SABDA, Selasa, 13-12-16 SELALU MENANGGAPI DAN MEWUJUDKAN KEHENDAK ALLAH

BACAAN
Zef 3:1-2.9-13 – “Keselamatan dijanjikan kepada orang yang hina dina”
Mat 21:28-32 – “Yohanes Pembaptis datang dan orang-orang percaya kepadanya”

 

RENUNGAN

  1. Perumpamaan ini tertuju kepada para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi, sebagai kelanjutan tanggapan atas kritik mereka terhadap kuasa dan wibawa Yesus. Sejak mereka tidak menjawab terhadap pertanyaan tentang Yohanes Pembaptis, Yesus menyampaikan perumpamaan ini dengan memaksa mereka untuk memberi jawaban dengan pertanyaan: “Tetapi apa pendapatmu tentang ini?”
  2. Karena anak sulung menolak untuk bekerja di kebun anggur, maka bapaknya minta kepada anak bungsunya untuk bekerja. Anak ini menjawab: “Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga.”
  3. Melambangkan siapa anak-anak ini? Anak sulung adalah para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Sedangkan anak bungsu adalah para pemungut cukai, para pelacur, orang-orang yang terlempar dari masyarakat. Mereka sama-sama menghadapi Yohanes Pembaptis. Para imam kepala dan tua-tua masyarakat tidak mau mendengarkan dan tidak percaya kepada Yohanes Pembaptis, dan merasa tidak perlu bertobat. Sedangkan para pemungut cukai dan para pelacur, yang dianggap sebagai pendosa dan orang-orang kotor oleh para imam kepala, ketika mendengarkan seruan Yohanes, mereka menyesali dosa-dosa dan bertobat.
  4. Karena menyesal dan bertobat, maka “pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Sedangkan para imam kepala selalu merasa sebagai kelompok agamis, bangsa pilihan, namun tidak pernah melakukan pertobatan dan tidak pernah melakukan apa yang mereka katakan, maka dari itu mereka gagal masuk ke dalam Kerajaan Allah.
  5. Para imam kepala hanya bisa ngomong yang indah-indah, Tuhan Tuhan, tetapi tidak berbuat: “Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi.” Status seseorang, seperti para imam dan bangsa Yahudi yang merasa sebagai bangsa terpilih, tidak menjadi jaminan untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Kita dipanggil untuk hidup dalam kebenaran, cinta kasih, dan keadilan. Tiket untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah, tergantung bagaimana kita mampu mewujudkan ketiga hal tersebut. Itulah perwujudan iman kita.

 

REFLEKSI

  1. Apakah kita ini pribadi yang mengatakan Ya, tetapi tidak melakukan apapun, seperti para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi?
  2. Kita sering menunda untuk bertobat, menunda untuk memulai yang baik seperti kita janjikan kepada Tuhan. Mengapa?

 

(MS)