NOVENA KERAHIMAN ILAHI HARI KESEMBILAN: BERDOA BAGI JIWA YANG SUAM-SUAM KUKU

Tuhan Yesus minta kepada Suster Faustina: “Hari ini, bawalah kepada-Ku jiwa-jiwa yang suam-suam kuku, dan benamkanlah mereka di dalam lubuk kerahiman-Ku. Jiwa-jiwa ini paling nyeri melukai Hati-Ku. Karena jiwa-jiwa yang suam-suam kuku ini, jiwa-Ku merasakan kejijikan yang paling mengerikan di taman Getsemani. Merekalah yang menyebabkan Aku berseru kepada Bapa, “Bapa, ambillah piala ini dari-Ku, kalau ini memang kehendak-Mu!” Bagi mereka, harapan terakhir untuk selamat adalah berlari kepada kerahiman-Ku” (BCH 1228).
Jiwa yang suam-suam kuku terungkap dalam Kitab Wahyu: “Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku” (3:15-16). Jiwa demikian hanya akan memperoleh penghukuman. Tuhan mengingatkan: “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah” (ay 19).
Jiwa yang suam-suam kuku membuat luka Hati Tuhan menjadi nyeri. Tuhan jijik terhadap jiwa seperti ini. Harapan terakhir bagi jiwa ini hanyalah berlari kepada kerahiman Tuhan.
Faustina mengungkapkan siapa sebenarnya jiwa yang suam-suam kuku ini. Mereka adalah: 1) Jiwa-jiwa yang tidak percaya kepada Hati Yesus, terutama jiwa-jiwa yang telah Ia pilih. Jiwa ini adalah jiwa yang celaka (BCH 50). 2) Dunia yang acuh-tak-acuh terhadap Tuhan (BCH 284). 3) Jiwa yang mengabdi Tuhan namun kurang percaya kepada-Nya. Bila ada tantangan, jiwa seperti itu lari dari pertempuran (BCH 287). 4) Jiwa yang tidak tahu terima kasih atas kasih Allah yang tidak terbatas. Ia seperti sebutir debu yang menjijikkan (BCH 698). 5) Jiwa yang tampak seperti batu, selalu dingin dan acuh-tak-acuh. Jiwa seperti ini tidak pernah melihat apa-apa, selain dirinya sendiri (BCH 1284). 6) Jiwa-jiwa yang meninggalkan Yesus dan menyibukkan diri dengan hal-hal lain (BCH 1385).
Terhadap jiwa-jiwa yang disebut suam-suam kuku tersebut, Faustina berdoa kepada Yesus yang maharahim: “Yesus yang maharahim, … aku membawa jiwa-jiwa yang suam-suam kuku ini ke kemah Hati-Mu yang maharahim. Dalam api kasih-Mu yang paling murni ini, biarlah jiwa-jiwa yang beku ini, yang seperti mayat ini, yang dipenuhi dengan kejijikan ini, dapat dihidupkan kembali … tariklah mereka ke dalam nyala kasih-Mu; limpahkanlah atas mereka karunia kasih yang kudus karena bagi kuasa-Mu tidak ada hal yang mustahil” (BCH 1229).
Mungkinkah kita termasuk salah satu dari jiwa yang suam-suam kuku ini? Kalau jawabnya YA maka saat ini merupakan kesempatan yang amat baik, di samping kita mendoakan mereka, kita juga berdoa bagi diri kita sendiri. Kita harus minta pertolongan Tuhan: “Jiwa-jiwa yang meminta pertolongan kepada kerahiman-Ku, dan yang memuliakan serta memaklumkan kerahiman-Ku yang besar, pada saat kematiannya mereka akan Kuperlakukan sesuai dengan kerahiman-Ku yang tak terbatas” (BCH 379).
Sudah seharusnya kita berdoa bagi jiwa-jiwa ini, dan berdoa untuk jiwa kita juga, karena kita, mungkin, masih termasuk golongan jiwa-jiwa yang suam-suam kuku ini. Namun, lebih dari itu, kita harus bertobat: “relakanlah hatimu dan bertobatlah.” Faustina mengatakan kepada Tuhan: “Engkau telah memalingkan tatapan kudus-Mu dari para malaikat yang memberontak dan mengarahkannya kepada manusia yang bertobat” (BCH 1339).

 

(MS)