SABDA, Rabu, 19-4-2017, DUA MURID MENUJU EMAUS

BACAAN

Kis 3:1-10 – “Apa yang kupunyai, kuberikaan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, berjalanlah!”
Luk 24:13-35 – “Mereka mengenali Yesus pada waktu Ia memecah-mecahkan roti”

 

RENUNGAN

  1. Injil hari ini berbicara tentang penampakan Yesus kepada dua murid-Nya yang menuju Emaus. Injil Lukas ditulis tahun 80, di mana suasana bangsa Israel sedang mengalami kegelapan. Tahun 64 terjadi pembunuhan besar yang dilakukan oleh Nero. Tahun 70 Yerusalem dan Bait Allah dihancurkan oleh orang-orang Romawi. Tahun 72 terjadi pembantaian terhadap pemberontakan kaum Yahudi. Tahun-tahun itu, para saksi kebangkitan pelan-pelan menghilang. Umat Allah merasa lelah dengan kejadian-kejadian tersebut. Penampakan kepada dua murid Emaus memberi jawaban terhadap semua penderitaan yang mencekam ini.
  2. Langkah I: Melarikan diri dari realitas hidup. Yesus berjumpa dua sahabat yang sedang berada dalam situasi takut dan kurangnya iman. Salib dan kematian telah membunuh harapan mereka. Itu merupakan situasi umum umat Kristen jaman Lukas, dan juga sekarang. Yesus mendekati mereka dan berjalan di samping mereka. Ia mendengar pembicaraan mereka dan bertanya: “Apa yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?” Propaganda ideologis yang dilancarkan pemerintah dan pemuka agama menghalangi mereka untuk mampu melihat Yesus. “Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel.” Mereka sedih dan kecewa.
  3. Langkah II: Menggunakan Kitab Suci untuk menerangi hidup. Yesus menggunakan Kitab Suci dan sejarah untuk menerangi masalah yang membuat dua murid tersebut menderita. Ia juga menggunakan Kitab Suci untuk menempatkan mereka dalam seluruh rencana Allah mulai dari Musa dan para nabi. Dengan demikian Ia menunjukkan bahwa sejarah tidak bisa lepas dari tangan Allah. Yesus tidak hanya ahli Kitab Suci yang mengerti segalanya, tetapi membantu sahabat-Nya untuk mengingat kembali apa yang telah mereka lupakan. Yesus mencoba untuk membangkitkan memori mereka: “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!”
  4. Langkah III: Berbagi dalam komunitas. Kitab Suci tidak dengan sendirinya membuka mata mereka. Kitab Suci hanya membakar hati mereka. Yang membuat mata mereka terbuka adalah pemecahan roti. Saat mereka mengenal Yesus, mereka lahir baru dan Yesus menghilang.
  5. Langkah IV: Hasil – Mengalami kebangkitan berarti kembali ke Yerusalem. Mereka berdua, dengan berani, kembali ke Yerusalem menghadapi realitas hidup, di mana kekuatan kematian, yang telah membunuh Yesus, dan membunuh harapan mereka, terus mengancam. Tetapi sekarang semuanya telah berubah: Yesus hidup. Dalam Dia dan bersama Dia ada kuasa yang lebih kuat daripada kuasa yang membunuh Dia. Pengalaman ini membuat mereka bangkit kembali dari keterpurukan. Sungguh semuanya telah berubah. Berani menghadapi realitas dan tidak melarikan diri! Iman dan bukan tidak percaya! Harapan dan bukan keputus-asaan! Kemerdekaan dan bukan penindasan! Kehidupan dan bukan kematian! Itulah pengalaman hidup baru dalam Kristus, hidup dalam kepenuhan (Yoh 10:10). Itulah tanda bahwa Roh Kristus bertindak dalam diri mereka.

 

(MS)