SABDA, Senin 18-9-2017, IMAN YANG MENYEMBUHKAN

BACAAN

1Tim 2:1-8 – “Kita harus berdoa untuk semua orang, karena Allah ingin semua orang diselamatkan”
Luk 7:1-10 – “Di Israel pun iman sebesar itu belum pernah Kujumpai”

 

RENUNGAN

  1. Bab 7 Injil Lukas memperlihatkan panggilan terhadap orang-orang kafir untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Seorang perwira telah menjadi pelopor bagaimana beriman kepada Yesus.
  2. Aspek pertama yang muncul dari bacaan adalah situasi penderitaan yang dialami oleh seorang perwira yang hambanya sakit. Kaparnaum merupakan sebuah kota di mana berkat Allah hampir tidak pernah terjadi. Dalam kota tersebut, seorang hamba dari perwira mengalami sakit berat, hampir mati. Yesus masuk dalam situasi tersebut.
  3. Ia dengan penuh percaya yakin bahwa Yesus mampu menyembuhkan hambanya dari jarak jauh. Ia seolah-olah menjadi penunjuk jalan iman, bahkan model beriman. Ia menerima pemberitaan, ia mendengar Kabar Baik dan menyimpannya dalam hati. Maka ia menyuruh tua-tua untuk bertemu Yesus, “untuk meminta supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya.” Dengan penuh rendah hati, lewat sahabat-sahabatnya, ia mengatakan: “Aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku.” Pernyataan ini mau mengatakan: bahwa ia sungguh membutuhkan Yesus, ia menyadari sebagai orang berdosa, namun Allah mengasihi.
  4. ”Katakan saja.” Di sinilah letak lompatan besar dalam iman: ia percaya dengan sepenuh hati. Ketika Yesus datang kepadanya, ia juga menyempurnakan perjalanan batinnya, dengan berubah, dan menjadi baru. Ia menerima pribadi Yesus dan Sabda-Nya. Segala keraguan yang ada padanya benar- benar musnah, tidak ada sesuatu yang lain kecuali iman bahwa keselamatan ada dalam Yesus.
  5. Dari kisah seorang perwira tersebut, kita belajar tentang beriman
    a) Beriman berarti tidak ada keraguan, tidak ada keputusasaan, percaya bahwa segala sesuatu mungkin dalam Allah.
    b) Berjalan dalam iman berarti percaya seutuhnya, walaupun kita tidak tahu apa yang akan terjadi.
    c) Beriman: mengijinkan Allah bertindak sepenuhnya dalam diri kita.
  6. Bagaimana imanku?

 

(MS)