SABDA, Rabu, 17-5-2017, “AKULAH POKOK ANGGUR DAN KAMULAH RANTING-RANTINGNYA”

BACAAN

Kis 15:1-6 – “Paulus dan Barnabas pergi kepada rasul-rasul dan panatua-panatua di Yerusalem untuk membicarakan soal-soal yang timbul di tengah jemaat”
Yoh 15::1-8 – “Barangsiapa tinggal di dalam Aku, dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak”

 

RENUNGAN

  1. Injil hari ini, dan juga besok, menghadirkan bagian dari refleksi Yesus sekitar pokok anggur. Untuk memahami dengan baik perumpaan ini, sangatlah penting untuk mencermati kata-kata yang dipakai oleh Yesus.
  2. Ay 1-2: “Akulah pokok anggur yang benar.” Dalam Perjanjian Lama, gambaran kebun anggur menyatakan Umat Israel (Yes 5:1-2). Umat Israel seperti kebun anggur, di mana Tuhan menanam dengan kelembutan di bukit-bukit Palestina (Mzm 80:9-12). Tetapi kebun anggur itu tidak sesuai dengan harapan Tuhan: pohon anggur menghasilkan buah yang asam yang tidak berguna sama sekali (Yes 5:3-4).
  3. Karena tidak sesuai dengan harapan Tuhan, maka Yesus hadir sebagai pohon anggur yang baru dan pokok anggur yang benar. Tuhan Yesus berkata: “Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersikan-Nya, supaya ia lebih banyak bebuah.” Ranting yang dipotong pasti sakit, tetapi perlu. Memotong ranting, merupakan tindakan untuk memurnikan pohon anggur, dengan demikian pohon akan tumbuh subur dan menghasilkan lebih banyak buah.
  4. Ay 3-6: “Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.” Para murid sudah dibersihkan lewat Sabda yang mereka dengar dari Yesus. Sampai sekarang, Tuhan terus membesihkan kita mewat Sabda Kitab Suci dan banyak cara lain. Yesus mengatakan: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya.” Pokok anggur tidak mungkin ada kalau tanpa ranting. Kita merupakan bagian dari Yesus. Agar supaya ranting menghasilkan buah, maka ranting harus menyatu dengan pokoknya. “Di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Ranting yang tidak menghasilkan buah akan dipotong. Dan ranting akan menjadi kering dan siap untuk dibakar.
  5. Ay 7-8: “Tetaplah di dalam kasih-Ku.” Yesus yang selalu bersatu dengan Bapa adalah model hidup kita. Ia berkata: “Sebagaimana Bapa mengasihi Aku, demikian Aku mengasihi kamu. Tetaplah di dalam kasih-Ku.” Dengan Sabda-Nya, Ia mendesak bahwa kita harus tetap di dalam Dia dan bahwa Sabda-Nya harus tetap di dalam kita. Bahkan Ia mengatakan: “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” Yang dikehendaki Bapa ialah agar kita menjadi murid-murid Yesus dan, dengan demikian, kita menghasilkan buah banyak.
  6. Saat-saat sulit seperti apa yang justru membuat aku tumbuh dalam Tuhan?

 

(MS)