SABDA, Sabtu, 29-4-2017, “AKU INI, JANGAN TAKUT!”

BACAAN

Kis 6:1-7 – “Mereka memilih tujuh orang yang penuh Roh Kudus”
Yoh 6:15-21 – “Para murid melihat Yesus berjalan di atas air”

 

RENUNGAN

  1. Injil hari ini mengisahkan episode perahu para murid yang ditimbus gelombang laut. Saat itu Yesus berada di gunung, para murid-Nya di laut dan orang-orang berada di darat. Dengan melukiskan kejadian itu, Yohanes Penginjil mencoba membantu jemaat-jemaat Kristen untuk menemukan misteri yang membungkus pribadi Yesus. Untuk melakukan hal itu, Yohanes mengingatkan kembali teks-teks Perjanjian lama, khususnya peristiwa Keluaran dari Mesir.
  2. Ketika Yohanes menulis Injilnya, perahu kecil para jemaat harus menghadapi angin yang berlawanan antara orang-orang Yahudi yang menjadi Kristen, yang ingin mengurangi misteri Yesus dalam ramalan kenabian dan Perjanjian Lama. Di lain pihak, jemaat juga mengahadapi orang-orang penyembah berhala yang menjadi Kristen yang berpikir, bahwa sangat mungkin adanya persekutuan antara Yesus dengan Kekaisaran. Jemaat Kristen menghadapi masalah yang pelik sekaligus berat.
  3. Ay 15: Yesus berada di gunung. Ketika orang-orang menyaksikan penggandaan roti, orang-orang menyimpulkan bahwa Yesus adalah Mesias yang ditunggu-tunggu, karena menurut harapan orang-orang pada waktu itu, Mesias akan mengulangi tindakan Musa: memberi makan banyak orang di gurun pasir. Karena alasan ini, menurut ideologi pada waktu itu, orang-orang berpikir bahwa Yesus adalah Mesias. Karena itu mereka ingin menjadikan Yesus sebagai Raja (Yoh 6:14-15). Keinginan mereka ini merupakan sebuah penggodaan bagi Yesus, juga bagi para murid-Nya. Dalam Injil Markus, Yesus mengharuskan para murid-Nya masuk ke dalam perahu dan pergi ke seberang danau (Mrk 6:45). Yesus menghendaki agar pikiran para murid-Nya tidak diracuni oleh ideologi pada waktu itu. Hal ini merupakan sebuah tanda bahwa “ragi Herodes dan orang-orang Parisi”, sangat kuat (Mrk 8:15). Yesus menghadapi pencobaan ini dengan doa di atas gunung.
  4. Ay 16-18: Situasi para murid. Hari menjelang malam. Para murid turun ke laut; mereka masuk ke dalam perahu dan mengarahkannya ke Kaparnaum. Yohanes mengatakan bahwa sudah gelap karena malam dan Yesus belum juga datang. Yohanes mengingatkan akan peristiwa Keluaran dari Mesir: menyeberangi laut di tengah banyak kesulitan. Di lain pihak, ia mengingatkan situasi jemaat Kristen di dalam kekaisaran Romawi. Maksudnya: jemaat-jemaat Kristen pada waktu itu hidup dalam situasi yang gelap, di satu pihak adanya guncangan angin dan laut, di lain pihak Yesus terasa tidak hadir.
  5. Ay 19-20: Situasi yang berubah. Yesus mencapai mereka dengan berjalan di atas laut kehidupan. Para murid takut. Sebagaimana terjadi dalam kisah murid Emaus, mereka tidak mengenal Yesus (Luk 24:28). Yesus mendekat dan berkata: “AKU INI, JANGAN TAKUT!” Bagi mereka yang tahu cerita Perjanjian Lama, Yohanes mengingatkan kembali beberapa fakta sangat penting: (a) Orang-orang Israel, yang dilindungi Allah, menyeberangi Laut Merah tanpa takut. (b) Allah, ketika memanggil Musa, Ia menyatakan nama-Nya dengan berkata: “AKU INI!” (Kel 3:15). (c) Yesaya mengisahkan kembalinya bangsa Israel dari pembuangan, Tuhan menampakkan banyak kali dengan mengatakan “AKU INI!” (Yes 42:8; 43:5.11-13; 44:6.25; 45:5-7).
  6. Dalam peristiwa Keluaran, umat Israel menyeberangi laut menuju kebebasan, menghadapi dan mengalahkan laut. Tuhan membelah laut dengan napas-Nya dan umat Israel menyeberangi laut yang kering (Kel 14:22). Di tempat lain, Kitab Suci menunjukkan Tuhan yang mengalahkan laut (Kej 1:6-10; Mzm 104:6-9). Dalam bagian ini Yesus menyatakan keallahan-Nya dengan menguasai dan mengalahkan laut, mencegah perahu dan para murid-Nya tersapu ombak. Dengan cara mengingatkan akan peristiwa dalam Perjanjian Lama ini, membantu jemaat-jemaat Kristen untuk menerima dengan lebih baik kehadiran Allah dalam diri Yesus dan dalam kenyataan hidup.
  7. Ay 21: Mereka mencapai pelabuhan yang diinginkan. Mereka ingin membawa Yesus ke dalam perahu, tetapi tidak perlu, karena perahu telah sampai di pantai tempat yang mereka tuju. Mereka sampai di tempat yang mereka inginkan. Pemazmur mengatakan: “Dibuatnyalah badai itu diam, sehingga gelombang-gelombangnya tenang. Mereka bersukacita, sebab semuanya reda, dan dituntun-Nya mereka ke pelabuhan kesukaan mereka” (Mzm 107:29-30).
  8. Yesus menggunakan perubahan cuaca di danau Galilea, dari tenang menjadi tiba-tiba ganas, untuk menguji para murid-Nya yang ketakutan agar mereka lebih percaya kepada-Nya. Kita juga mengalami badai kehidupan yang sering terasa sangat berat. Iman kita diuji justru saat kita mengalami badai dahsyat ini. Seolah-olah Yesus tidak pernah hadir dalam situasi sulit itu. Dalam badai kehidupan, seringkali, kita menjadi lemah, kecewa, dan putus asa. Sebenarnya Yesus selalu berkata kepada kita: “AKU INI , JANGAN TAKUT!” Karena kita terlalu memusatkan diri pada beban-beban hidup yang berat, sampai tidak mampu lagi mendengarkan suara Yesus. Kita tidak sendirian, khususnya pada saat-saat mengalami hidup yang berat atau saat kita kehilangan arah. Yesus bersama kita dan selalu berkata: “AKU INI, JANGAN TAKUT!”
  9. Berjalan tanpa Yesus, kita akan tersesat. Berjalan bersama Dia, kita akan sampai di tempat yang kita inginkan. Resapkan dan ulangi terus kata-kata Yesus: “AKU INI, JANGAN TAKUT!”

 

(MS)