SABDA, Minggu Prapaskah IV, 26-3-17, ORANG BUTA MELIHAT, ORANG YANG TADINYA MELIHAT MENJADI BUTA.

BACAAN

1Sam 16:1b.6-7.10-13a – “Daud diurapi menjadi raja Israel”
Ef 5:8-14 – “Bangkitlah dari antara orang mati, maka Kristus akan bercahaya atas kamu”
Yoh 9:1-41 – “Orang itu pergi, membasuh diri, dan dapat melihat”

 

RENUNGAN

  1. Penyembuhan seorang buta sejak lahir menjadi saat bagi Yesus untuk memberi pengajaran tentang proses berkembangnya iman. Orang yang buta sejak lahir tersebut, dari semula tidak tahu siapa Yesus, akhirnya ia mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah. Sedangkan orang-orang Parisi yang sejak semula mampu melihat dengan matanya, namun mereka buta terhadap kenyataan Allah yang hadir dalam diri Yesus.
  2. Pada waktu itu, kekurangan phisik (buta) dimengerti sebagai hukuman Allah atas dosa-dosa mereka. Tentu pandangan seperti ini juga menjiwai para murid Yesus. Maka Yesus membantu para muridNya untuk meluruskan pandangan mereka.
  3. Yesus mencampur tanah dengan ludah, meletakkannya pada mata orang buta tersebut, dan minta supaya ia mencuci matanya di kolam Siloam (Siloam artinya diutus). Ia pergi dan kembali dalam keadaan sembuh. Inilah tanda dari Bapa: orang buta melihat.
  4. Reaksi pertama atas kesembuhannya adalah para tetangga. Mereka ragu. Ketika ia ditanya, siapa yang menyembuhkan, ia hanya bisa menjawab: Yesus. Selanjutnya ia mengatakan: “Aku tidak tahu.”
  5. Reaksi berikutnya dari orang-orang Parisi. Penyembuhan terjadi pada hari Sabat, maka orang Parisi meradang. Yesus dianggap berdosa karena melawan hukum Sabat dan tidak datang dari Allah. Ketika ditanya tentang Yesus, orang yang sudah melek matanya itu menjawab: “Ia adalah seorang nabi.”
  6. Reaksi ketiga datang dari orang tuanya. Ketika orang tuanya dicecar tentang siapa yang menyembuhkannya, mereka tidak tahu. Keluarganya membiarkan anaknya bicara, karena sudah dewasa. Orang-orang Parisi mempunyai prinsip: siapa pun yang percaya kepada Yesus sebagai Mesias, harus disingkirkan dari sinagoga. Inilah keputusan orang-orang Parisi terhadap Yesus: Ia dicap sebagai pendosa, dan menganggap diri mereka sebagai orang saleh dan yang melakukan kehendak Allah.
  7. Iman telah tumbuh dalam diri orang buta tersebut, ketika ia menghadapi kebutaan orang Parisi. Ia menolak jalan pikiran orang Parisi dan ia mengakui Yesus datang dari Allah. Pengakuan ini membuat ia tersingkir dari Sinagoga. Dari dulu sampai sekarang, siapa pun yang percaya kepada Yesus akan mengalami nasib yang sama dengan Gurunya. Ini resiko mengikuti Yesus.
  8. Yesus tidak pernah meninggalkan orang yang disingkirkan karena namaNya. Yesus membantu orang tersebut untuk melangkah lebih maju dan bertanya: “Percayakah engkau kepada Anak Manusia?” Jawabnya: “Aku percaya, Tuhan!” Ia percaya total dan menerima segala sesuatu dari Yesus. Orang yang tadinya buta, sekarang dapat melihat. Orang Parisi yang tadinya dapat melihat, sekarang menjadi buta. Bagaimanakah aku?

 

(MS)