SABDA, Sabtu, 31-12-16, SABDA TELAH MENJADI MANUSIA DAN TINGGAL DI ANTARA KITA

BACAAN

1Yoh 2:18-21 – “Kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus dan dianugerahi pengetahuan”
Yoh 1:1-18 – “Sabda telah menjadi daging”

 

RENUNGAN

  1. Yohanes mengawali Injilnya dengan sebuah Prolog (Kata Pendahuluan) (ay 1-18). Isinya padat dan sangat kaya, dan merupakan ringkasan Injil Yohanes. Ia mengawali dengan sebelum keberadaan Sabda dan hubungan Sabda dengan dunia: Sabda menjadi daging.
  2. Apa yang semula abstrak, tidak dapat dipahami, tidak dapat dimengerti, kini: telah menjadi nyata, dapat dipahami, dapat diketahui, karena Sabda menjadi daging; Sabda menjadi manusia. Walaupun demikian, misteri ini tidaklah mudah untuk dipahami.
  3. Manusia selalu menginginkan Sang Sabda yang menjadi manusia adalah manusia yang hebat, spektakuler, super hero, tetapi apa yang mereka lihat hanyalah manusia biasa, lemah dan miskin, tidak ada kemuliaan apapun.Tetapi Ia adalah manusia yang penuh belas kasih, yang berbicara kebenaran. Itulah yang dipilih oleh Allah untuk datang ke dunia ini.
  4. Sabda yang menjadi manusia menginginkan bersatu dengan kita dalam segala keterbatasan kita. Dengan demikian kita tidak bisa mengatakan bahwa Allah tidak memahami perjuangan kita, ketika kita difitnah, kehilangan orang yang kita cintai, menderita, dan ketika menghadapi kematian. Sesungguhnya Allah memahami perjuangan kita. Allah selalu berjalan bersama kita.
  5. Sabda Cinta Allah telah mengambil rupa sebagai manusia. Melalui tindakan penjilmaan ini, Allah dan Sabda telah menjadi Bapa dan Putera. Melalui penjilmaan ini, surga telah turun ke dunia dan terjadilah rekonsiliasi antara surga dan dunia, yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
  6. Dengan penjilmaan ini berarti: 1) Manusia dapat melihat, mendengar dan tahu siapa Allah, yang sebelumnya tidak pernah mungkin. 2) Manusia mampu menjalin keakraban dengan Allah. Dengan kenyataan ini maka kisah tentang Yesus, sebenarnya, adalah kisah tentang Allah. Ketika seseorang melihat Yesus, ia melihat Allah; ketika seseorang mendengar Yesus, ia mendengar Allah.
  7. Terhadap Sabda yang menjadi manusia, tiap orang bebas menanggapi: bisa menerima dan bisa menolak. Tetapi tiap orang tidak bisa acuh tak acuh terhadap kekuatan Sabda, karena setiap pilihan ada konsekuensinya.
  8. Penolakan terhadap Sabda yang menjadi manusia oleh umat milik Yesus sendiri, telah menjadi fakta sejarah bahwa penolakan tersebut berlangsung sampai hari ini. Kegelapan selalu berusaha untuk menguasai terang. Korupsi, egoisme, keserakahan, ketidak adilan, intoleransi, rasis dan diskriminasi, terorisme, pertengkaran dalam keluarga merupakan tanda penolakan terhadap Sang Sabda. Hal ini akan selalu terjadi ketika manusia hanya mau menangnya sendiri, merasa benar sendiri, arogan, dan sombong.
  9. Namun di tengah penolakan tersebut, masih ada harapan karena masih banyak orang yang memilih terang, tanpa pamrih memperjuangkan keadilan, banyak orang yang murah hati dengan menyumbangkan hartanya, bahkan berani kehilangan hidupnya sendiri demi meneladani Sang Sabda yang menjadi manusia. Dengan menerima terang dan bertahan untuk selalu berada dalam Sabda, telah mendatangkan rahmat demi rahmat bagi mereka. Rahmat ini telah memberi mereka keberanian untuk tidak meyerah.
  10. Mereka yang berani menerima terang dan berjalan dalam terang, mulai menyadari bahwa Allah berjalan bersama mereka dan mendahului mereka. Mereka tahu bahwa Allah tidak berada jauh dari mereka. Dalam diri AnakNya, Allah memilih untuk hidup bersama manusia di tengah kelemahan, keprihatinan dan penderitaan mereka. Allah, dalam diri Yesus, tahu suka duka hidup kita.
  11. Sabda yang menjadi manusia itu lahir dalam diri kita, ketika kita tidak mementingkan diri kita sendiri, murah hati, dan memiliki terang yang mengatasi kegelapan. Maka kita harus mampu mengubah cara hidup dan cara pandang yang negatip terhadap diri sendiri, terhadap orang lain, terhadap lingkungan, dan terhadap Allah menjadi positip.

 

REFLEKSI

Hal-hal negatip (kelemahan, dosa) apa yang harus Anda ubah, agar Anda dapat menerima secara utuh Sabda yang menjadi manusia?

 

(MS)