SABDA, Minggu Biasa XXVII 8-10-2017, KITA DIBERI TANGGUNGJAWAB UNTUK MENYELAMATKAN JIWA-JIWA

BACAAN

Yes 5:1-7 – “Kebun anggur Tuhan semesta alam ialah kaum Israel”
Flp 4:6-9 – “Lakukanlah semua yang telah kamu lihat padaku, maka Allah, sumber damai sejahtera, akan menyertai kamu”
Mat 21:33-43.45-46 – “Kebon anggur itu akan ia sewakan kepada penggarap-penggarap lain”

 

RENUNGAN

  1. Ay 33-39 – Perumpamaan tentang kebun anggur. Perumpamaan tentang kebun anggur ini merupakan ringkasan yang indah tentang sejarah Israel, yang diambil dari kitab Yesaya (Yes 5:1-7). Melalui perumpamaan ini, Yesus menjelaskan beberapa hal. Pertama, menjawab pertanyaan orang-orang Parisi dan tua-tua yang bertanya: dari mana kekuasaan yang Ia punyai (Mt 21:23), Yesus mengatakan bahwa kekuasaan-Nya berasal dari Allah dan Ia adalah Anak Allah, ahli waris Kerajaan. Kedua, Yesus mencela para penggarap kebun anggur yang menyalah gunakan kekuasaan. Hal ini merupakan kritik terhadap para imam dan tua-tua yang tidak memperhatikan umat Allah. Ketiga, Yesus mengecam mereka karena telah membunuh para nabi utusan Allah. Keempat, Yesus membuka kedok para penguasa yang memanipulasi agama dan telah membunuh Anak Manusia. Alasan mereka membunuh ialah mereka tidak ingin kehilangana sumber keuangan yang berhasil mereka kumpulkan untuk diri mereka sendiri selama berabad-abad.
  2. Ay 40-41 – Hukuman untuk diri mereka sendiri. Pada akhir perumpamaan, Yesus bertanya: “Apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?” Mereka menjawab: “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu … dan kebun anggurnya akan disewakan kepada penggarap-penggarap lain …” Para imam dan tua-tua tidak sadar bahwa perumpamaan tersebut ditujukan kepada mereka. Dengan jawaban tersebut, mereka telah menetapkan hukuman untuk mereka sendiri.
  3. Ay 42-46 – Hukuman yang telah mereka tetapkan untuk mereka sendiri diperkuat oleh sikap mereka. Dengan penjelasan yang diberikan oleh Yesus,maka para imam kepala, para tua-tua dan orang-orang Parisi sadar bahwa perumpaan tersebut berbicara tentang mereka, namun mereka tidak mau bertobat. Apa yang mereka pikirkan hanya satu, yaitu membunuh Yesus. Dengan demikian mereka telah membuang “batu penjuru.” Tetapi mereka tidak memiliki keberanian untuk melakukannya secara terbuka, karena mereka takut terhadap reaksi orang-orang.
  4. Seandainya pada hari ini Yesus datang dan menyampaikan perumpamaan yang sama, bagaimana reaksi Anda?

 

(MS)