NOVENA KERAHIMAN ILAHI HARI KEDELAPAN: KITA MEMBENAMKAN JIWA-JIWA YANG BERADA DI PURGATORIUM DALAM KERAHIMAN TUHAN

Yesus minta kepada Suster Faustina: “Hari ini, bawalah kepada-Ku jiwa-jiwa yang dipenjarakan di Purgatorium, dan benamkanlah mereka dalam lubuk kerahiman-Ku. Biarlah banjir darah-Ku menyejukkan mereka yang kepanasan. Semua jiwa ini sangat Kukasihi. Mereka sedang melunasi hukuman-Ku yang adil. Engkau memiliki kekuatan untuk meringankan mereka. Ambillah segala indulgensi dari khazanah Gereja-Ku dan persembahkanlah semua itu demi mereka. Oh, kalau saja engkau tahu siksaan yang mereka derita, engkau akan terus-menerus mempersembahkan bagi mereka kemurahan hati dan melunasi hutang mereka kepada keadilan-Ku” (BCH 1226).
Dari kata-kata Tuhan tersebut, mereka yang berada di Purgatorium: kepanasan, berada dalam siksaan, sedang melunasi hukuman Tuhan yang adil, hukuman mereka bisa diringankan dengan doa dan indulgensi. Sr. Faustina memberi kesaksian tentang api penyucian sebagai “tempat berkabut yang penuh api di mana ada himpunan besar jiwa yang sedang menderita” (BCH 20).
Suster Faustina memberi kesaksian tentang jiwa-jiwa yang berada di Purgatorium: “dia dalam keadaan mengerikan, seluruh tubuhnya terbakar dengan wajahnya dipenuhi luka yang menyakitkan” (BCH 58). Pada malam berikutnya, Sr. Faustina melihat kembali jiwa yang kemarin ia lihat: “Aku melihatnya dalam keadaan yang bahkan lebih mengerikan, di tengah-tengah nyala api yang lebih berkobar-kobar, dan rasa putus asa terlukis di seluruh wajahnya” (BCH 58).
Rasul Paulus mengingatkan kepada umatnya di Korintus tentang Api Penyucian ini: “Kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api” (1Kor 3:11-15).
Inilah doa Faustina bagi mereka: “Yesus yang maharahim, … aku membawa ke kediaman Hati-Mu yang maharahim jiwa-jiwa di Purgatorium, jiwa-jiwa yang sangat Engkau kasihi, tetapi sekaligus harus melunasi hukuman yang dijatuhkan oleh keadilan-Mu. Semoga aliran Darah dan Air yang memancar dari hati-Mu memadamkan nyala api yang memurnikan itu, supaya di tempat itu pun kuasa kerahiman-Mu dapat dimuliakan” (BCH 1227). Kepada Bapa, Suster Faustina juga berdoa: “Bapa yang kekal, arahkanlah tatapan mata-Mu kepada jiwa-jiwa yang menderita di Purgatorium… Berkat sengsara Putra-Mu yang pedih, … aku mohon kepada-Mu, sudilah menyatakan kerahiman-Mu kepada jiwa-jiwa yang sedang Engkau pandang dengan mata-Mu yang adil. Pandanglah mereka hanya melalui luka-luka Yesus, Putra-Mu yang terkasih; karena kami sungguh percaya bahwa di sini tidak ada batas untuk kebaikan dan kemurahan-Mu” (BCH 1227).
Jiwa-jiwa di api penyucian amat membutuhkan doa-doa kita yang masih hidup di dunia ini. Sudah sejak jaman dahulu, Gereja menghargai peringatan akan orang-orang mati dan membawakan doa dan terutama kurban Ekaristi untuk mereka, supaya mereka disucikan dan dapat memandang Allah dalam kebahagiaan. Hanya kerahiman Tuhan yang bisa menyejukkan mereka dari kepanasan.
Bagi jiwa-jiwa yang berada dalam Api Penyucian, Sr. Faustina “memohon indulgensi untuk jiwa-jiwa di Purgatorium” (BCH 346). Gereja menganjurkan agar kita memohon indulgensi bagi jiwa jiwa yang berada di api penyucian setiap tanggal 2 Nopember dan Pesta Kerahiman Ilahi. Yesus minta kepada Sr. Faustina: “Masuklah sering-sering ke Purgatorium sebab mereka membutuhkan engkau di sana” (BCH 1738).

 

(MS)