SABDA, Selasa, 21-3-2017 MENGAMPUNI TERUS MENERUS DAN TANPA BATAS

BACAAN

Mat 18:21-35 – “Jika kamu tidak mau megampuni saudaramu, Bapa pun tidak akan mengampuni kamu”

 

RENUNGAN

  1. Yesus telah berbicara tentang pentingnya mengampuni dan perlunya menasehati saudara. (Mat 18:15-20). Kemudian Petrus bertanya: “Sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Angka 7 menunjukkan kesempurnaan. Dalam hal ini sama dengan selalu. Yesus melampaui usulan Petrus: “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Dari kalimat tersebut, Yesus menyingkirkan setiap kemungkinan pembatasan pengampunan. Mengapa? Karena tidak imbang antara pengampunan yang kita terima dari Allah dan pengampunan yang kita berikan kepada saudara kita yang bersalah kepada kita.
  2. Dengan pengampunan yang tanpa batas, Yesus ingin membalikkan kekerasan yang tiada ujung yang memasuki dunia karena ketidak taatan Adam dan Hawa, karena pembunuhan Abel oleh Kain dan balas dendam yang dilakukan Lamekh (Kej 4:23-24). Ketika kekerasan yang tak terkendali menyerbu kehidupan, segala sesuatunya berjalan salah dan kehidupan menjadi kacau balau. Maka diperlukan pengampunan yang tanpa batas.
  3. Untuk menjelaskan pengampunan yang tanpa batas, Yesus memberi gambaran seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Hamba yang berhutang sepuluh ribu talenta, yang  jumlahnya setara dengan 164 ton emas, dihapuskan hutangnya karena “raja itu timbul belaskasihan terhadap hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.” Sedangkan hamba yang utang 100 dinar, yang setara dengan 30 gram emas, dibunuh oleh hamba yang sudah dihapuskan hutangnya tanpa belas kasihan. Ia tidak mau mengampuni walaupun temannya sudah memohon. Jadi tidak sebanding antara yang pertama dan kedua. Tidak sebanding antara pengampunan yang diberikan Allah kepada kita dengan pengampunan yang kita berikankepada saudara kita.
  4. Mungkinkah mengampuni orang yang bersalah kepada kita tanpa batas? Mungkin. Syaratnya: ia harus mengalami pengampunan dari Allah. Apa tandanya? Ia menjadi pribadi yang baru: penuh syukur dan suka cita dalam Tuhan. Ia melepaskan segala beban batin yang berupa dendam, amarah, kebencian. Ia benar-benar membangun relasi baru dengan orang-orang di sekitarnya, terutama dengan orang-orang yang melukai dia. Ia menjadi orang yang rendah hati dan bersatu erat dengan Tuhan.
  5. Cukupkah berdoa Bapa Kami: “Ampunilah kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami?” Tidak cukup. Cukupkah mengaku dosa pada imam? Tidak cukup. Cukupkah mengucapkan seruan tobat pada waktu misa: “Saya mengaku …?” Tidak cukup.Pengampunan bukan sekedar kata-kata, melainkan harus berupa tindakan nyata: membangun kembali relasi yang rusak dan menyembuhkan di kedua belah pihak. Maka belum cukup kalau kita hanya mengaku dosa kepada imam, tetapi tidak ada gerak maju untuk bertemu orang lain dan memulihkan relasi yang rusak tadi. Mendiamkan masalah bukan penyelesaian. Masalah dalam relasi dan komunikasi harus diselesaikan. Masalah bukan terletak pada orang lain, tetapi pada diri kita sendiri.

 

(MS)