SABDA, Senin, 5-6-2017 YESUS BATU PENJURU

BACAAN

Tobit 1:1a.2a.3; 2:1b-8 – “Tobit lebih takut kepada Tuhan daripada kepada Raja”
Mrk 12:1-12 – “Mereka menangkap dan membunuh putera kesayangan, dan melemparkannya ke luar kebun anggur”

 

RENUNGAN

  1. Yesus berada di Yerusalem dan merupakan minggu terakhir hidup-Nya. Ia kembali ke Bait Allah (Mrk 11:27), di mana Ia konflik langsung dengan penguasa. Dalam bab 11 dan 12, Ia konflik dengan: a) para pedagang di Bait Allah (Mrk 12:11-26), b) dengan para imam, tua-tua dan ahli kitab (Mrk 11:27; 12:12), c) dengan kaum Parisi dan Herodian (Mrk 12:13-17), d) dengan orang-orang Saduki (Mrk 12:18-27), dan e) dengan para ahli kitab (Mrk 12:28-40). Injil hari ini menggambarkan konflik dengan para imam, tua-tua dan para ahli kitab. Semua konfrontasi ini membuat para murid dan kita memahami lebih jelas mana rencana dan program Yesus dan mana rencana para penguasa.
  2. Ay 1-9. Perumpamaan kebun anggur ini merupakan ringkasan sejarah Israel. Sebuah ringkasan yang diambil dari Nabi Yesaya (Yes 5:1-7). Melalui kisah ini, Yesus memberi jawaban secara tidak langsung terhadap para imam, ahli kitab dan tua-tua yang bertanya kepada-Nya: “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Dan siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu?” (Mrk 11:28). Dalam perumpamaan ini, Yesus menyatakan asal-usul otoritas-Nya: a) Ia adalah Anak, Pewaris (ay 6); b) Ia mencela penyalahgunaan kekuasaan para penyewa kebun, yang tidak lain adalah para imam dan tua-tua yang tidak bertanggungjawab terhadap umat Allah (ay 3-8); c) Ia membela otoritas para nabi, yang diutus oleh Allah, tetapi dianiaya dan dibunuh oleh para penyewa kebun (ay 2-5); Ia menelanjangi kekuasaan yang memanipulasi agama dan membunuh anak (=Yesus), karena mereka tidak ingin kehilangan sumber pendapatan yang mereka dapatkan selama berabad-abad (ay 7).
  3. Ay 10-12. Orang-orang Parisi, ahli kitab dan tua-tua paham betul maksud perumpamaan tersebut, tetapi mereka tidak mau bertobat. Malahan mereka merencanakan untuk manangkap Yesus (ay 12). Mereka menolak “batu penjuru” (ay 10), tetapi mereka tidak berani melakukannya secara terbuka, karena mereka takut terhadap orang banyak. Dengan ancaman ini, para murid berpikir: apa konsekuensi mengikuti Yesus.
  4. Sekarang ini nilai-nilai Allah yang berupa kebenaran, kejujuran, keterbukaan, kesederhanaan, kerja keras, mengangkat nasib dan derita orang, sedang ditelikung, dianiaya, dan dibunuh oleh sebagian bangsa kita sendiri. Mereka sama sekali tidak takut terhadap Tuhan. Hal demikian juga bisa terjadi di dalam keluarga kita, dalam pekerjaan, dan dalam Gereja kita. Bagaimana reaksi kita?

 

(MS)