SABDA, Sabtu, 6-5-2017 “PERKATAANMU ADALAH PERKATAAN HIDUP YANG KEKAL”

BACAAN

Kis 9:31-42 – “Jemaat dibangun, dan jumlahnya makin bertambah besar, oleh pertologan dan penghiburan Roh Kudus”
Yoh 6:60-69 – “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal”

 

RENUNGAN

  1. Perikope Injil hari ini berupa percakapan para murid dengan Yesus (ay 60-66) dan percakapan Yesus dengan Petrus (ay 67-69). Tujuannya adalah untuk menunjukkan mendesaknya iman dan perlunya komitmen serius terhadap Yesus dan ajaran-Nya.
  2. Ay 60-63: Tanpa terang Roh Kudus maka kata-kata Yesus tidak dapat dimengerti. Banyak murid berpikir bahwa Yesus akan pergi sangat jauh. Selama perayaan Paskah, Yesus menjadi bagian paling sentral. Dengan alasan ini maka banyak murid meninggalkan Yesus. Yesus menanggapinya dan berkata: “Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna.” Hanya dengan Roh Kudus orang bisa memahami apa yang dimaksudkan oleh Yesus (Yoh 14:25-26; 16:12-13). Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus mengatakan: “Hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan” (2Kor 3:6).
  3. Ay 64-66: Beberapa dari antara kamu tidak percaya. Dalam percakapan ini Yesus menampilkan diri sebagai makanan yang memuaskan lapar dan dahaga bagi mereka yang mencari Allah. Bangsa Israel telah dicobai di Meriba. Ketika mereka lapar dan haus di padang gurun, banyak orang meragukan kehadiran Tuhan di tengah-tengah mereka: “Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?” (Kel 17:7), dan mereka melawan Musa (Kel 17:2-3; 16:7-8). Mereka menginginkan kembali ke Mesir. Para murid juga jatuh pada penggodaan yang sama, mereka ragu-ragu atas kehadiran Yesus dalam pemecahan roti. Ketika mereka mendengar kata-kata Yesus “makanlah daging-Ku dan minumlah darah-Ku”, banyak yang mengeluh seperti bangsa Israel ketika di padang gurun (Yoh 6:60) dan memutuskan untuk meninggalkan Yesus: “Mulai dari waktu itu murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Dia” (Yoh 6:66).
  4. Ay 67-71: Pengakuan Petrsus. Akhirnya hanya 12 murid yang tersisa. Yesus berkata kepada mereka: “Apakah engkau ingin pergi juga?” Yesus bicara tidak untuk menyenangkan dan mengikuti selera mereka. Ia bicara untuk menyatakan siapa Bapa dan tidak untuk menyenangkan manusia. Ia lebih baik sendirian, dan tidak disertai oleh orang-orang yang tidak memiliki komitmen dengan rencana Bapa. Petrus menjawab: “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami percaya dan tahu bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.” Bahkan tanpa mengerti sesuatu, Petrus menerima Yesus sebagai Mesias dan percaya kepada-Nya. Atas nama kelompok, ia mengakui imannya dalam roti yang dipecahkan dan dalam Sabda-Nya. Dalam segala keterbatasannya, Petrus tidak seperti Nikodemus yang ingin melihat semua hal sesuai dengan gagasannya sendiri. Tetapi di antara 12 ada seorang yang tidak menerima rencana keselamatan Yesus. Ia musuh (Setan) yang berasal dari lingkaran dalam (Yoh 6:70-71).
  5. Apa jawaban kita atas pertanyaan Yesus: “Apakah kamu ingin pergi juga?” Sekarang ini banyak orang meninggalkan Yesus. Bagaimana tanggapan kita?

 

(MS)