SABDA, Jumat, 9-12-16, MENERIMA DAN MEWUJUDKAN INJIL DENGAN SEPENUH HATI

BACAAN
Yes 48:17-19 – “Ah, sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintahKu!”
Mat 11:16-19 – “Hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.”

 

RENUNGAN

  1. Para pemimpin, orang-orang bijak tidak selalu senang ketika seseorang mengkritik mereka. Maka semua medsos diawasi ketat jangan sampai ada penistaan dan pelecehan terhadap mereka. Hal itu terjadi pada jaman Yesus sampai sekarang ini, baik di dalam masyarakat maupun di kalangan pejabat Gereja.
  2. Yohanes Pembaptis tidak disukai dan dipojokkan, karena mengkritik orang-orang Parisi dan ahli Kitab. Yohanes Pembaptis dikatakan: ”Ia kerasukan setan.” Yesus juga ditolak dan diancam karena Yesus terlalu keras dan tidak kompromi terhadap orang-orang Parisi dan para ahli Kitab. Mereka berkata tentang Yesus: “Ia tidak waras lagi” (Mark 3:21), “Ia kerasukan Beelsebul” (Mk 3:22), “Engkau orang Samaria dan kerasukan setan” (Yoh 8:48), “Orang ini tidak datang dari Allah, karena tidak memelihara hari Sabat” (Yoh 9:16). Mereka tidak mau menerima jalan keselamatan yang ditawarkan oleh Yesus. Bagi orang-orang Parisi, apapun yang dikatakan atau dibuat oleh Yesus adalah salah. Dan Yesus harus mati.
  3. Hal yang sama terjadi sekarang. Banyak orang bertahan mati-matian dengan ajaran yang mereka terima tanpa kesadaran, tidak kritis, satu-satunya yang paling benar, dan anti kritik. Mereka tidak mau menerima jalan hidup yang ditawarkan oleh Injil. Tidak hanya menolak, tetapi juga melawan dan menghancurkan. Banyak pejabat Gereja yang bersikap sama: merasa pendapatnya paling benar, tidak mau menerima usulan-usulan dari umatnya, anti kritik, dan otoriter. Mereka hanya menerima orang-orang yang sepaham.
  4. Mereka menganggap diri bijak, tetapi kekanak-kanakan. Mereka tidak tergerak walaupun mendengar musik yang dimainkan. Mereka menolak Allah dan Yesus, Anak Allah. Dengan sikap ini maka mereka tidak akan mengalami kebahagiaan dan tidak memperoleh hikmat.

 

REFLEKSI

  1. Bukankah kita juga sering merasa paling benar, dan membela diri dengan emosional dan tidak mau lagi mendengarkan pendapat orang lain?
  2. Kita paling suka mengkritik atau mencela orang lain, tetapi kalau dikritik menjadi sangat tersinggung dan marah. Mengapa?
  3. Kalau kita menjawab: “itu manusiawi”, maka pertanyaannya: apa bedanya antara orang yang percaya kepada Kristus dengan orang yang tidak percaya?

 

(MS)