SABDA, Selasa 26-9-2017, KITA ADALAH KELUARGA ALLAH

BACAAN

Ezra 6:7-8.12.14-20. – “ Mereka mentahbiskan rumah Allah dan merayakan Paskah”
Luk 8:19-21 – “Ibu dan saudara-saudara-Ku ialah mereka yang mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakannya”

 

RENUNGAN

  1. Dalam Injil hari ini, Yesus menyampaikan tanggapan keras terhadap saudara-saudara dan ibu-Nya yang mencari Dia. Mereka datang dari Nasaret menuju Kapernaum yang jaraknya 40 km. Ada orang yang memberitahu Yesus: “Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau.” Yesus menjawab: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.”
  2. Kata-kata Yesus tersebut harus kita lihat dalam konteks tugas perutusan Yesus. Dalam perutusan-Nya, Yesus tidak mau terikat oleh keluarga berdasarkan keturunan darah. Yesus prihatin terhadap semua orang, tidak hanya terhadap keluarga-Nya. Dengan kata-kata-Nya tersebut, Yesus sedang membangun keluarga besar. Setiap orang diundang, walaupun tidak semua menanggapi. Surat kepada umat di Efesus: “Kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah” (Ef 2:19).
  3. Keluarga yang dibangun Yesus adalah Keluarga Allah, Gereja, Tubuh Mistik Kristus. Allah sebagai Bapa, dan anak-anak-Nya adalah mereka “yang mendengarkan Sabda Tuhan dan melakukannya.” Jadi ikatan keluarga yang dibangun Yesus bukanlah ikatan karena keturunan darah dan daging, tetapi ikatan oleh Roh yang dibangun oleh Yesus Kristus melalui sengsara, kematian dan kebangkitan-Nya demi keselamatan kita.
  4. Siapa ibunya? Menurut Santo Cyprianus dari Kartago, ibu kita adalah Gereja: “Engkau tidak dapat memiliki Allah sebagai Bapamu, jika engkau tidak memiliki Gereja sebagai Ibumu.”
  5. Lebih jauh lagi: bahwa kemuridan kita tidak ditentukan karena kita lahir dari keluarga Katolik, atau baptisan, tetapi oleh komitmen kita secara total terhadap Injil dan selalu mengikuti Yesus dalam kondisi dan keadaan apa pun. Hanya dengan demikian kita dapat dikatakan sebagai saudara dan saudari Kristus.
  6. Sudah layakkah kita disebut anggota Keluarga Allah, saudara dan saudari Kristus?

 

(MS)