SABDA, Jumat, 27-1-17, HATI MANUSIA TEMPAT BERSEMAINYA KERAJAAN ALLAH

BACAAN

Ibr 10:32-39 – “Kamu telah menderita banyak. Sebab itu janganlah melepaskan kepercayaanmu”
Mrk 4:26-34 – “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, … Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah … “

 

RENUNGAN

  1. Yesus mengisahkan dua cerita pendek yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari: Biji yang ditaburkan di tanah dan tumbuh dengan sendirinya dan kisah tentang biji sesawi yang tumbuh menjadi tumbuhan semak yang paling besar.
  2. Orang yang menaburkan benih di tanah, tahu tumbuhnya biji: biji, tunas, daun, tangkai, dan buah. Penabur juga tahu bagaimana ia harus menanti. Ia tidak memotong bulir-bulir padi sebelum waktunya. Tetapi ia tidak tahu bagaimana tanah, hujan, sinar matahari membuat biji memiliki daya tumbuh, yang dari semula bukanlah apa-apa sampai berbuah. Itulah Kerajaan Allah. Kerajaan Allah yang tumbuh dalam hati manusia perlu sebuah proses, ada tahap-tahapnya dan saat untuk tumbuh. Semuanya butuh waktu. Tanaman itu menghasilkan buah, tetapi tak seorang pun tahu bagaimana prosesnya. Tak seorang pun tahu, hanya Tuhan yang tahu.
  3. Kerajaan Allah juga diumpamakan dengan biji sesawi. Biji itu sangat kecil, tetapi biji itu tumbuh menjadi pohon yang besar dan burung-burung bersarang pada dahan-dahannya. Biji sesawi tak lain adalah Sabda Allah dan hati manusia merupakan ladang persemaian. Manusia mempunyai kebebasan untuk memilih. Ia bisa memutuskan untuk ikut Yesus atau melawan Yesus.
  4. Hati kita menjadi tempat persemaian biji sesawi; tempat persemaian Sabda Tuhan, jika kita memeliharanya. Jika demikian halnya, maka Sabda Tuhan akan tumbuh dan menjadi besar dalam diri kita, dan kita akan menjadi tempat berteduh dan harapan bagi mereka yang membutuhkan.
  5. Dari perumpamaan pertama, kita dipanggil Tuhan untuk bertindak, namun tidak perlu cemas sedikit pun akan hasilnya. Yang sering terjadi, kita banyak waktu untuk cemas tentang hasil tindakan kita, bahkan sebelum kita melakukannya. Perumpamaan kedua: meyakinkan kita bahwa tindakan kita akan menghasilkan buah berlimpah.
  6. Bagaimana situasi Kerajaan Allah dalam diri Anda saat ini? Dan bagaimana Anda memeliharanya?

 

(MS)