6. SIKAP FAUSTINA DALAM PENDERTIAAN (2)

  1. “Aku memutuskan untuk menanggung segala sesuatu dengan berdiam diri dan untuk tidak memberikan penjelasan apa pun kalau aku ditanya. … Bibirku aku segel. Aku menderita ibarat seekor merpati, tanpa mengeluh.” (126).
  2. Dalam situasi menderita, Faustina tidak dapat mengharapkan pertolongan dari siapa pun. Ia mohon kepada Tuhan supaya mengirim seorang bapak pengakuan yang mengatakan kepadanya: “Tenanglah, Suster berada di jalan yang benar!” Tetapi aku tidak dapat menemukan seorang imam yang tegas, yang dapat mengucapkan kata-kata itu dengan jelas dalam nama Tuhan. Karena itu, ketidakpastianku pun terus berlanjut” (127).
  3. Seorang muder menumpahkan kemarahannya kepada Faustina, dengan berkata: “Hei manusia aneh, histeris dan pelihat, keluarlah dari kamarku; aku tidak mau tahu suster!” Faustina masuk ke kamarnya dan menelungkupkan wajahnya di hadapan salib dan memandang Yesus. Setan muncul dan menegaskan situasi Faustina: “inilah ganjaranmu.” Tiba-tiba Faustina mendengar suara di dalam jiwanya: “Jangan takut; Aku menyertaimu.” Sinar yang luar biasa menerangi budinya dan ia menjadi sadar bahwa ia tidak boleh menyerah dalam kesedihan seperti itu. “Aku dipenuhi dengan suatu kekuatan dan meninggalkan kamarku dengan keberanian baru untuk menderita” (129).
  4. “Pada suatu hari, salah seorang Muder yang sudah lanjut usia memanggilku. Seolah-olah halilintar di siang bolong menyambar kepalaku sedemikian dahsyat sehingga aku bahkan tidak dapat mengerti apa yang sedang ia katakan. Tetapi, tidak lama kemudian aku mengerti bahwa yang ia lontarkan itu berkaitan dengan suatu masalah yang sama sekali tidak tergantung dari aku. Ia berkata kepadaku, “Suster, buanglah dari kepalamu gagasan bahwa Tuhan Yesus mau bersatu dengan cara yang sedemikian mesra dengan seonggok ketidaksempurnaan yang memprihatinkan seperti kamu! Ingatlah bahwa hanya dengan jiwa-jiwa kuduslah Tuhan Yesus bergaul seperti itu!” Aku mengakui bahwa ia benar sebab aku ini memang seorang malang, tetapi aku masih percaya akan kerahiman Allah. Ketika aku berjumpa dengan Tuhan aku merendahkan diri dan berkata, “Yesus, tampaknya Engkau tidak bersatu erat dengan orang yang sedemikian malang seperti aku.” Tuhan berkata: “Tenanglah, putri-Ku, persis lewat kepapaan seperti itu Aku ingin menunjukkan kuasa kerahiman-Ku.” Aku memahami bahwa Muder ini hanya ingin merendahkan aku (133).

(bersambung)

 

MS, GLC 19-11-2017