SABDA, Jumat, 19-5-2017, MENGASIHI ORANG LAIN SEBAGAIMANA TUHAN MENGASIHI KITA

BACAAN

Kis 15:22-31 – “Adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak beban daripada yang perlu”
Yoh 15:12-17 – “Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain”

 

RENUNGAN

  1. Ay 12-13. Perintah Yesus hanya satu, yaitu “supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” Mengasihi bukan karena orang tersebut baik kepada kita, bukan karena dia adalah saudara kita, bukan karena seagama dengan kita, tetapi karena hakikat panggilan hidup kita adalah untuk mengasihi, bahkan mengasihi orang-orang yang memusuhi kita. Kriteria yang diajarkan Tuhan adalah: “Kasihilah satu sama lain sebagaimana Aku telah mengasihi kamu.” Ukuran kita mengasihi bukan karena kebaikan hati kita, melainkan Tuhan yang telah mengasihi kita. Tuhan menghendaki agar kita mengasihi secara total: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”
  2. Ay 14-15: Kita adalah sahabat-sahabat Yesus dan bukan hamba. “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.” Karena kita dianggap sebagai sahabat, maka Yesus tidak menyembunyikan apa pun kepada kita: “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat ole tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala seuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.”
  3. Dari kata-kata tersebut, Yesus mengatakan kepada kita segala sesuatu yang Ia dengar dari Bapa. Dalam keluarga, dalam komunitas beriman, kita diajak untuk terbuka, apa adanya, tidak ada sesuatu pun yang kita sembunyikan, percaya penuh satu sama lain, mampu dan berani bersaksi pengalaman tentang Tuhan, dan mampu saling memperkaya satu sama lain. Jemaat Kristen awal mampu mewujudkannya setelah bergulat bertahun-tahun: “mereka sehati dan sejiwa” (Kis 4:32; 2:42-46).
  4. Ay 16-17: Yesus telah memilih kita, bukan kita yang memilih Yesus. Yesus berjumpa dengan kita, memanggil kita, dan mempercayakan tugas perutusan kepada kita untuk pergi dan menghasilkan buah, dan buah itu tetap. Kita membutuhkan Tuhan, namun Tuhan juga membutuhkan kita dan pekerjaan kita agar kita mampu melanjutkan apa yang dilakukan Tuhan untuk jaman sekarang ini. Perintah Yesus yang terakhir: “Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.”
  5. Sudahkah aku mengasihi keluargaku, orang-orang di sekitarku seperti Tuhan telah mengasihi aku? Yesus menghendaki keterbukaan, baik di dalam keluarga maupun komunitas kita. Bagaimana kenyataan dalam komunitasku dan apa sumbangsihku terhadap pembangunan komunitas beriman?

(MS)