(5) KERINDUAN UNTUK MENCINTAI ALLAH SECARA TOTAL

“O Yesusku, Engkau tahu bahwa aku ingin mencintai Engkau dengan cinta yang belum pernah ditunjukkan oleh satu jiwa pun sebelum aku. Aku ingin seluruh dunia diubah menjadi cinta akan Dikau, Mempelaiku. Dengan madu dan susu HatiMu, Engkau menyuapi aku. Sejak tahun-tahun awalku, Engkau mendidik aku hanya untuk diriMu sendiri sehingga sekarang aku tahu bagaimana mencintai Engkau. Engkau tahu bahwa aku mencintai Engkau sebab Engkau sendiri mengetahui besarnya pengurbanan yang kupersembahkan kepadaMu setiap hari” (BCH 1771)

Bacaan Kitab Suci: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamju manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat 22:37-40).

Pokok Renungan:

Kerinduan St. Faustina untuk mencintai Allah begitu dahsyat: “Ya Kebaikan yang Tertinggi, aku ingin mencintai Engkau melebihi semua orang di bumi yang pernah mencintai engkau sebelum aku!” (BCH 296). “Ya Kristus, ya Yesus, aku ingin mengungguli mereka (para Serafim) dalam cintaku akan Dikau!”(Bch 334). Tidak ada yang bisa menghentikan kasih Faustina kepada Yesus, baik itu penderitaan, api, pedang, maupun kematian (BCH 340). Belum pernah ada orang yang memiliki kerinduan seperti dia. Kita pun sulit membayangkannya.

Sikap yang ditunjukkan Faustina dalam mengasihi Tuhan: 1) Apa pun yang dilakukan Tuhan terhadapnya, dia tetap mencintaiNya (BCH 1145). 2) Dalam segala rintangan, ia tetap mengandalkan Tuhan (BCH 1195). 3) Ia mengasihi setiap orang, terutama orang-orang yang memusuhinya (BCH 1695). Dapat dikatakan: seluruh hidup Faustina menjadi persembahan kepada Tuhan.

Dalam sejarah Gereja, banyak orang kudus dan para martir, dengan gagah perkasa, menyerahkan nyawa mereka demi kesetiaan dan kasih  kepada Kristus yang terlebih dahulu telah menyerahkan nyawaNya bagi mereka, seperti ditulis oleh Yohanes: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13).

Bagaimana dengan kita para devosan Kerahiman Ilahi? Beranikah kita memiliki mimpi tentang kasih seperti dirindukan oleh St. Faustina?

Dalam “Doa Penyerahan” (PS no. 220) tertulis kalimat-kalimat yang tajam: “Lakukanlah atas diriku apa yang Kaukehendaki. Apa pun yang Kau perbuat, aku bersyukur kepadaMu. Aku siap untuk segalanya. KepadaMu kupersembahkan hidupku dengan segenap cinta yang membara dalam hatiku, sebab aku mencintaiMu, ya Tuhan.” Dan seterusnya. Kita sering mengucapkan doa itu, juga doa-doa yang lain, misalnya doa Bapa Kami, tetapi jiwa kita tidak pernah tergetar seperti dialami St. Faustina. Bagi St. Faustina, setiap doa, meditasi, kontemplasi, menerima sakramen, khususnya Ekaristi, selalu membuat jiwanya tergetar dan hidupnya menjadi baru.

Kecintaan kita kepada Tuhan akan diuji ketika hidup kita sedang berada dalam kegelapan, kegagalan, dan pencobaan. Rasul Yakobus memberi nasehat: “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia” (Yak  1:12).

 

(MS)