SABDA, Rabu, 8-2-17, YANG HALAL DAN YANG NAJIS DI MATA TUHAN

BACAAN

Kej 2:4b-9.15-17 – “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya … tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati”
Mrk 7:14-23 – “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya”

 

RENUNGAN

  1. Dalam pandangan orang Yahudi waktu itu, dianggap najis bagi orang yang menyentuh orang kafir (bukan-Yahudi), bahkan kontak dengan ras lain dan agama lain pun sudah najis. Orang-orang Kristen awal dari kalangan Yahudi dianggap najis dan kafir. Tidak ada salam bagi orang-orang Kristen.
  2. Injil hari ini ditujukan kepada orang banyak. Yesus membuka jalan bagi mereka untuk dekat dengan Tuhan. Yesus berkata kepada mereka: “Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang itulah yang menajiskannya.”
  3. Dengan kata-kata tersebut, Yesus menjelaskan bahwa semua makanan adalah halal dan boleh dimakan. Semua makanan tidak menajiskan, karena masuk perut kemudian masuk ke jamban. Bagi orang Yahudi, babi adalah binatang yang paling menajiskan.
  4. Yang membuat najis adalah apa yang keluar dari hati manusia, karena dari hati orang, “timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perjinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.” Kejahatan yang timbul dari hati dan pikiran manusia bisa diperpanjang sesuai dengan perkembangan jaman saat ini.
  5. Apa yang dikemukakan oleh Tuhan tersebut jelas-jelas berlawanan dengan adat istiadat dan hukum Yahudi. Namun hukum yang disampaikan oleh Yesus ini telah membantu orang-orang untuk memperoleh kesucian dengan cara lain, yaitu dengan pertobatan batin, di mana pikiran dan batin manusia menjadi asal muasal segala kejahatan dan dosa yang menajiskan manusia.
  6. Kita harus sadar bahwa dosa itu benar-benar ada dan kita ciptakan dari pikiran dan hati kita sendiri. Tantangan bagi kita adalah bagaimana kita mampu mengurangi dan menghilangkan dosa: mulai dari dosa-dosa kecil, misalnya mengucapkan kata-kata kotor, membicarakan jeleknya orang lain sampai dosa besar yang benar-benar membelenggu dan menghancurkan kita. Tanpa pertobatan nyata, kita adalah orang-orang najis di mata Allah.

 

(MS)