SABDA, Senin, 20-3-2017, Hari Raya St. Yusuf suami Maria

BACAAN

2Sam 7:4-5a.12-14a.16 – “Tuhan Allah akan memberikan kepada Dia takhta Daud BapaNya”
Rom 4:13.16-18.22 – “Sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, Abraham toh berharap dan percaya
Mat 1:16.18-21.24a – “Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan”

RENUNGAN

  1. Hari ini Gereja merayakan St. Yusuf suami Maria. Injil hari ini merupakan bagian dari Bab I Injil Matius, yang berisi proses kehamilan, kelahiran dan kanak-kanak Yesus. Pusat dari semua ini adalah Yesus. Sedangkan Yusup, Maria, dan yang lain menunjuk ke arah pusat, yaitu Yesus.
  2. Dari silsilah Yesus hendak menunjukkan bahwa Yesus adalah keturunan Daud. Pentingnya Yusuf adalah karena dia keturunan Daud (Mat 1:20), sehingga Yesus pun termasuk keturunan Daud karena Yusuf. Yusuf adalah orang tua Yesus menurut hukum. Karena itu dari awal silsilah, Yesus sudah ditulis sebagai “Yesus Kristus, Anak Daud” (Mat 1:1).
  3. Yusuf dikenal sebagai “seorang yang tulus hati” (ay 19). Dalam Kitab Suci, Allah mencintai orang yang tulus hati, benar, dan tidak bercela. Dan berkali-kali  Allah memilih mereka untuk sebuah perutusan penting, melindungi mereka dari orang-orang yang tidak bertuhan (Kej 28:23 ss). Dalam Perjanjian Lama, salah satu dari mereka  adalah Nuh (Kej 6:9).
  4. Di samping Yusup sebagai orang yang tulus hati dan benar, ia juga sebagai orang yang rendah hati. Karena sikapnya ini, “ia tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum” (Mat 1:19). Melalui malaikat yang menampakkan diri kepadanya, Yusup siap menjadi ayah angkat dari anak yang dikandung Maria, yang sebenarnya berasal dari Roh Kudus. Dengan demikian rencana keselamatan Allah terlaksana.
  5. Dibangdingkan dengan Daud dan Salomo, Yusuf jauh lebih berani daripada Daud dan lebih bijaksana daripada Salomo, nenek moyangnya. Bayangkan ketika ia bersama Maria menuju Betlehem, tidak ada tempat penginapan bagi mereka. Yusup tidak mengeluh, dan tidak marah. Ketika malaikat Tuhan meminta agar Yusup pergi ke Mesir, maka ia pun pergi. Ketika malaikat memerintahakan untuk kembali, maka ia kembali. Yusuf mengikuti kehendak Allah dengan penuh cinta.
  6. Dari Injil hari ini, kita tahu siapa Allah. Ia adalah Tuhan yang selalu beserta kita. Tuhan yang selalu mengambil inisiatip terlebih dahulu, yang selalu mengundang kita, dan yang selalu menginginkan agar semua manusia mendekat kepadaNya dan mendekat satu sama lain sebagai saudara. Tuhan tidak datang dalam kekuatan, keagungan, dan kemuliaan, tetapi sebagai seorang anak yang tak berdaya. Sebagai seorang  anak, Tuhan selalu dihina. Sebagai seorang manusia, Ia memiliki semua keterbatasan seperti kita, namun Ia menunjukkan cinta yang tak terbatas dan tanpa syarat  kepada kita.
  7. Yusuf dan Maria adalah model dan teladan iman bagi kita. Bagaimana imanku bila bercermin pada Yusuf dan Maria? Allah, dalam diri Yesus, telah mencintai kita dengan cinta yang tanpa batas dan tanpa syarat. Bagaimana kasih dan cintaku kepada Allah dan kepada saudara-saudara di sekitarku?

 

(MS)