(6) SENGSARA MEMBAWA HIKMAT

”Yesus mengatakan kepadaku bahwa HatiNya paling senang kalau aku merenungkan sengsaraNya yang memilukan; berkat renungan seperti itu cahaya cemerlang menerangi jiwaku. Barangsiapa mau mempelajari krendahan hati yang sejati hendaklah ia merenungkan sengsara Yesus. Ketika aku merenungkan sengsara Yesus, aku memperoleh pemahaman yang jelas mengenai banyak hal yang sebelumnya tidak dapat kupahami. Aku ingin menyerupai Engkau, ya Yesus yang disalibkan, disiksa dan dihina. Yesus, ukirlah kerendahan hatiMu sendiri pada hati dann jiwaku. Yesus, aku mencintai Engkau dengan tergila-gila, Engkau yang terhimpit penderitaan sebagaimana dilukiskan oleh nabi seolah-olah ia tidak dapat melihat rupa manusia di dalam diriMu karena begitu besarnya penderitanMu. Dalam keadaan seperti inilah, ya Yesus, aku mencintai Engkau dengan tergila-gila. Ya Allah yang kekal dan tak terhingga, apakah yang sudah dilakukan oleh cinta terhadap Engkau…? (BCH 267)

Pokok Renungan:

 Banyak orang menderita sengsara karena berbagai sebab. Bisa datang dari diri sendiri, misalnya karena kesalahan ataupun karena perbuatan dosa, atau bisa datang dari orang lain. Banyak orang yang dikuatkan hidupnya, namun tidak sedikit  pula yang frustrasi dan putus asa karena kesengsaraannya. Persoalannya adalah: bagaimana menghadapi sengsara agar membawa hikmat.

Yesus pun mengalami sengsara yang teramat pedih, kesepian dan merasa ditinggalkan Bapa-Nya: “Ya Allah-Ku, ya Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku.” Yesus tidak pernah menyalahkan siapapun, termasuk para penyiksa-Nya, bahkan memohonkan pengampunan: “Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.”  Yesus hanya pasrah kepada Bapa-Nya: “Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Sengsara dan kematian Yesus di kayu salib serta kebangkitan-Nya memperolehkan keselamatan bagi banyak orang. Sengsara membawa selamat.

Bagaimana dengan Suster Faustina? Sengsara dan penderitaan tidak bisa dipisahkan dari hidupnya. Di komunitasnya, Suster Faustina selalu disalahtafsirkan oleh para Suster, tdk dipercayai para superior, bahkan ia dikatakan hidup dalam ilusi (BCH 38), dianggap sebagai orang yang berkayal dan histeris (BCH 125), dicurigai dan dihakimi oleh suster-suster yang lain (BCH 128), direndahkan (BCH 133), diperlakukan tidak adil (BCH 149), dicela atas pekerjaannya (BCH 182), dituduh munafik dan tidak percaya pada Yesus (BCH 200), seorang Suster menganiaya dengan menyalahkan dan mencemoohkan ilham-ilham yang ia terima (BCH 1527). Penderitaan Suster Faustina sangat lengkap dan sempurna.

Kita dapat menimba kekuatan dari derita dan sengsara Suster Faustina, karena, bagi Sustser Faustina penderitaan: memberi terang dan kekuatan untuk menerima kehendak Allah (BCH 67), penderitaan adalah rahmat yang besar dan boleh mengandalkan Allah (BCH 68), menyadari kerapuhannya namun mengandalkan kerahiman Tuhan (BCH 66), dalam penderitaan tidak pernah mengabaikan Komuni Kudus (BCH 105), setia (BCH 111), ingin menanggung penderitaan dengan berdiam diri (BCH 126), penderitaannya adalah sebagai silih untuk komunitasnya (BCH 190), mempersenjatai diri dengan keheningan dan kesabaran.

 

(MS)