SABDA, Sabtu, 29 Oktober 2016 – KERENDAHAN HATI SUMBER SEGALA KEUTAMAAN

BACAAN

Flp 1:18-26 – “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (ay 21).

Luk 14:1.7-11 – “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (ay 11).

RENUNGAN

  1. Konteks. Sabda yang diucapkan Yesus dan penyembuhan yang Ia kerjakan beresiko membawa kesulitan, bahkan pembunuhan bagi Yesus. Tetapi Yesus sadar bahwa kematianNya semakin dekat. Para nabi yang mendahului Yesus juga mengalami hal yang sama. Dengan menolak Yesus sebagai orang yang diutus Allah, manusia telah menghukum dirinya sendiri dan menutup kemungkinan jalan menuju keselamatan. Tetapi harapan belumlah hilang. Masih mungkin suatu hari nanti orang akan mengenal Yesus sebagai pribadi yang datang dari Allah. Dari bab 13 Injil Lukas, membuat kita paham bahwa keselamatan bukanlah usaha manusia, tetapi semata-mata pemberian Allah.
  2. Undangan untuk makan. Yesus menerima undangan makan, walaupun Ia sadar bahwa bahaya mengancam nyawaNya. Yesus diundang oleh salah seorang pemimpin Parisi. Undangan terjadi pada hari Sabat. Selama makan orang-orang Parisi mengaamat-amati Yesus dengan harapan Yesus melakukan tindakan yang salah menurut pandangan mereka tentang hukum. Tapi tujuan sebenarnya ialah untuk menangkap Yesus dan membunuhnya.
  3. Sudah menjadi kebiasaan pada waktu itu bahwa orang ingin menampakkan diri dengan minta diundang pesta, namun banyak yg memilih tempat paling depan. Hal ini berkebalikan dengan pandangan Yesus yang mengedepankan kerendahan hati.
  4. Kerendahan hati berarti melihat diri sendiri secara benar seperti Allah melihat kita (Mzm 139:1-4), menilai diri sendiri secara realistis apa adanya. Kerendahan hati berarti tidak putus asa atau tidak sombong, tidak memakai topeng agar dilihat baik oleh orang lain, tidak goyah oleh kejadian-kejadian yang menerpa, sukses ataupun kegagalan.
  5. Kerendahan hati adalah pondasi dari segala keutamaan, karena kerendahan hati memungkinkan kita untuk melihat dengan benar, seperti cara Allah melihat diri kita. Kerendahan hati mengarahkan kita kepada kejujuran dan dedikasi, membebaskan kita untuk melayani tanpa pamrih. Paulus memberikan model kerendahan hati: “Ia telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia …. Ia telah merendahakan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp 2:7-8).
  6. Tempat yang terakhir. Bila seseorang sampai diminta untuk menyerahkan tempatnya kepada orang lain, ini dianggap sebagai perendahan dan penghinaan atas dirinya. Dan sangat memalukan bila disuruh pindah ke tempat yang lebih rendah, maka mereka memilih tempat yang terdepan. Berbeda dengan Yesus, Ia tidak mempunyai tempat (Luk 2:7). Yesus lebih memilih tempat di antara orang-orang miskin dan rendah. Inilah mengapa Allah meninggikan Dia, memuliakan Dia. Kunci menuju kemuliaan hanya satu, yaitu kerendahan hati.
  7. Apakah aku ingin menjadi pelayan seperti yang telah dibuat oleh Yesus? Apakah aku merasa direndahkan ketika aku kurang dihormati dan tidak ditempatkan sesuai dengan statusku? Aku gampang mutung?
  8. (MS)