SABDA, Rabu, 14-6-2017 KASIH SEJATI: WUJUD PENGGENAPAN HUKUM

BACAAN

2Kor 3:4-11 – “Kami dijadikan pelayan suatu perjanjian baru, bukan yang terdiri dari hukum yang tertulis, melainkan dari Roh”
Mat 5:17-19 – “Janganlah kalian menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya”

 

RENUNGAN

  1. Injil Matius ditujukan kepada orang-orang Kristen Yahudi. Sebagai orang Kristen sekaligus orang Yahudi, timbul ketegangan dalam menghadapi Hukum Taurat. Ada tiga kelompok Kristen Yahudi dalam mensikapi Hukum Taurat. Kelompok pertama: tidak perlu mematuhi Hukum Taurat (Rom 3:21-26). Kelompok kedua: bersikukuh bahwa mereka harus mematuhi Hukum Taurat (Kis 15:1.5). Kelompok ketiga: ingin hidup bebas dalam Roh, artinya tidak mematuhi Hukum Taurat dan tidak mematuhi Yesus (1Kor 12:3). Matius, dengan Injilnya, berupaya menyelesaikan masalah tersebut.
  2. Ay 17: Yesus datang untuk menggenapi Hukum Taurat: “Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya.” Jemaat Kristen tidak boleh melawan dan menutup diri terhadap Hukum Taurat. Dalam Hukum Lama terkandunglah Hukum Baru. Dalam Perjanjian Lama terkandunglah Perjanjian Baru. Yesus menggenapi Hukum Lama dengan kata, tindakan, dan karya-Nya, yang tidak lain adalah mewujudkan kasih Allah.
  3. Ay 18-19: “Siapa yang meniadakan salah satu perintah Hukum Taurat sekali pun yang paling kecil … ia akan menduduki tempat yang paling rendah dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah Hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga.” Kata-kata Yesus tersebut menegaskan tiga hal: a) antara Perjanjian Lama, Yesus dari Nasaret, dan Roh Kudus tidak dapat dipisahkan, b) Kerajaan Allah akan ditempati oleh siapa saja yang mengajarkan tentang keadilan dan belas kasih, serta mereka yang mengasihi Allah dan sesama, c) mereka yang acuh tak acuh terhadap Hukum Allah tidak akan bisa masuk Kerajaan Allah.
  4. Tugas kita: berusaha memenuhi Hukum Tuhan dengan mengasihi Allah dengan sepenuh hati dan mengasihi sesama lebih penuh dan tanpa menghakimi.

 

(MS)