SABDA, Selasa, 7-2-17, HUKUM YANG MEMBELENGGU MANUSIA BERLAWANAN DENGAN HUKUM ALLAH

BACAAN

Kej 1:20-2:4a – “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita”
Mrk 7:1-13 – “Kamu mengabaikan perintah Allah untuk berpegang pada adat istiadat manusia”

 

RENUNGAN

  1. Orang-orang Parisi dan para ahli Taurat yang datang dari Yerusalem mengamat-amati bagaimana murid-murid Yesus makan roti dengan tangan najis, karena mereka tidak membasuh tangan terlebih dahulu.
  2. Para murid, dalam Yesus, memiliki keberanian untuk melanggar aturan-aturan yang diterapkan, karena aturan itu tidak memiliki arti bagi kehidupan. Orang-orang Parisi membuat aturan, sebagai syariah, untuk mengawasi dan memata-matai orang.
  3. Ketaatan terhadap peraturan-peraturan menjadi aspek serius bagi orang-orang pada waktu itu. Mereka berpikir bahwa orang yang najis tidak akan menerima berkat seperti dijanjikan oleh Allah kepada Abraham. Namun sebenarnya, aturan-aturan tersebut menjadi sebuah belenggu. Bagi orang-orang miskin tidak mungkin melaksanakan peraturan yang jumlahnya ratusan. Karena mereka tidak mampu melaksanakan aturan-aturan, mereka dianggap bodoh dan terkutuk (Yoh 7:49).
  4. Para ahli Kitab dan orang-orang Parisi mengkritik tingkah laku para murid Yesus, karena mereka melanggar aturan tentang kesucian: “Mengapa murid-muridMu tidak hidup menurut adat-istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” Tugas para ahli kitab adalah memastikan bahwa syariat agama yang mereka buat terlaksana.
  5. Yesus balik mengkritik orang-orang Parisi dengan mengutip nabi Yesaya: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari padaKu. Percuma mereka beribadah kepadaKu, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia” (Yes 29:13).
  6. Orang-orang Parisi mendesakkan berlakunya norma-norma, tetapi mengosongkan/menghilangkan isinya. Yesus mengambil contoh konkret tentang menghormati orang tua. Ketika orang sudah mempersembahkan harta kepada Allah, maka tidak ada kewajiban lagi untuk membantu orang tuanya. Bagi orang Parisi, hukum adalah segalanya; peraturan telah menjadi tuhan mereka. Dibandingkan dengan hukum, manusia hanyalah dianggap sepele.
  7. Pesan yang bisa kita tarik dari Sabda hari ini: a) Membersihkan bagian luar saja tidak berguna ketika hati kita tetap najis. Hal ini bisa menimbulkan kemunafikan: di luarnya nampak bagus, tetapi bagian dalam penuh kotoran. b) Penyucian harus datang dari dalam: “Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya” (Mrk 7:15). Kita dituntut pertobatan terus-menerus. c) Banyak hal nampak suci bagi manusia, tetapi tidak menyenangkan hati Allah: “Peraturan-peraturan ini, walaupun nampaknya penuh hikmat dengan ibadah buatan sendiri, seperti merendahkan diri, menyiksa diri, tidak ada gunanya selain untuk memuaskah hidup duniawi” (Kol 2:23). d) Hukum yang harus kita ikuti hanyalah hukum Allah: belas kasih dan keadilan.

 

(MS)