5. SIKAP FAUSTINA DALAM PENDERITAAN (1)

Menghadapi kesulitan, apalagi seperti yang dihadapi Faustina, tidaklah mudah. Hal tersebut tergantung apakah kita memiliki: kepribadian yang dewasa, iman yang kokoh kuat, dan tujuan hidup yang mengarah pada Allah. Penderitaan, kesulitan, kegagalan dapat dipakai sebagai batu penguji iman, apakah iman kita tumbuh dan berkembang atau sebaliknya mati dan hilang. Kita dapat belajar banyak dari cara Faustina menghadapi kesulitan dan penderitaan.

  1. Dalam penderitaan, Faustina semakin berkobar dalam cinta akan Allah dan akan jiwa-jiwa yang kekal. Ia mengalami sukacita sebab Yesus menghendaki demikian (BHF 46).
  2. ”Penderitaan, permusuhan, penghinaan, kegagalan, dan kecurigaan yang menghadang jalanku adalah ibarat serpihan-serpihan kayu yang membuat api cintaku bagi-Mu, o Yesus, tetap berkobar” (57).
  3. Dalam siksaan jiwa yang tak terperikan, ia “meniru orang buta yang mempercayakan diri pada bimbingannya, sambil memegang tangannya erat-erat, tidak melepaskan kepatuhannya sedetik pun, dan inilah satu-satunya jaminan keamananku dalam menghadapi cobaan yang amat berat ini” (68).
  4. Ia mengulang-ulang doa ini: “O Kristus, biarlah sukacita, hormat, dan kemuliaan menjadi milik-Mu, dan penderitaan menjadi milikku … “ (70).
  5. Dalam penderitaan, ia menghendaki agar kehendak Tuhan saja yang terjadi (78).
  6. “Penghinaan adalah makanan sehari-hari bagiku. Aku tahu bahwa mempelai perempuan sendiri harus ambil bagian dalam semua yang dialami oleh Mempelainya. Pada saat-saat seperti itu, kalau aku sangat menderita, aku berusaha tetap tinggal diam sebab aku tidak mempercayai lidahku” (92).
  7. Faustina berdoa: “O Tuhanku, nyalakanlah hatiku dengan cinta-Mu, supaya semangatku tidak menjadi lunglai di tengah badai, penderitaan dan pencobaan. Engkau tahu betapa lemahnya aku” (94).
  8. Dalam semua penderitaan dan pergulatan, ia tidak mengabaikan komuni kudus (105).
  9. Dalam penderitaan, ia tidak takut sebab Allah tidak pernah akan mencobai melampaui apa yang dapat ditanggung (106).
  10. “Ketika mengalami siksaan-siksaan batin itu, dalam pengakuan dosa, aku mempersalahkan diriku atas hal-hal yang amat kecil” (111).

(bersambung)

MS – 18 Nopember 2017