SABDA, Rabu 13-9-2017, KERAJAAN ALLAH >< NILAI-NILAI DUNIAWI

BACAAN

Kol 3:1-11 – “Kamu telah mati bersama Kristus. Maka matikanlah dalam dirimu segala yang duniawi”
Luk 6:20-26 – “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah”

 

RENUNGAN

  1. Ay 20 – “Berbahagialah, hai kamu yang miskin.” Pernyataan ini menyatakan kategori sosial para murid. Mereka adalah orang-orang miskin. Yesus berjanji: “Kamulah yang empunya Kerajaan Allah.” Hal tersebut bukanlah janji untuk masa depan, tetapi sekarang ini. Mereka memiliki Kerajaan Allah, karena mereka tidak menumpuk kekayaan, tetapi berjuang bersama Yesus untuk kehidupan bersama yang lebih baik, membangun persaudaraan, berbagi apa yang mereka miliki, dan tidak membeda-bedakan satu sama lain.
  2. Ay 21 – “Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar dan menangis.” Hidup dan penderitaan kita sekarang ini bukanlah hal yang definitif. Yang definitif hanyalah Kerajaan Allah yang sedang kita bangun dengan kekuatan Roh Kristus. Untuk membangun Kerajaan Allah mensyaratkan rasa sakit, penderitaan, penghinaan dan siksaan, tetapi satu hal pasti: Kerajaan Allah akan diperoleh, dan kita akan dipuaskan dan tertawa.
  3. Ay 22-23 – “Berbahagialah kamu jika orang membenci kamu …” Kata-kata bahagia ini menunjuk ke masa depan. “Bersukacitalah bila saat itu tiba, … upahmu besar di surga.” Dengan kata-kata ini, Lukas menyemangati umatnya, karena mereka sedang mengalami penganiayaan. Penderitaan bukanlah kematian yang konyol, tetapi rasa sakit yang tiba-tiba datang. Dan penderitaan merupakan sumber pengharapan. Penderitaan dan siksaan merupakan sebuah tanda bahwa masa depan yang dinyatakan oleh Yesus sedang datang. Umat yang sedang mengalami penderitaan sudah berada pada jalan yang tepat.
  4. Ay 24-25 – “Celakalah kamu, hai kamu yang kaya.” Sesudah empat Sabda Bahagia, selanjutnya diikuti empat kutukan terhadap orang kaya, mereka yang mengalami kebahagiaan duniawi, dan mereka yang dipuji setiap orang. Kutukan ini hanya ada dalam Injil Lukas, karena Lukas sangat radikal dalam mencela ketidak adilan. Lukas mengarahkan kutukannya kepada jemaatnya sendiri, di mana ada diskriminasi orang-orang kaya terhadap orang miskin yang sama-sama Kristen. Yesus mengkritik dengan keras dan langsung terhadap orang-orang kaya tersebut. Bagi Yesus kemiskinan merupakan buah dari ketidakadilan. Ketidakadilan dan penyebabnya inilah yang dikutuk Yesus.
  5. Ay 26 – “Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; … “ Kutukan keempat ini menunjuk kepada mereka yang memuji-muji nabi palsu. Para penguasa Yahudi selalu menggunakan kekuasaan dan kehormatannya untuk mengkritik Yesus. Maka Yesus tidak hanya mengkritik balik mereka, tetapi juga mengutuk habis.
  6. Menurut pengalaman Anda, seperti apa yang dikatakan Hidup Bahagia itu? Apakah seperti para pemain sinetron dan pesohor yang selalu menghiasi layar tv? Apakah seperti para pejabat yang suka pamer kekayaan, walaupun hasil dari korupsi? Bolehkah kita, sebagai murid Kristus, kaya raya?

 

(MS)