(2) CINTA TUHAN SAMPAI KE TULANG SUMSUM

“Bahkan sampai detak jantungku pun berdenyut hanya untukMu Tuhan, begitulah cintaku padaMu.”

” Suatu pencerahan yang kupetik dari meditasi pagi: Apapun juga yang Kau lakukan terhadapku, ya Yesus, aku tetap akan mencintai Engkau karena aku adalah milikMu. Tidak menjadi masalah, apakah Engkau membiarkan aku berada di sini atau menempatkan aku di tempat lain; aku selalu milikMu. Karena cintalah aku menyerahkan diriku kepada ketetapanMu yang paling bijaksana, ya Allah; kehendakMu, O Tuhan, adalah makanan harianku. Engkau, ya Yesusku, mengenal bahwa jantungku; dan Engkau juga mengenal bahwa jantungku berdenyut hanya bagiMu. Tidak suatupun dapat meredakan kerinduanku akan Dikau. Aku merana karena merindukan Engkau, ya Yesus. Kapan Engkau akan menjemput aku untuk masuk ke tempat kediamanMu?(BCH 1145)

Bacaan Kitab Suci: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal”  (Joh 3:16)

Pokok Renungan:

Catatan dalam BCH no 1145 ini dibuat oleh St. Faustina ketika mengadakan retret bulanan. Dalam suasana retret, jiwa berada dalam pencerahan dan dalam kesatuan yang erat dengan Tuhan. Ia mengungkapkan tanggapannya atas cinta Tuhan kepada dirinya.

St. Faustina tidak bisa tinggal diam atas kasih Allah kepada dirinya. Dari BCH no 1145 terungkap: 1) Ia siap menerima perlakuan apa saja dari Tuhan, karena ia merasa menjadi milikNya. 2) Ia selalu siap menyerahkan diri pada ketetapan Tuhan. 3) Kehendak Allah menjadi makanannya setiap hari. 4) Seluruh dirinya hanya untuk Allah. 5) Ia selalu rindu pada Allah dan tak ada seorangpun yang bisa meredakan kerinduannya kepada Allah. 6) Bahkan, saking cintanya pada Tuhan, St. Faustina rindu dijemput Allah untuk masuk ke tempat kediamanNya.

Ketika St. Faustina berhadapan dengan Kebaikan yang Tertinggi, ia menulis: “Aku ingin mencintai Engkau melebihi semua orang di bumi yang pernah mencintai Engkau sebelum aku!” (BCH 296. 1771). St. Faustina ingin mengungguli cinta Serafim kepada Tuhan (BCH 334). Ia ingin mencintai Allah dengan cinta sedemikian besar sehingga tidak ada cinta pada Tuhan seperti itu (BCH 1372).

Cinta Tuhan yang begitu mendalam kepada St. Faustina dibalas dengan cinta total juga oleh St. Faustina. Tuhan Yesus menghendaki agar cinta Faustina pada Allah diwujudkan dalam cinta kepada orang-orang yang menyebabkannya menderita, berbuat baik kepada orang-orang yang membencinya, dan berdoa bagi mereka (BCH 1628). Faustina melakukannya dengan sempurna.

Sadarkah kita sebagai pribadi yang dikasihi Tuhan? Mengalami cinta Tuhan akan sangat mempengaruhi cinta kita kepada Tuhan dan kepada orang lain. St. Petrus, Paulus, Matius, Thomas, dan rasul-rasul lain, serta St. Faustina dan para kudus lainnya, mengalami perjumpaan dengan Tuhan secara langsung. Mereka hidup seutuhnya hanya demi kemuliaan Tuhan, tak ada yang tersisa untuk dirinya sendiri.

Bagaimana dengan kita? Kita masih suka marah, mudah tersinggung, iri hati, benci, balas endam, egois, sombong, dan munafik. Jauh dari cara hidup St. Faustina. Untuk mampu mencintai Tuhan secara total dan sempurna, kita perlu bertobat terus menerus. Dengan bertobat, maka “Allah yang maharahim tidak menghukum manusia yang jatuh ke dalam dosa, malah mengampuni” (BCH 1745).


 (MS)