SABDA, Rabu, 1-2-17, PENOLAKAN TERHADAP ALLAH

BACAAN

Ibr 12:4-7.11-15 – “Tuhan menghajar orang-orang yang dikasihiNya”
Mrk 6:1-6 – “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya”

 

RENUNGAN

  1. Yesus kembali ke Nasaret, tempat asalnya, dan para murid mengikuti Dia. Di sana bisa ketemu para sahabat lama. Karena hari Sabat, Ia mengajar di rumah ibadat.
  2. Ketika di Kapernaum (tempat orang-orang kafir), orang-orang menerima pengajaran Yesus (Mrk 1:22), tetapi di Nasaret (kota orang-orang Yahudi, umat pilihan Allah), mereka menolak pengajaran Yesus. Apa alasannya? Mereka mengenal Yesus sejak kecil, mengapa sekarang Ia berbeda? Mereka tidak bisa menerima misteri Allah hadir dalam diri Yesus, seorang manusia biasa. Kalau Ia berbicara tentang Allah, harus berbeda dengan mereka. Maka terjadilah konflik dengan kaum kerabatNya sendiri dan seluruh orang Nasaret. “Dari mana diperolehnya semuanya itu?” Mereka semakin tidak percaya kepada Yesus, karena Ia adalah anak seorang tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon.
  3. Yesus tahu dan sadar betul bahwa tak seorangpun menjadi nabi di daerahnya sendiri. Maka Ia berkata: “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.” Tidak ada penerimaan dan tidak ada iman terhadap Yesus, maka orang tidak dapat melakukan sesuatu. Karena tidak ada iman, maka Yesus pun tidak membuat mukjijat. “Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka.”
  4. Pernahkah kita mengalami penolakan? Ketika kita rela bekerja tanpa upah demi kepentingan Gereja, pastor dan teman-teman suka berkomentar miring. Ketika kita sudah bekerja keras untuk menghidupi keluarga, ada anggota keluarga yang bersikap tidak ramah, bahkan membandingkan dengan orang lain yang lebih sukses. Bagaimana kita harus bersikap?
  5. Menanggapi dengan emosinal dan marah, justru akan membuat suasana makin gelap dan runyam. Dan hal ini yang sering kita buat bukan? Kita harus mengubah cara pandang dan pola pikir ke arah yang positip, melihat permasalahan dengan tenang dan jernih. Pengalaman ditolak harus membuat kita belajar menjadi rendah hati, semakin berserah diri kepada Tuhan. Kita selayaknya bercermin pada kesaksian rasul Paulus: “Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat” (2Kor 12:10).

 

(MS)