SABDA, Rabu, 15-2-17, YESUS MENYEMBUHKAN KEBUTAAN PETRUS DAN KEBUTAAN KITA

BACAAN

Kej 8:6-13.20-22 – “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, ……. “
Mrk 8:22-26 – “Orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas”

 

RENUNGAN

  1. Injil hari ini menampilkan mukjijat penyembuhan seorang yang buta. Kisah penyembuhan ini merupakan awal pengajaran Yesus kepada para muridNya (Mrk 8:27 sampai 10:45) dan berakhir dengan penyembuhan orang buta yang lain (Mrk 10:46-52). Dari pengajaran Yesus, sebenarnya, yang benar-benar buta adalah Petrus dan murid-murid yang lain. Mungkin kita semua juga buta. Para murid tidak paham ketika Yesus berbicara tentang Mesias dan salib. Petrus menerima Yesus sebagai Mesias, tetapi bukan Mesias yang menderita. Ia menghendaki Yesus seperti yang ia inginkan.
  2. Perikope hari ini menunjukkan betapa sulitnya menyembuhkan orang yang buta. Sama sulitnya menyembuhkan para murid. Kebutaan para murid adalah tidak memahami Salib.
  3. Orang-orang membawa seorang buta kepada Yesus agar Ia menjamah dia. Tidak seperti biasanya, kali ini Ia memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar kampung. Lalu Ia meludahi mata orang itu dan meletakkan tanganNya atasnya, dan bertanya: “Sudahkah kau lihat sesuatu?” Orang itu menjawab: “Aku melihat orang, tapi seperti pohon yang berjalan-jalan.” Ia hanya dapat melihat sebagian, bahkan menyamakan orang dengan pohon. Pada tahap berikutnya, Yesus menyembuhkan orang buta itu dan melarang: “Jangan masuk ke kampung!”
  4. Siapa orang buta itu? Sesungguhnya dia adalah Petrus. Bahkan kita pun juga buta. Petrus buta, karena tidak menghendaki Salib. Kita buta, karena kita sering tidak berani menghadapi Salib Kristus. Karena itu Yesus memberikan pengajaran panjang kepada Petrus dan para murid lainnya tentang Salib. Pengajaran tentang Salib: Pertama, Mrk 8:27-38. Kedua, Mrk 9:30-37. Ketiga, Mrk 10:32-45.
  5. Para murid Yesus baru benar-benar memahami siapa Yesus sepenuhnya ketika Roh Kudus dicurahkan kepada mereka pada saat Pentekosta. Sejak saat itulah para murid menjadi saksi Kristus yang sejati. Mereka berani kehilangan nyawa demi Kristus.
  6. Tanpa Salib tidak mungkin memahami siapa Yesus dan apa artinya mengikuti Yesus. Perjalanan mengikuti Yesus adalah jalan penyerahan diri, penyangkalan diri, kesiapsediaan, menerima segala konflik. Hanya dengan cara ini kita akan mengalami kebangkitan.
  7. Mari kita membuka mata. Jika pada mulanya kita hanya melihat dengan remang-remang, kita coba lagi dan melihat lagi. Dengan penuh harapan, kita dapat melihat dengan terang.

 

(MS)