SABDA, Sabtu 18-11-2017, SELALU BERDOA DAN JANGAN KENDOR

BACAAN

Keb 18:14-16; 19:6-9 – “Jalan  tanpa rintangan muncul di Laut Merah, dan rakyat melonjak-lonjak bagaikan anak domba”
Luk 18:1-8 – “Bukankah Allah akan membenarkan para pilihan-Nya yang berseru kepada-Nya?”

RENUNGAN

  1. Injil hari ini menyampaikan unsur yang sangat akrab dengan Lukas, yaitu Doa. Ini yang kedua kali Lukas menyampaikan kata-kata Yesus bagaimana Ia mengajar berdoa.  Yang pertama (Luk 11:1-13), Ia mengajarkan doa Bapa Kami, di mana kita harus berdoa terus menerus dan tidak mengenal lelah. Hari ini Yesus mengajarkan bagaimana kita harus terus mendesak dalam berdoa.
  2. Ay 1 – Pengantar. Lukas menulis “Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.” Anjuran “untuk berdoa tanpa jemu-jemu” muncul banyak kali dalam Perjanjian Baru (1Tes 5:17; Rom 12:12; Eph 6:18; dll). Doa tanpa jemu-jemu merupakan ciri khas spiritualitas jemaat Kristen awal. Apakah juga menjadi ciri khas kita?
  3. Ay 2-5 – Perumpamaan. Kemudian Yesus menyampaikan dua tokoh dalam kehidupan nyata: hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, dan seorang janda yang berjuang untuk mendapatkan haknya dari hakim tersebut. Perumpamaan menghadirkan orang miskin yang berjuang di pengadilan untuk mendapatkan haknya. Hakim memberi perhatian terhadap janda tersebut dan memberikan keadilan. Alasannya adalah untuk membebaskan diri dari janda tersebut yang selalu mengganggunya. Alasan yang menarik. Tetapi janda tersebut mendapatkan apa yang ia inginkan. Dari sini Yesus mengajarkan bagaimana kita harus berdoa.
  4. Ay 6-8 – Penerapan. Yesus menerapkan perumpamaan tersebut: “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya?” Di sini Yesus membandingkan Allah dengan hakim yang lalim tersebut. Tetapi kemudian Yesus menyampaikan sebuah keraguan: “Jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” Dengan kata lain, apakah kita memiliki keberanian untuk menanti dan memiliki kesabaran, bahkan jika Allah menunda melakukan apa yang kita minta kepada-Nya?

 

(MS)