(1) KERAHIMAN ILAHI HARUS DIWARTAKAN

  1. Kepada Faustina, Tuhan Yesus memberi perintah: “Sekarang, Aku mengutus engkau membawa kerahiman-Ku kepada umat manusia di seluruh dunia. Aku tidak ingin mengukum umat manusia yang sedang sakit. Sebaliknya, Aku ingin menyembuhkan mereka, sambil mendekapkan mereka ke Hati-Ku yang maharahim. Aku menggunakan hukuman kalau mereka sendiri memaksa Aku berbuat demikian; tangan-Ku enggan untuk memegang pedang keadilan. Sebelum Hari Penghakiman tiba, Aku akan menggelar Hari Kerahiman” (1588).
  2. Perutusan tersebut begitu mendesak, terlebih untuk jaman kita sekarang ini. Bagaimana kalau kerahiman Tuhan tidak diwartakan kepada jiwa-jiwa? Seperti dikatakan Allah kepada Faustina, “Kalau engkau sekarang tinggal diam, pada hari yang mengerikan itu engkau harus mempertanggungjawabkan keselamatan sejumlah besar jiwa” (635). Maka yang menjadi fokus utama adalah: “Serukanlah kerahiman-Ku bagi orang-orang berdosa; Aku merindukan keselamatan mereka” (186). “Putri-Ku, jangan lelah memaklumkan kerahiman-Ku. …” (1521). Tuhan mengatakan: “Putri-Ku, untuk karya kerahiman ini, bekerjalah sekuat tenaga …” (1644). “ … Lakukanlah apa yang ada dalam kuasamu, supaya orang-orang berdosa mulai mengenal kebaikan-Ku” (1665).
  3. Apakah kita sudah berbuat maksimal dalam mewartakan kerahiman-Nya seperti dikehendaki oleh Tuhan? Apakah kelompok-kelompok kerahiman parokial sudah menjadi ajang untuk mewartakan kerahiman Tuhan? Jawabannya masih jauh dari panggang. Kelompok-kelompok K.I parokial tidak lebih seperti kelompok lain, misalnya Legio Maria, Karismatik, dll. Saya mengatakan sama, karena kelompok-kelompok K.I sudah stagnan, membosankan, dan tidak berkembang.
  4. Terus bagaimana? Kita harus berani meninggalkan cara pastoral lama dan membuat terobosan baru yang memungkinkan kerahiman Allah kita wartakan tanpa terikat aturan-aturan paroki yang kaku. Menurut saya yang paling utama dan mutlak perlu adalah membentuk gerakan untuk studi Buku Harian St. Faustina. Inti jiwa dari Devosi Kerahiman Ilahi ada dalam buku tersebut. Kalau sebagai devosan tidak pernah membaca dan mendalami serta merenungkan buku tersebut, kita tidak tahu arah yang benar.

MS – 14 Nop 2017