SABDA, Sabtu, 18-3-2017, TUHAN MERINDUKAN ORANG BERDOSA UNTUK BERTOBAT

BACAAN

Mika 7:14-15.18-20 – “Semoga Tuhan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut”
Luk 15:1-3.11-32 – “Akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yag bertobat”

RENUNGAN

  1. Orang-orang Parisi mengkritik Yesus, karena Ia tidak hanya menerima para pendosa, tetapi juga makan bersama mereka. Yesus menanggapinya dengan 3 perumpamaan: domba yang hilang (ay 3-7), dirham yang hilang (ay 8-10), dan  anak yang hilang (ay 11-32). Gembala, seorang wanita, dan ayah dalam perumpamaan tersebut melambangkan Allah. Anak sulung melambangkan keagamaan garis keras, di dalamnya ada: orang Parisi, ahli Kitab dan para pejabat keagamaan lainnya. Anak bungsu melambangkan orang-orang kafir.
  2. Anak bungsu minta warisan dari ayahnya yang masih hidup. Dengan minta warisan, berarti ia kehilangan hak sebagai anak. Ayahnya membagi hartanya untuk kedua anaknya. Masing-masing menerima karena kemurahan hati ayahnya. Siapa pun juga akan menerima warisan dari Allah. Walaupun semua menerima bagiannya, tetapi tidak semua orang memperlakukan warisan tersebut dengan cara yang sama. Anak bungsu pergi jauh dan menghabiskan semua hartanya.
  3. Anak bungsu menderita kelaparan di negeri orang. Ia telah kehilangann kebebasannya, menjadi budak dan penggembala babi. Ia ingat akan ayahnya dan ingin kembali pulang. Ia menyesali perbuatannya: “Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa.”
  4. Ayahnya selalu menunggu dan selalu melihat ke jendela, jangan-jangan anaknya pulang. Ketika anaknya masih jauh, ayahnya lari menjemput dia, memeluk dan mencium dia. Ayah itu tidak menghendaki, anaknya menjadi budak. Ia harus tetap menjadi anaknya. Maka ayahnya mengadakan pesta besar dan memulihkan hak waris anaknya tersebut.
  5. Anak sulung, yang melambangkan aliran garis keras, termasuk orang Parisi, para ahli kitab, dan para pejabat, sangat marah dengan sikap ayahnya tersebut dan ia tidak mau masuk rumah. Ia tidak mau ikut dalam kegembiraan ayahnya. Golongan garis keras ini begitu teliti dan menjaga kemurnian hukum, tetapi melupakan Allah. Sebaliknya, anak bungsu punya keberanian untuk kembali kepada bapanya dan diangkat kembali sebagai anaknya dan memiliki hak waris sepenuhnya.
  6. Ayah itu membujuk si anak sulung supaya masuk rumah dan ikut ambil bagian dalam pesta kegembiraan, namun ia menolak dengan keras. Ia menghendaki pesta sendiri dengan teman-temannya, tidak dengan adiknya dan tidak dengan ayahnya, bahkan si anak sulung tidak mau mengakui adiknya lagi dan menuduh ia telah menghabiskan harta dengan pelacur-pelacur.
  7. Anak sulung mewakili mereka yang merasa diri orang benar dan taat hukum, dan yang berpikir bahwa mereka tidak memerlukan pertobatan.
  8. Dalam masa Prapaskah ini bentuk pertobatan konkret apa yang harus kita wujudkan agar kita mengalami suka cita dalam Allah?

 

(MS)