SABDA, Jumat, 24-2-2017, PERKAWINAN KATOLIK: SATU DAN TAK TERCERAIKAN

BACAAN

Sir 6:5-17 – “Sahabat yang setia tiada ternilai”
Mrk 10:1-12 – “Yang dipersatukan Allah, janganlah diceraikan mansia”

 

RENUNGAN

  1. Kalau Injil kemarin mengajarkan relasi antara orang-orang dewasa dengan orang-orang kecil, lemah dan tersingkir, Injil hari ini mengajarkan tentang relasi suami-isteri yang seharusnya terjadi.
  2. Untuk mencobai Yesus, orang-orang Parisi bertanya kepadaNya: “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?” Orang Parisi tahu, bahwa Yesus mempunyai pendapat berbeda tentang perkawinan. Jika tidak, maka orang Parisi tidak akan mengajukan pertanyaan tersebut. Dari pertanyaan tersebut, nampak jelas dominasi pria terhadap wanita.
  3. Yesus tidak menjawab langsung, tetapi bertanya: “Apa perintah Musa kepada kamu?” Menurut hukum pada waktu itu: seorang suami dapat menceraikan isterinya, tetapi seorang isteri tidak bisa menceraikan suaminya. Yesus menerangkan bahwa Musa mengijinkan seorang suami menceraikan isterinya: “Karena ketegaran hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu.”
  4. Tetapi maksud Allah berbeda ketika Ia menciptakan manusia dan menolak seorang suami menceraikan isterinya: “Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Dengan pendapatNya tersebut, Yesus menghapus dominasi seorang suami terhadap isterinya, dan keduanya memiliki kesamaan.
  5. Ketika sampai di rumah, para murid menanyakan hal tersebut. Yesus menarik kesimpulan dan menegaskan kembali kesamaan hak dan kewajiban antara laki-laki dan wanita. Dengan ini Yesus menampilkan sebuah relasi baru antara laki-laki dan perempuan, antara suami dan isteri. Yesus sangat melarang perkawinan, di mana laki-laki bisa berkuasa dan semena-mena terhadap perempuan, dan sebaliknya.
  6. Banyak keluarga Kristiani yang menempuh percerian (sipil). Banyak alasan mengapa hal tersebut mesti terjadi. Salah satu alasan adalah egoisme atau mementingkan diri sendiri. Karena itu maka tidak ada kehendak dari masing-masing untuk menyesuaikan diri atau ketidakmampuan untuk saling memahami dan berkomunikasi. Masing-masing berjalan menurut jalannya sendiri.
  7. Keluarga yang sehat merupakan kebutuhan mutlak untuk pertumbuhan anak-anak yang sehat. Anak-anak yang bahagia merupakan produk dari keluarga yang bahagia. Jadi perkawinan tidak cukup hanya tidak terceraikan, tetapi harus berkualitas.

 

(MS)