN

  1. Ay 34-36 – Aku datang tidak untuk membawa damai tetapi pedang. Serem. Padahal Yesus selalu bicara tentang damai. Terus bagaimana kita memahami Injil hari ini? Pernyataan Yesus tidak berarti bahwa Yesus mendukung pemisahan dan pedang. Yesus tidak menghendaki (Yoh 18:11). Ia menghendaki kesatuan semua orang dalam kebenaran (Yoh 17:17-23). Pada waktu itu, pernyataan bahwa Yesus adalah Mesias menjadi alasan utama terjadinya perpecahan di antara orang-orang Yahudi. Dalam keluarga ada yang menerima dan ada yang menolak Yesus sebagai Mesias. Dalam hal ini Kabar Gembira benar-benar menjadi tanda perpisahan (Luk 2:34). Hal tersebut sekarang ini terjadi juga, ketika dalam satu keluarga ada yang menerima Yesus sebagai Mesias dan ada yang menolak.
  2. Ay 37 – “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; … “ Bagaimana kata-kata Yesus tersebut bisa dipadukan dengan perintah keempat: kasihilah dan hormatilah ayahmu dan ibumu? Jawabannya: Kabar Gembira Allah harus menjadi nilai yang paling tinggi bagi hidup kita. Nilai-nilai keluarga dan masyarakat harus tunduk pada nilai Kabar Gembira Allah.
  3. Ay 38-39 – Tuntutan perutusan para murid. Pertama: memanggul salib dan mengikuti Yesus. Bila tidak demikian maka ia tidak layak di hadapan Yesus. Rasul Paulus memberi kesaksian: “Aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, …” (Gal 6:14). Kedua: keberanian untuk menyerahkan nyawa: “Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.” Hal ini berarti penyerahan diri total dalam pelayanan terhadap orang lain.
  4. Ay 40 – “Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.” Dalam pemberian diri secara total, seorang murid mengidentifikasikan diri dengan Yesus. Dengan demikian ia juga mengidentifikasikan diri dengan Allah.
  5. Ay 41-42 – Upah seorang nabi, seorang benar dan seorang murid. Percakapan tentang tugas perutusan diakhiri dengan sebuah kalimat tentang ganjaran: “Barangsiapa menyambut nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, …. “ Seorang nabi dikenal karena tugasnya sebagai seorang yang diutus Allah. Seorang benar dikenal karena sikap dan tingkah lakunya dan ia melaksanakan hukum-hukum Allah. Seorang murid dikenal karena menjadi yang paling kecil di antara orang-orang. Kerajaan Allah tidak dibangun oleh hal-hal yang besar, tetapi dibangun dari hal-hal kecil. Segelas air pun bisa menjadi bagian dalam membangun Kerajaan Allah.
  6. Ps 11:1 – Akhir percakapan tentang perutusan. Yesus memberi kesempatan kepada para murid-Nya untuk mempraktekkan apa yang telah Ia ajarkan. “Pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka.”
  7. Bagaimana Anda bergulat untuk menjadi sama dengan Yesus?

 

(MS)