SABDA, Rabu, 21-12-16, SUKACITA DAN KEBAHAGIAAN YANG DIBAGIKAN

BACAAN

Kid 2:8-14 – “Lihatlah, kekasihku datang, melompat-lompat di perbukitan”
Luk 1:39-45 – “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?”

 

RENUNGAN

  1. Lukas menekankan kesiapan Maria dalam melayani sebagai hamba. Setelah diberi tahu tentang kehamilan Elisabeth, tanpa diperintah oleh malaikat, Maria, dengan segera, menuju ke rumah Elisabeth untuk membantu dia. Hal ini menandakan bahwa Maria percaya pada perkataan malaikat.
  2. Dalam kisah ini, Elisabeth mewakili Perjanjian Lama yang hampir selesai, sedangkan Maria mewakili Perjanjian Baru. Perjanjian Lama menerima Perjanjian Baru dengan penuh syukur, percaya, dan suka cita: “Ketika Elisabeth mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya” (ay 41). Dalam perjumpaan dua wanita ini dinyatakan pemberian Roh Kudus: “Elisabeth pun penuh dengan Roh Kudus” (ay 41). Maria sudah terlebih dahulu menerima Roh Kudus: “Roh Kudus akan turun atasmu” (Luk 1:35).
  3. Elisabeth berseru dengan suara lantang: “Diberkatilah engkau …” (ay 42). Diberkatilah berarti berbahagialah, semacam kegembiraan dari dalam, tanpa dipengaruhi unsur dari luar. Maria terberkati, karena menjadi ibu dari Anak Allah dan percaya kepada Sabda Allah. Berkat itu pula yang akan menjadi pedang yang menembus hati Maria, sebagaimana Anaknya mati di kayu salib.
  4. Dipilih oleh Allah merupakan anugerah, sekaligus membawa tanggung jawab. Anugerah yang diterima oleh Maria berupa mahkota, baik mahkota suka cita maupun mahkota duka cita kepedihan salib.
  5. Suka cita Maria tidak luntur dan tidak hilang hanya karena kepedihan dukacitanya. Maria selalu dikuatkan oleh oleh iman, harapan, dan janji Allah yang akan terpenuhi. Maria yakin bahwa tak ada seorang pun yang akan merampas suka cita dari dirinya (Yoh 16:23). Allah memberikan suka cita secara ajaib yang memungkinkan kita untuk menanggung setiap kepedihan dan derita karena salib.
  6. Sikap Maria dalam Injil hari ini mengajarkan kepada kita: 1) Jangan menutup diri, tetapi keluar dan memberi perhatian kepada orang yang memiliki kebutuhan konkret dan membantu mereka sedapat mungkin. 2) Berbagi suka cita dan kebahagiaan. Ketika suka cita dan kebahagiaan kita bagikan, maka akan menghasilkan buah berlipat yang bisa dirasakan oleh banyak orang. 3) Hidup kita ini terlalu pendek untuk menangis atau sedih. Hidup kita ini terlalu pendek untuk tidak berbagi atau untuk tidak berbagi kebahagiaan kepada orang lain.

 

REFLEKSI

  1. Apakah Anda termasuk orang yang berbahagia? Kalau ya, apa alasannya? Atau apakah Anda seolah-olah orang yang paling menanggung beban berat di antara semua orang? Anda menyerah?
  2. Menjelang perayaan Natal ini, sudahkah Anda berbagi kepada orang lain yang sungguh membutuhkan?

 

(MS)