SABDA, Senin, 26-12-16 : ST. STEPHANUS BERANI MATI DEMI TUHAN. TUHAN MEMANGGIL KITA.

BACAAN

Kis 6:8-10; 7:54-60 – “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka”
Mat 10:17-22 – “Bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.” “Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena namaKu; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.”
RENUNGAN

  1. St. Stephanus dipandang sebagai martir pertama. Ia salah satu dari tujuh diakon yang ditunjuk oleh para Rasul ketika ada ketidak-puasan tentang pembagian derma. Dalam bacaan pertama, dikisahkan bagaimana Stephanus dijatuhi hukuman oleh Sanhedrin (Mahkamah Agama), karena dianggap melawan Musa dan Allah, Bait Allah dan Hukum.
  2. Perikope Injil hari ini merupakan bagian dari percakapan tentang perutusan dalam Injil Matius, yang dalam Injil Markus terdapat dalam Percakapan tentang Eskatologis. Hal ini menandakan bahwa, bagi Matius, Perutusan mengandung aspek eskatologis dan ini dibuktikan dengan kehidupan dan kematian Stephanus.
  3. Penganiayaan yang dialami oleh Stephanus berasal dari para pejabat. Bahkan dalam situasi yang sangat sukar ini, para murid mendapatkan dorongan semangat. Mereka tidak lagi bergantung pada kekuatan mereka sendiri, melainkan bertumpu pada Roh Kudus. Bahkan mereka menjadi misionaris di tengah-tengah ruang sidang pengadilan. Pengadilan dan pemenjaraan mereka harus dipandang sebagai kesempatan agar tugas perutusan mereka dikenal. Bagi mereka, tugas perutusan menjadi prioritas, bahkan diatas ikatan keluarga. Penegasan tentang kedatangan Anak Manusia menolong mereka dalam situasi yang sangat sukar seperti mereka alami.
  4. Stephanus sangat dipengaruhi oleh kehidupan, perutusan dan kematian Gurunya, yaitu Yesus Kristus. Ia juga meyakini kebangkitan dan kemenangan dalam wajah kekalahan dan kematian. Ia tahu, jika ia tetap teguh berdiri dalam kebenaran, ia sungguh akan menang. Dan ia tidak takut berdiri atas kebenaran, bahkan bila ia harus menyerahkan hidupnya.
  5. Yesus yang menantang Stephanus adalah Yesus yang sama yang saat ini menantang kita. Ia tidak memanggil kita untuk menjadi sadis dan mencari penderitaan, penganiayaan dan derita. Lebih dari itu ia menantang kita agar kita pergi melakukan apa yang harus kita lakukan, bijaksana, dan apabila kita harus menghadapi penganiayaan, kita harus siap untuk itu dan tidak takut.

REFLEKSI

  1. Dari kesaksian Stephanus, di mana ia harus menghadapi kematian dengan dilempari batu, apa yang menarik dan mengesan bagi Anda?
  2. Beranikah Anda bersaksi seperti telah dialami oleh Stephanus?
  3. Kira-kira syarat apa yang diperlukan agar Anda mempunyai keberanian seperti Stephanus.

 

(MS)