SABDA, Jumat, 25-8-2017 HUKUM YANG PERTAMA DAN UTAMA

BACAAN

Rut 1:3-6.14-16.22 – “Naomi pulang bersama-sama Rut dan tiba di Betlehem”
Mt 22:34-40 – “Kasihilah Tuhan Allahmu, dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri”

 

RENUNGAN

  1. Setelah Yesus membungkam orang-orang Saduki mengenai kebangkitan (Mt 22:23-33), orang-orang Parisi segera mengajukan pertanyaan untuk mencobai Dia: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Oleh mereka, Yesus disebut Guru atau Rabbi. Hal ini merupakan pengakuan mereka terhadap otoritas dan kehebatan Yesus sebagai pengajar. Kesempatan ini dipakai oleh Yesus untuk bertanya kepada mereka tentang identitas diri-Nya: “Apakah pendapatmu tentang Mesias? Anak siapakah Dia” (ay 42).
  2. Hukum yang terbesar. Yesus menjawab pertanyaan mereka: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. … Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
  3. Para guru Yahudi (orang-orang Parisi) telah menciptakan resep Hukum sebanyak 613 resep. Saking banyaknya, maka mereka bertanya kepada Yesus mana dari semua resep Hukum itu yang paling utama. Dalam jawaban-Nya, Yesus menyatukan kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia sebagai Hukum yang pertama dan utama. Keduanya sebagai satu kesatuan Hukum yang tak terpisahkan. Seluruh Hukum yang ada hanya memiliki arti kalau mewujudkan Hukum pertama dan utama tersebut, yaitu kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama.
  4. Mengapa kita harus mengasihi Allah? Karena Ia telah menciptakan kita. Kita adalah milik-Nya, dan Allah selalu mengasihi kita, apa pun keadaan kita. Yesus telah mengorbankan diri di kayu salib demi keselamatan kita. Kita berhutang kepada Allah.
  5. Mengapa kita harus mengasihi sesama manusia? Mereka juga diciptakan oleh Allah. Mereka milik Allah, teman seperjalanan menuju Allah. “Kasihilah seorang akan yang lain” (Yoh 15:17).
  6. Mengikuti Ekaristi, membaca Sabda, doa, dan seluruh kegiatan gerejani baru mempunyai arti kalau mendorong kita untuk semakin mengasihi sesama, terutama orang-orang yang dikasihi Yesus: orang-orang miskin, lapar, sakit, orang yang disingkirkan, orang asing, dan mereka yang dipenjara (Mt 25: 35-46).
  7. Sebagai murid Kristus, masih pantaskah kalau kita marah-marah, emosi, “ngrasani,” benci, dendam, tidak peduli, dan egois?

 

(MS)