PENGALAMAN SUSTER FAUSTINA TENTANG EKARISTI: EKARISTI MERUPAKAN PUNCAK KESATUAN DENGAN ALLAH

Sakramen Ekaristi merupakan kunci devosi Kerahiman Ilahi. Dan Ekaristi begitu sentral dalam kehidupan Suster Faustina. Ia secara teratur mengalami penglihatan Tuhan setiap kali ia mengikuti Misa dan banyak kali saat ia menerima Komuni Kudus. Bagi Faustina, saat adorasi Sakramen Maha Kudus selalu menjadi saat yang penuh rahmat. Semoga kita mampu menghayati Ekaristi semakin mendalam, dan semangat Ekaristi menjadi jiwa setiap hari.

Berikut disampaikan pengalaman Faustina tentang Ekaristi seperti ditulis dalam buku hariannya:

  1. 344:   20 Desember 1934, “Ketika aku memasuki kamarku, aku melihat Tuhan Yesus tampak dalam suatu montrans di langit terbuka. … Aku melihat dua sinar memancar dari Hosti …”
  2. 370:   Pada hari itu juga ketika aku berada di gereja menunggu pengakuan dosa, aku melihat sinar seperti yang sudah-sudah memancar dari monstrans dan menyebar ke seluruh gereja. Ini berlangsung selama ibadat. Sesudah Kebaktian kepada Sakramen Mahakudus (sinar mamancar) ke kedua sisi gereja dan kembali lagi ke monstran. Sinar itu tampak cemerlang dan transparan seperti kristal.
  3. 442:   Pernah ketika bapak pengakuanku sedang merayakan misa, aku melihat, seperti biasa, Kanak-kanak Yesus ada di altar, sejak saat persiapan Persembahan. Tetapi, sesaat sebelum Hosti diangkat, imam itu menghilang dari pandanganku, dan hanya Yesus sendiri yang tinggal. Ketika saat pengangkatan Hosti mendekat, Yesus mengambil Hosti dan piala dengan tangan-Nya yang mungil dan mengangkatnya bersama-sama, sambil menengadah ke surga, dan sesaat kemudian aku sekali lagi melihat bapak pengakuanku. …” Kemana bapak pengakuan? Jawab Yesus: “Di dalam Hati-Ku.”
  4. 616:   Pada hari Kamis, ketika aku pergi ke kamarku, aku melihat di atasku Hosti kudus yang bersinar cemerlang. Kemudian aku mendengar suatu suara yang agaknya datang dari atas Hosti itu: ‘Dalam Hostilah kekuatanmu; ia akan membela engkau.’ … kekuatan yang luar biasa menyusup ke dalam jiwaku.
  5. 684:   Jam Kudus. Kamis. Dalam ibadat ini, Yesus mengizinkan aku masuk ke dalam ruang Senakel, dan aku menyaksikan apa yang terjadi di sana. Tetapi, aku paling terharu ketika, sebelum konsekrasi, Yesus menengadah ke surga dan masuk ke dalam percakapan yang misterius dengan Bapa-Nya. … Mata-Nya laksana dua nyala api; wajah-Nya berkilau-kilauan, putih laksana salju; seluruh sosok-Nya penuh dengan kemuliaan, jiwa-Nya penuh dengan rindu. … Belum pernah dalam seluruh hidupku aku mengetahui misteri ini sedemikian mendalam seperti pada saat adorasi itu.
  6. 757:   19 Nopember 1936. Dalam misa kudus hari ini, aku melihat Tuhan Yesus yang berkata kepadaku: “Tenanglah, Putri-Ku; Aku menyaksikan usaha-usahamu yang sangat menyenangkan Hati-Ku” Kemudian Tuhan menghilang, dan tibalah saatnya untuk komuni kudus. Sesudah menyambut komuni kudus, tiba-tiba aku melihat Senakel dan di sana hadir Tuhan Yesus serta para rasul. Aku melihat penetapan Sakramen Mahakudus. Yesus mengizinkan aku masuk ke dalam batin-Nya dan aku menyaksikan keagungan kemuliaan-Nya dan, pada saat yang sama, aku menyaksikan juga kerelaan-Nya yang besar untuk merendahkan diri.
  7. 913:   2 Pebruari 1937. Hari ini, sejak pagi-pagi buta, keheningan ilahi meresapi jiwaku. Dalam misa, aku berpikir bahwa aku akan melihat Yesus yang kecil, seperti sering kualami; tetapi, hari ini, dalam misa kudus, aku melihat Yesus yang tersalib. Yesus dipaku pada salib dan menjalani sakratulmaut yang berat. Penderitaan-Nya menusuk aku, jiwa dan raga, dengan cara yang tak kelihatan, tetapi sungguh amat nyeri.
  8. 914:   Suatu misteri yang agung dihadirkan dalam misa kudus. Pada suatu hari, kita akan mengetahui apa yang dikerjakan Allah untuk kita dalam setiap misa dan anugerah apa yang disediakan-Nya untuk kita. Hanya kasih ilahi-Nya yang memungkinkan karunia sebesar itu disediakan bagi kita. O Yesus, Yesusku, betapa nyeri rasa sakit yang menembus jiwaku ketika aku melihat sumber kehidupan ini mengalirkan kemanisan dan kekuatan bagi setiap jiwa, sementara pada saat yang sama aku melihat jiwa-jiwa menjadi layu dan mengering karena kesalahan mereka sendiri. O Yesus, berilah agar kuasa kerahiman merengkuh jiwa-jiwa itu.
  9. 1037:   Aku mendapati diriku sedemikian lemah sehingga kalau tidak untuk menyambut komuni kudus, aku akan terus terjatuh. Hanya satu hal yang menopang aku, dan itu adalah komuni kudus. Dari komuni kudus, aku menimba kekuatan; dalam komuni kudus ada tenagaku. Pada hari-hari ketika aku tidak menyambut komuni kudus, aku takut menjalani hidup. Aku takut akan diriku sendiri. Yesus yang tersembunyi dalam Hosti merupakan segalanya bagiku. Dari tabernakel aku menimba kekuatan, tenaga, keberanian, dan terang. Di sini, aku mencari kelegaan di saat penderitaan. Aku tidak akan tahu bagaimana memuliakan Allah kalau aku tidak memiliki Ekaristi di dalam hatiku.
  10. 1302:   29 September 1937. Kini aku memahami bahwa komuni kudus tetap berada di dalam diriku sampai komuni kudus berikut. Kehadiran Allah yang hangat dan nyata terus berlanjut di dalam jiwaku. Kesadaran akan hal ini menceburkan aku ke dalam permenungan yang mendalam, tanpa usaha sedikit pun dari pihakku. Hatiku adalah tabernakel yang hidup, tempat Hosti yang hidup disimpan. Tidak pernah aku mencari Allah di tempat-tempat yang jauh, tetapi di dalam diriku sendiri. Dalam lubuk hatiku sendirilah aku menyatukan diri dengan Allahku.
  11. 1385:   19 Nopember. Hari ini, sesudah komuni, Yesus memberitahukan kepadaku betapa besar keinginan-Nya untuk masuk ke dalam hati manusia. “Aku ingin menyatukan diri-Ku dengan jiwa-jiwa manusia; kesukaan-Ku yang paling besar adalah menyatukan diri-Ku dengan jiwa-jiwa. Ketahuilah, Putri-Ku, bahwa ketika Aku masuk ke dalam hati manusia lewat komuni kudus, Aku membawa serta segala macam rahmat yang ingin Kuberikan kepada jiwa itu. Tetapi jiwa-jiwa itu bahkan tidak memperhatikan Aku; mereka meninggalkan Aku dan menyibukkan diri dengan hal-hal lain. Oh, betapa sedihnya Aku karena jiwa-jiwa itu tidak mengenali Sang Kekasih! Mereka memperlakukan Aku sebagai benda mati.”
  12. 1392:   Segala kebaikan yang ada dalam diriku terjadi berkat komuni kudus. Dari komuni kudus, aku mendapatkan segala seuatu. Aku merasakan bahwa api kudus ini telah mengubah aku sama sekali. Oh, betapa bahagianya aku menjadi suatu tempat kediaman bagi-Mu, o Tuhan! Hatiku adalah bait tempat Engkau tinggal terus menerus.
  13. 1407:   Hari ini, ketika menyambut komuni kudus, aku menyaksikan di dalam piala ada Hosti Hidup, yang diberikan imam kepadaku. Ketika aku kembali ke tempat dudukku aku bertanya kepada Tuhan, “Mengapa hanya satu Hosti yang hidup? Bukankah Engkau hidup dalam setiap Hosti?” Tuhan menjawab kepadaku; “Memang benar, Aku ada dalam setiap Hosti. Tetapi, tidak setiap jiwa menyambut Aku dengan iman yang hidup seperti engkau, Putri-Ku, dan karena itu Aku tidak dapat berkarya dalam jiwa mereka seperti Aku berkarya dalam jiwamu.”
  14. 1447:   “Oh, betapa menyakitkan Hati-Ku bahwa banyak jiwa sedemikian jarang menyatukan diri dengan-Ku dalam komuni kudus. Aku menantikan jiwa-jiwa itu, tetapi mereka acuh tak acuh terhadap Aku. Aku mengasihi mereka dengan mesra dan tulus, tetapi mereka tidak percaya kepada-Ku. Aku ingin melimpahkan rahmat-Ku kepada mereka, tetapi mereka tidak mau menerimanya. Mereka memperlakukan aku sebagai barang mati, padahal Hati-Ku penuh dengan kasih dan kerahiman. Agar engkau dapat mengetahui sekurang-kurangnya sebagian dari penderitaan-Ku, bayangkanlah ibu yang paling penuh kasih; ia sangat mengasihi anak-anaknya, tetapi anak-anak itu mencampakkan kasihnya. Bayangkan kepedihan hatinya. Tidak seorang pun mampu menghibur dia. Itulah gambaran dan lukisan samar mengenai kasih-Ku.”
  15. 1683:   “Tulislah demi manfaat bagi jiwa kaum religius bahwa Hati-Ku sangat senang datang kepada mereka dalam komuni kudus. Tetapi, kalau ada orang lain di dalam hati itu, Aku tidak tahan dan Aku akan cepat meninggalkan hati itu, sambil membawa serta semua karunia dan rahmat yang telah Kusiapkan bagi jiwa itu. Jiwa itu bahkan tidak menyadari kepergian-Ku. Sesudah beberapa waktu, barulah ia akan merasakan kehampaan batin dan ketidakpuasan. Oh, kalau saja kemudian ia berpaling kepada-Ku, Aku akan membantu dia membersihkan hatinya, dan Aku akan memenuhi segala sesuatu yang ada di dalam jiwanya; tetapi tanpa kesadaran dan persetujuannya, Aku tidak dapat menjadi Penguasa hatinya.”

 

(MS)

Leave a Reply