Sabda, Sabtu, 10-6-2017, BERBAGI MILIK, BAKAT DAN WAKTU

BACAAN
Tb 12:1.5-15.20 – “Aku naik kepada Dia yang mengutus aku. Tetapi kalian, pujilah Allah”
Mrk 12:38-44 – “Janda miskin ini telah memberi lebih banyak daripada semua orang lain”

 

RENUNGAN

  1. Ay 38-40. Yesus mengingatkan para murid akan arogansi dan kemunafikan para ahli kitab. Mereka suka pergi ke pasar-pasar dengan mengenakan jubah panjang, menerima penghormatan dari orang-orang, menduduki tempat-tempat terhormat dalam Sinagoga, dan memilih tempat terhormat dalam perjamuan. Mereka suka ke rumah para janda dan menyampaikan doa panjang lebar untuk mendapatkan imbalan uang. Dan Yesus berkata: “Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.”
  2. Ay 41-42. Yesus dan para murid-Nya duduk berhadapan dengan bendahara Sinagoga sambil mengamati mereka yang menyerahkan derma. Orang miskin memberikan dengan jumlah yang sangat sedikit, sedangkan orang-orang kaya memberikan uang dengan jumlah besar. Uang derma dipakai untuk pelaksanaan peribadatan, membantu para imam, dan pemeliharaan bangunan. Sebagian uang dipakai untuk membantu orang-orang miskin, terutama anak-anak yatim dan para janda. Mereka ini sangat tergantung dari pemberian orang, karena mereka tidak punya apa pun untuk melanjutkan hidupnya. Kendati mereka tidak memiliki sesuatu, namun mereka berusaha untuk berbagi. Seorang janda miskin memasukkan derma dua peser.
  3. Ay 43-44. Bagi para murid, dan bagi kita, uang 1 juta dari orang kaya jauh lebih berguna dibanding uang 2 peser dari si janda miskin. Kebanyakan dari mereka, dan kita, beranggapan bahwa segala masalah dapat diselesaikan dengan uang. Yesus berkata: “Sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.” Yesus memiliki kriteria lain. Yesus lebih tertarik pada sikap janda miskin yang masih sudi berbagi, walaupun setelahnya si janda itu tidak tahu apa yang akan dimakan.
  4. Walaupun si janda itu sangat miskin, namun tidak menghalanginya untuk berbagi. Ia memberi dengan rela dan dengan hati yang bebas, serta jauh dari egois. Ia ingin melakukan apa yang menjadi kewajibannya. Pemberiannya merupakan persembahan seluruh hidupnya.
  5. Mengasihi Allah nampak lebih mudah, mengasihi sesama lebih sukar. Sejauh mana kita murah hati, tidak hanya dengan uang kita, tetapi juga waktu, bakat dan perhatian kita? Lebih mudah memberikan sumbangan uang daripada duduk satu jam bersama dengan orang yang terbaring sakit. Kita lebih memilih memberi uang daripada memberi waktu. Kita dikelilingi orang-orang yang sangat memerlukan pertolongan dan perhatian kita. Beranikah kita memiliki sikap dan semangat janda miskin?

 

(MS)