SABDA, Rabu, 22-2-2017 PESTA TAKHTA SANTO PETRUS, RASUL

BACAAN

1Petr 5:1-4 – “Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu”
Mat 16:13-19 – “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini akan Kudirikan jemaatKu”

 

RENUNGAN

  1. Yesus ingin tahu pendapat orang banyak tentang diriNya. Jawaban mereka: Yohanes Pembaptis, Yeremia, atau salah satu dari nabi-nabi. Ketika Yesus menanyakan pendapat para murid, Petrus menjawab: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Jawaban Petrus ini bukan hal baru, karena waktu Yesus berjalan di atas air, ada pengakuan yang sama: “Sungguh Engkau Anak Allah” (Mat 14:33). Hal ini mau mengatakan bahwa nubuat-nubuat Perjanjian Lama terpenuhi.
  2. Yesus menyatakan Petrus sebagai yang berbahagia, karena ia diberi pewahyuan oleh Bapa. Pengakuan bahwa Allah hadir dalam diri Yesus, bukan berasal dari darah dan daging, bukan hasil dari sebuah studi atau hasil usaha manusia, tetapi anugerah bahwa Allah memberi kepada siapa Ia berkenan.
  3. Petrus menjadi batu karang, pondasi yang kuat bagi Gereja. Melalui kata-kata yang disampaikan Yesus kepada Petrus ini, Matius menyemangati komunitas-komunitas Kristen di Siria dan Palestina yang mengalami penderitaan dan pengejaran. Walaupun menjadi lemah dan teraniaya, mereka memiliki pondasi yang kuat yang dijamin oleh Sabda Tuhan. Pada saat itu, komunitas-komunitas Kristen dipererat oleh ikatan sentimental yang kuat dengan para pemimpin yang telah membentuk mereka. Komunitas-komunitas Kristen Siria dan Palestina mempererat relasi mereka dengan pribadi Petrus. Dengan demikian identitas dan spiritualitas mereka terbantu untuk tumbuh dengan lebih baik.
  4. Sekarang ini: Apakah Yesus benar-benar hidup dalam diri kita? Kita memiliki Kitab Suci. Dari Kitab Suci tersebut kita bisa mengenal Yesus, seperti Petrus, Paulus, dan rasul-rasul lainnya. Tidak ada cara lain untuk mengenal Yesus, kecuali dengan membaca dan merenungkan SabdaNya tiap hari.
  5. Tiap hari Yesus bertanya kepada kita: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Pertanyaan ini mengandaikan dua hal: a) Kita memiliki relasi dengan Yesus, entah secara dangkal saja atau mendalam: sejauh mana relasi kita dengan Yesus? b) Kita menyadari peran Yesus dalam hidup kita tiap hari: Siapa Yesus bagiku saat ini? Melalui Sabda, Doa, dan Sakramen, kita membangun keakraban dengan Yesus.

 

(MS)